Indonesia Siap Kirim 20 Ribu Pasukan Perdamaian ke Gaza, Dino Patti Djalal: Misi Wajib Didukung Semua Pihak

Dino Patti Djalal berbicara dalam Press Briefing menuju Conference on Indonesian Foreign Policy 2025 (CIFP).

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 25 November 2025, 13:31 WIB
Pendiri FPCI Dino Patti Djalal pada Selasa (25/11/2025) menyoroti pentingnya kerangka perdamaian yang disepakati oleh seluruh pihak yang bertikai di Gaza (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty).

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, merespons rencana pemerintah Indonesia untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Gaza.

Ia menilai gagasan tersebut menunjukkan sikap diplomasi aktif Indonesia terhadap isu Palestina, namun harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi dan landasan mandat yang jelas.

Menurut Dino, sebelum pasukan dikirim, pemerintah harus memastikan adanya mandat tegas dan detail dari PBB, mulai dari tujuan misi hingga batasan operasi di lapangan.

Tanpa mandat yang jelas, pasukan penjaga perdamaian dapat menghadapi risiko terseret ke dalam konflik bersenjata yang dinamis dan penuh ketidakpastian.

“Sebelum pasukan dikerahkan, harus jelas apa mandatnya. Mulai dari apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh, dan bagaimana aturan operasinya,” ujarnya.

Dino menekankan bahwa misi penjaga perdamaian bukan hanya soal bantuan moral atau solidaritas internasional, tetapi merupakan operasi militer berskala besar yang harus memiliki kerangka hukum internasional.

Damai Gaza Harus Disetujui Semua Pihak

Selain mengenai pasukan perdamaian, Dino juga menyoroti pentingnya kerangka perdamaian yang disepakati oleh seluruh pihak yang bertikai di Gaza, termasuk kelompok-kelompok yang memiliki pengaruh langsung di lapangan.

Ia memperingatkan bahwa kesepakatan damai tidak akan efektif jika ada pihak yang menolaknya atau tidak merasa terlibat dalam penyusunannya. Karena itu, ia menekankan pentingnya melibatkan seluruh aktor, baik negara maupun kelompok non-negara, dalam proses perundingan.

“Perjanjian damai harus mencakup semua pihak yang bertikai. Kalau ada pihak yang tidak ikut menyetujui, maka gencatan senjata tidak akan bertahan lama,” tegasnya.

 

Solusi Dua Negara

Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak 10 Oktober 2025 lalu, pembatasan akses yang diberlakukan, terutama oleh Israel, terus menghambat penyaluran bantuan yang efektif ke wilayah yang sangat membutuhkan. Tampak dalam foto, warga Palestina yang terlantar, anak-anak, dan dewasa, menunggu makanan di sebuah tempat penampungan yang telah dihuni keluarga-keluarga di Nuseirat, pusat Jalur Gaza, pada 23 November 2025. (EYAD BABA/AFP)

Dino menilai bahwa kerangka perdamaian di Gaza harus mengarah pada solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalur diplomasi jangka panjang yang bertujuan mewujudkan kedaulatan Palestina sekaligus stabilitas keamanan Israel.

Rencana mengirim pasukan ke Gaza menunjukkan sikap baru Indonesia yang lebih aktif dan proaktif dalam mendorong penyelesaian konflik Timur Tengah.

Meski demikian, Dino menegaskan bahwa keberanian diplomasi tersebut harus diimbangi dengan perhitungan strategis agar tidak justru menimbulkan risiko baru bagi Indonesia maupun komunitas internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya