Jerit Ketakutan Puluhan Santri di Kudus, saat Belajar Mengaji Nyaris Jadi Korban Atap Sekolah Ambruk

Puluhan santri nyaris jadi korban atap sekolah ambruk. Sore itu, hembusan angin sangat kencang. Membuat atap utama tersingkap dan terbuka. Bersamaan itu pula, air hujan langsung menerobos dan merobohkan plafon yang berada di bawah atap.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 18 November 2025, 13:36 WIB
Atap gedung SD ambruk diterjang hujan badai di Kudus. (Liputan6.com/Arif Pramono)

Liputan6.com, Jakarta Sekitar 20 santri berteriak ketakutan saat atap Sekolah Dasar Islam Nurul Yasin, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus, ambruk pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 16.30 WIB. Beruntung puluhan siswa santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang saat itu sedang belajar mengaji, berhasil selamat.

Tragedi ambruknya atap bangunan sekolah karena material bangunannya sudah tak layak. Robohnya atap ruang kelas karena seng galvalum dan rangka baja ringan penyangga banyak diterjang angin.

“Awalnya ada suara keras ketika atap yang terbuat dari seng galvalum dan baja ringan tersingkap,” ujar Kepala SD Islam Nurul Yasin Mejobo Kudus, Santika Latsarwati yang ditemui Selasa (18/11/2025).

Sore itu, hembusan angin sangat kencang. Membuat atap utama tersingkap dan terbuka. Bersamaan itu pula, air hujan langsung menerobos dan merobohkan plafon yang berada di bawah atap.

“Alhamdulillah, semua selamat, tidak ada korban. Saat kejadian berlangsung, puluhan santri TPQ panik dan menjerit ketakutan, " terang Santika.

Tak ingin nyawa puluhan santri menjadi taruhan, sejumlah guru TPQ sigap menolong dan memindahkan mereka ke ruang kelas yang kondisinya aman.

Usai kejadian, sejumlah guru dan warga pun bergotong royong membersihkan bekas reruntuhan atap plafon dan material bangunan lainnya.

Tak ketinggalan, barang barang yang berada di ruang kelas yang atapnya jebol juga dipindahkan ke ruang kelas lainnya. Barang tersebut berupa bangku, lemari dan buku-buku.

Atap gedung SD ambruk diterjang hujan badai di Kudus. (Liputan6.com/Arif Pramono)

Sekolah Dipakai Bergantian

Dari pantauan Liputan6.com di lokasi, keberadaan bangunan sekolah selama ini digunakan secara bergantian untuk siswa SD dan santri TPQ. Yakni saat pagi hingga siang hari digunakan aktifitas belajar mengajar SD. Selanjutnya pada sore harinya digunakan untuk TPQ.

Lokasi gedung SD dan TPQ ini berada di tengah-tengah areal persawahan yang agak jauh dari pemukiman. Karena itu, bangunan sekolah ini sangat rawan diterjang bencana angin kencang.

Agar aktivitas belajar mengajar dan mengaji tetap berjalan, pihak sekolah memindahkan sementara ke sejumlah ruang kelas lainnya.

Atas Kondisi yang terjadi, Santika pun mengharapkan bantuan dari Pemkab Kudus. Serta berharap kepada pihak terkait untuk membantu perbaikan atap ruangan kelas yang rusak.

“Kami berharap bisa segera dimanfaatkan lagi untuk kegiatan belajar mengajar, baik siswa SD maupun Santri TPQ,” tutup Santika. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya