Korea Utara: Kesepakatan Kapal Selam Korea Selatan–AS Akan Picu Efek Domino Nuklir

Tensi tinggi masih menyelimuti kawasan Semenanjung Korea.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 November 2025, 08:00 WIB
Ilustrasi Korea Utara. (Dok. AP)

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara mengecam kesepakatan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Melalui media pemerintah pada Selasa (18/11/2025), Pyongyang mengatakan bahwa perjanjian itu akan memicu efek domino nuklir.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengumumkan finalisasi kesepakatan keamanan dan perdagangan yang telah lama ditunggu-tunggu dengan Amerika Serikat pekan lalu, termasuk rencana untuk melangkah maju dalam pengembangan kapal selam bertenaga nuklir.

Korea Selatan mengatakan pihaknya telah mendapatkan dukungan untuk memperluas kewenangan atas pengayaan uranium dan pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas.

Dalam komentar pertamanya menanggapi kesepakatan tersebut, Korea Utara yang memiliki senjata nuklir membalas bahwa program kapal selam itu merupakan upaya konfrontasi yang berbahaya.

"Perjanjian tersebut adalah perkembangan serius yang mengacaukan situasi keamanan militer di kawasan Asia-Pasifik, melampaui Semenanjung Korea, dan menyebabkan kondisi di mana pengendalian nuklir menjadi mustahil dalam lingkup global," bunyi pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Selasa, seperti dikutip dari CNA.

"Kepemilikan kapal selam nuklir oleh Korea Selatan pasti akan menyebabkan fenomena domino nuklir di kawasan dan memicu perlombaan senjata yang panas."

Komentar tersebut muncul hanya sehari setelah Seoul mengusulkan pembicaraan militer dengan Pyongyang untuk mencegah bentrokan di perbatasan, tawaran pertama dalam tujuh tahun.

Presiden Lee juga telah menawarkan untuk mengadakan diskusi yang lebih luas dengan Korea Utara tanpa prasyarat, sebuah perubahan tajam dari sikap keras yang diambil oleh pendahulunya yang konservatif.

Korea Utara belum menanggapi ajakan Lee tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya