Laba Industri China Anjlok 5,5% pada Oktober, Terburuk dalam 5 Bulan

Penerapan kebijakan tarif dagang Presiden Amerika Serikat (AS) berdampak terhadap sektor industri China.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 28 November 2025, 13:15 WIB
Ilustrasi perdagangan China, gambar mata uang Yuan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Kinerja sektor industri China kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada Oktober 2025. Data terbaru dari Biro Statistik Nasional (NBS) mengungkapkan laba perusahaan industri anjlok 5,5 persen secara tahunan, menjadi kontraksi terdalam dalam lima bulan terakhir. Hal ini dinilai menunjukkan tekanan terhadap ekonomi China.

Penurunan tajam ini sekaligus menghapus pertumbuhan dua digit yang sebelumnya sempat dinikmati industri pada Agustus dan September. Situasi ini mempertegas tekanan yang sedang menghimpit perekonomian China, yang tengah menghadapi kombinasi tantangan mulai dari ketegangan dagang dengan Amerika Serikat, lemahnya permintaan domestik, hingga melambatnya aktivitas manufaktur.

Pukulan terbesar datang ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan retorika dagang dengan mengancam tarif tambahan hingga 100% terhadap produk impor dari China, sebelum kedua negara akhirnya mencapai kesepakatan sementara di Korea Selatan pada akhir Oktober.

Di tengah ketidakpastian tersebut, para pelaku industri juga dibayangi pelemahan konsumsi dalam negeri, indikator manufaktur yang kembali menyusut, serta tekanan deflasi berkepanjangan yang terus menggerus daya beli masyarakat.

Kombinasi faktor eksternal dan internal ini membuat roda ekonomi China tersendat, dengan sejumlah sektor strategis mengalami pendapatan yang menurun drastis.

Para ekonom menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu fase pelemahan paling menantang sejak pandemi berakhir, dan memperkirakan pemulihan tidak akan berlangsung cepat tanpa dukungan stimulus yang lebih besar dari pemerintah.

Laba Industri Tertekan Dampak Ketegangan Dagang dan Lemahnya Permintaan

NBS mencatat, sepanjang Januari–Oktober 2025, laba perusahaan industri besar hanya tumbuh 1,9 persen, melambat dibanding periode Januari–September yang tumbuh 3,2 persen.

Sektor pertambangan menjadi yang paling terpukul dengan penurunan laba 27,8 persen. Sebaliknya, sektor manufaktur dan utilitas mencatat pertumbuhan masing-masing 7,7 persen dan 9,5 persen.

Performa pembuat mobil sedikit membaik dengan kenaikan laba 4,4 persen, naik dari 3,4 persen pada sembilan bulan pertama. Namun, perusahaan milik negara tidak mencatatkan pertumbuhan sama sekali.

Kepala Ahli Statistik NBS, Yu Weining menuturkan, penurunan tajam Oktober dipicu efek dasar tinggi tahun lalu serta peningkatan belanja perusahaan.

Kontraksi Manufaktur Kian Dalam

Ilustrasi Manufaktur ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion

Aktivitas manufaktur China pada Oktober kembali tergelincir di bawah level ekspansi. PMI manufaktur resmi turun menjadi 49,0, level terendah dalam enam bulan. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi.

Kontraksi ini terjadi bahkan setelah adanya kelonggaran dari kesepakatan dagang antara Trump dan Presiden China Xi Jinping. Namun, efek perjanjian tersebut belum cukup untuk menahan tekanan akibat konsumsi domestik yang melemah dan ketidakpastian global.

China juga meningkatkan tensi geopolitik dengan memberi sinyal akan melarang seluruh impor makanan laut dari Jepang, memperburuk dinamika perdagangan regional.

 

Inflasi Menguat, Namun Ilusi?

Ilustrasi Inflasi (Sumber: Freepik)

Harga konsumen China naik 0,2 persen pada Oktober setelah hampir setahun berada di wilayah negatif. Inflasi inti melonjak 1,2 persen, tertinggi sejak Februari 2024.

Namun Ting Lu, Kepala Ekonom China di Nomura Bank, memperingatkan bahwa angka tersebut menyesatkan. Ia menyebut seperempat inflasi inti didorong kenaikan harga emas, bukan konsumsi domestik.

“hampir tidak ada hubungannya dengan konsumsi lokal tetapi terutama disebabkan oleh melonjaknya harga emas," jelas Lu.

Lu bahkan menilai ekonomi China telah berada dalam “resesi moderat” sejak akhir 2022, dan proses keluar dari tekanan deflasi akan memakan waktu lebih lama.

“Penurunan harga sewa yang diremehkan juga berkontribusi terhadap pernyataan berlebihan data inflasi utama,” kata Lu.

“Akan butuh waktu lebih lama bagi Tiongkok untuk benar-benar keluar dari dilema deflasi yang dihadapinya saat ini, terutama karena pertumbuhan ekonominya telah tersendat sejak pertengahan 2025,” tambahnya.

 

Ekonomi Kehilangan Momentum

Ilustrasi Ekonomi. (Foto: Jakub Żerdzicki/Unsplash)

Pada kuartal ketiga, ekonomi China hanya tumbuh 4,8 persen. Data awal kuartal keempat menunjukkan perlambatan lebih lanjut.

Penjualan ritel tumbuh hanya 2,9 persen pada Oktober, terlemah dalam lebih dari setahun,investasi aset tetap turun 1,7 persen, penurunan pertama sejak 2020, output industri naik 4,9 persen, lebih rendah dari perkiraan, pengangguran kota bertahan di 5,1 persen.

 Stimulus Ditahan, Target Pertumbuhan Tetap

Meski tekanan meningkat, pemerintah China belum meluncurkan stimulus besar. Para analis menilai Beijing ingin menjaga jalur untuk mencapai target pertumbuhan "sekitar 5 persen” tahun ini.

Menurut Larry Hu, Kepala Ekonom China di Macquarie Group, pertumbuhan 5 persen masih memungkinkan pada 2026 berkat ekspor yang kuat.

“Para pembuat kebijakan tidak ingin melewatkan atau melampaui target tersebut,” kata Larry Hu, kepala ekonom Tiongkok di Macquarie Group, yang memperkirakan ekonomi Tiongkok dapat terus tumbuh 5 persen pada tahun 2026 berkat pertumbuhan ekspor yang kuat.

Namun ia memperingatkan bahwa “tekanan deflasi” akan terus membebani pemulihan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya