AS Konfirmasi Penjualan Sistem Rudal Pertahanan Udara Senilai Rp11,7 Triliun ke Taiwan

AS diwajibkan oleh undang-undangnya untuk membantu Taiwan membela diri, meskipun keduanya tidak punya hubungan diplomatik resmi.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 20 November 2025, 15:02 WIB
Sebuah peluncur rudal permukaan-ke-udara NASAMS terlihat selama proses produksi di lini perakitan pabrik senjata Kongsberg Defence & Aerospace di Norwegia pada 30 Januari 2023. (Dok. Petter Berntsen/AFP)   

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan bahwa mereka menjual sistem rudal canggih senilai hampir USD 700 juta atau sekitar Rp11,7 triliun kepada Taiwan. Rudal ini sudah terbukti efektif di perang Ukraina. Penjualan ini adalah paket senjata kedua dalam satu minggu, sehingga total nilai penjualan kepada Taiwan mencapai USD 1 miliar. Melalui keputusan ini, AS kembali menunjukkan dukungan kuatnya kepada Taiwan.   

Di wilayah Indo-Pasifik, hanya Australia dan Indonesia yang sudah memakai sistem rudal itu. Tahun lalu, Amerika Serikat mengatakan bahwa Taiwan juga akan mendapatkan tiga unit sistem yang sama.

National Advanced Surface-to-Air Missile System (NASAMS), solusi pertahanan udara jarak menengah seperti yang disebutkan, dibuat oleh RTX dan merupakan senjata baru bagi Taiwan.

Pentagon mengatakan bahwa perusahaan itu mendapat kontrak dengan harga yang sudah ditetapkan sejak awal untuk membuat unit NASAMS dan pekerjaan itu diperkirakan akan selesai pada Februari 2031.   

"Dana dari Taiwan yang dikelola lewat program FMS tahun fiskal 2026, sebesar USD 698,9 juta, telah dialokasikan oleh pihak AS untuk kontrak tersebut," ungkap Pentagon seperti dikutip dari CNA.

NASAMS, yang telah digunakan Ukraina untuk menghadapi invasi Rusia, memberikan peningkatan besar pada kemampuan pertahanan udara. Kini Amerika Serikat mengekspor sistem itu ke Taiwan karena permintaannya semakin tinggi.

"Sudah seharusnya jelas hari ini dan akan tetap jelas di masa depan bahwa komitmen AS kepada Taiwan adalah kokoh," kata Duta Besar de facto AS di Taipei Raymond Greene dalam sebuah acara Kamar Dagang AS di Taiwan pada Selasa (18/11).

"Kami mendukung kata-kata ini dengan tindakan, dengan fokus pada mendukung upaya Taiwan untuk mencapai perdamaian lewat kekuatan. Tak ada yang lebih mencerminkan hal ini selain kerja sama industri pertahanan kami yang semakin berkembang."

 

 

 

Dukungan Tak Goyah

Persetujuan AS pada Kamis (13/11) atas penjualan suku cadang jet tempur dan pesawat lainnya kepada Taiwan senilai USD 330 juta merupakan kesepakatan pertama sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari, yang memicu ucapan terima kasih dari Taipei dan kemarahan dari Beijing.

Berita penjualan senjata ini muncul di tengah memburuknya krisis diplomatik antara China dan Jepang terkait Taiwan, yang diklaim China sebagai wilayahnya.

Pada Minggu (16/11), kapal-kapal penjaga pantai China berlayar melalui perairan di sekitar sekelompok pulau di Laut China Timur yang dikendalikan Jepang, namun diklaim oleh China.

Jepang mengatakan mereka juga mengerahkan jet tempur pada Sabtu (15/11), setelah China menerbangkan drone di antara Taiwan dan pulau Jepang yang paling barat, Yonaguni.

Ditanya mengenai ketegangan tersebut pada Rabu (19/11), Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan China tidak seharusnya menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan perselisihan.

"China seharusnya meninggalkan pemikiran untuk menggunakan kekuatan dalam menyelesaikan sesuatu," katanya kepada para wartawan.

Militer Taiwan terus memperkuat persenjataannya agar lebih siap menghadapi kemungkinan serangan dari China. Salah satu upayanya adalah membangun kapal selam buatan sendiri untuk melindungi jalur suplai maritim yang sangat penting.   

Sementara itu, menurut Taiwan, militer China beroperasi hampir setiap hari di sekitar wilayahnya dalam strategi wilayah abu-abu — yaitu tindakan provokatif yang tidak sampai memicu perang langsung, tetapi tetap bertujuan menguji dan melelahkan pasukan Taiwan.   

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya