Perkuat Neraca Keuangan, Intip Strategi Pendanaan Anak Usaha DOID

Bukit Makmur Mandiri Utama terus menjalankan strategi pendanaan yang disiplin dan terdiversifikasi, memastikan akses ke berbagai sumber pembiayaan, termasuk fasilitas perbankan konvensional dan syariah.

oleh Septian DenyDiterbitkan 18 November 2025, 19:16 WIB
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak usaha PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID; BUMA International Group) terus menjalankan strategi pendanaan yang disiplin dan terdiversifikasi, memastikan akses ke berbagai sumber pembiayaan, termasuk fasilitas perbankan konvensional dan syariah, Sukuk, obligasi USD dan Rupiah, serta pembiayaan leasing.

Direktur BUMA Silfanny Bahar mengatakan, pendekatan yang seimbang ini menjaga fleksibilitas keuangan dan menempatkan BUMA pada posisi yang kuat untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa depan.

sebelumnya, BUMA telah menyelesaikan pelunasan penuh lebih awal (full early redemption) atas sisa Senior Notes 2026 senilai USD 212,25 juta dengan kupon tetap 7,75%, mendahului jatuh temponya pada Februari 2026.

Pelunasan lebih awal ini mencerminkan pendekatan proaktif BUMA dalam mengelola liabilitas, meningkatkan likuiditas, memperkuat fleksibilitas struktur permodalan, serta memperkokoh profil kredit dan kepercayaan investor kepada perusahaan.

“Pelunasan Senior Notes 2026 yang kami percepat ini merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko pembayaran jangka pendek dan memperkuat posisi likuiditas BUMA, menegaskan kembali kedisiplinan kami dalam pengelolaan modal," kata dia, Selasa (18/11/2025)

Senior Notes 7,75% tersebut awalnya diterbitkan pada Februari 2021 dengan nilai pokok USD 400 juta, dan kemudian diamendemen melalui perjanjian tambahan pada Juni 2022 dan Maret 2024. Dengan pembayaran ini, seluruh sisa obligasi telah dilunasi sepenuhnya, dan bunga tidak lagi berjalan, menandai selesainya kewajiban atas Senior Notes 2026.

Transaksi ini sebagian besar didanai melalui fasilitas sindikasi BUMA yang bekerja sama dengan sejumlah bank terkemuka di Indonesia, termasuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk. Hal ini mencerminkan kepercayaan kuat dari institusi keuangan terhadap BUMA serta akses Perusahaan yang tetap solid terhadap likuiditas.

 

 

"Senior Notes tersebut telah mendukung berbagai inisiatif strategis BUMA dalam beberapa tahun terakhir, dan kami berterima kasih kepada para pemegang obligasi atas kepercayaannya," lanjut dia.

 

Laporan Keuangan

IHSG menguat 24,13 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada level 7.196,75. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) merilis laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit untuk paruh pertama 2025. Setelah kuartal pertama terdampak gangguan operasional besar serta cuaca ekstrem, perusahaan berhasil membukukan pemulihan pada kuartal kedua, didorong peningkatan produksi, efisiensi, dan arus kas bebas yang kembali positif, meski curah hujan masih menjadi tantangan.

Secara year-on-year (YoY), kinerja Semester I 2025, mencerminkan dampak gangguan pada kuartal I 2025. 

Melansir data laporan keuangan Perseroan pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/10/2025), Overburden removal mencapai 209 juta bcm, turun 23% YoY, dan produksi batu bara 38 juta ton, turun 10% YoY. Penurunan ini dipicu cuaca ekstrem serta penghentian operasional akibat insiden keselamatan oleh pihak lain di kuartal pertama.

Pendapatan tercatat USD 730 juta, turun 15% YoY karena volume lebih rendah, meski sebagian ditopang kenaikan harga jual rata-rata 3% YoY dan kontribusi bisnis kepemilikan tambang. EBITDA Semester I 2025 sebesar USD 64 juta dengan margin 11%, dibanding 22% pada Semester I 2024. 

Grup mencatat rugi bersih USD 74,21 juta juta akibat EBITDA lebih rendah dan pencadangan piutang di Australia, meski dampaknya sebagian tertutupi oleh pergerakan nilai tukar, keuntungan investasi di 29Metals, beban bunga lebih rendah, manfaat pajak lebih besar, serta depresiasi yang menurun.

Belanja modal naik 40% YoY menjadi USD 111 juta, dengan alokasi USD 53 juta untuk pengembangan dan USD 58 juta untuk pemeliharaan. Arus kas bebas berbalik positif USD 5 juta, dari sebelumnya negatif USD 47 juta pada Semester I 2024.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya