Cerita Mengerikan Peneliti yang Hampir Tewas Digigit Hiu

Hiu itu menyerang bagian kepala peneliti. Kini, luka itu masih membekas di bagian wajahnya.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 17 November 2025, 15:02 WIB
Ilustrasi hiu (AFP)

Liputan6.com, Mexico City - Mauricio Hoyos masih ingat betul bagaimana rahang hiu Galapagos betina sepanjang lebih dari 3 meter itu mencengkeram kepalanya. Serangan itu datang secepat kilat, nyaris tak memberinya waktu untuk menundukkan kepala demi melindungi vena jugularisnya.

“Ketika hiu itu menutup rahangnya, saya merasakan tekanan gigitannya. Sesaat kemudian, ia membuka mulutnya dan melepaskan saya,” tuturnya kepada BBC Mundo dari rumahnya di Baja California, Meksiko—lebih dari sebulan setelah ia selamat dari insiden yang hampir merenggut nyawanya.

Hoyos bukanlah penyelam biasa. Ia adalah ahli biologi kelautan dengan pengalaman lebih dari 30 tahun mempelajari hiu di lautan lepas. Pada September lalu, saat tengah menjalankan penelitian di perairan Kosta Rika, ia justru menjadi sasaran hewan yang telah lama ia teliti.

Meski wajahnya masih dipenuhi bekas luka, ia menyebut pemulihannya “luar biasa”—bahkan ia berharap dapat kembali bertemu hiu yang menyerangnya, dikutip dari laman BBC, Senin (17/11/2025).

Serangan yang Bermula dari Respons Alami

Menurut Hoyos, apa yang terjadi padanya hari itu di perairan Pulau Cocos bukanlah perilaku agresi yang disengaja, melainkan respons alami hewan yang merasa terancam.

“Kalau saya harus menjelaskannya, gigitannya seperti gigitan anjing,” katanya. “Seperti saat seekor anjing menggigit cepat untuk memperingatkan anjing lain yang datang terlalu dekat.”

Saat itu, Hoyos dan timnya tengah memasang penanda akustik pada hiu untuk mempelajari lokasi kawin dan pemijahan. Seorang wisatawan memberi tahu bahwa ada seekor hiu besar di kedalaman 40 meter. Hoyos pun memutuskan turun ke air “tidak lebih dari lima menit”.

Ia mulai menyelam perlahan sampai mendapati hiu betina sepanjang 3–3,5 meter itu berenang mendekat.

Tatapan Hiu yang Tak BiasaHoyos sudah menandai berbagai jenis hiu sepanjang kariernya. Namun kali ini berbeda.

“Ujung logam penanda masuk ke pangkal sirip punggungnya. Biasanya, hiu lain langsung pergi setelah ditandai. Tapi yang ini berbalik dan menatap saya,” kenangnya.

“Ia melihat saya dengan mata kecilnya, sangat tenang. Saya juga menatapnya sambil perlahan mundur.”

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sekejap. Tanpa peringatan, hiu itu menerjang.

“Saya menundukkan kepala. Rahang bawahnya menancap di pipi saya dan rahang atasnya di kepala saya. Saya hanya berada di dalam rahangnya sesaat… lalu ia melepaskan saya,” ujarnya.

Gigitan itu meninggalkan luka dalam dan memutus selang udara penyelamannya. Salah satu gigi hiu bahkan merobek masker selamnya. Sang ahli biologi laut selamat dari serangan itu—namun makin terancam karena kehabisan udara dan kehilangan penglihatan akibat darah yang memenuhi topengnya.

 

 

Bertarung Melawan Waktu

Ilustrasi mimpi, ikan hiu. (Photo by David Clode on Unsplash)

Ketika sadar selang utama tak lagi berfungsi, ia beralih ke octopus, cadangan selang udara. Namun regulatornya rusak dan hanya memuntahkan udara bebas.

“Saya harus mengatur udara dengan bibir, seperti latihan darurat yang sudah lama kami pelajari,” katanya.

Dengan pandangan nyaris gelap dan udara bocor, Hoyos memahami bahwa ia hanya punya waktu kurang dari satu menit untuk mencapai permukaan.

“Saya hanya mencari cahaya—itu satu-satunya penanda arah ke permukaan. Saya berenang perlahan, sangat terkoordinasi, agar tidak memancing respons hiu.”

Begitu muncul di permukaan, seorang pemuda menariknya ke atas perahu. Kapten segera menghubungi penjaga taman untuk meminta bantuan.

Rasa sakit baru benar-benar ia rasakan beberapa waktu kemudian.

“Gigitannya sendiri tidak terlalu sakit karena adrenalin. Yang paling menyakitkan adalah benturannya. Seekor hiu 3 meter menghantam Anda dengan kecepatan seperti itu—rasanya seperti ditabrak mobil,” katanya.

Ia mengalami memar besar di seluruh rahang, bahkan sempat mengira tulang rahangnya patah.

Beruntung, tim medis sudah menunggunya di dermaga. Meski mengalami luka dalam, tidak ada infeksi dan pemulihannya berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Pemulihan Saya Luar Biasa”Dokter mengatakan keadaannya nyaris mustahil.

“Serangannya terjadi tanggal 27 September. Setelah perjalanan 34 jam, mereka melakukan operasi mengangkat jaringan rusak. Dua hari kemudian mereka sudah menilai apakah operasi rekonstruksi bisa dilakukan,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, korban gigitan hiu Galapagos di lokasi yang sama pada 2017 harus dirawat di ruang hiperbarik hampir sebulan karena lukanya tak kunjung sembuh.

“Mereka bilang pemulihan saya luar biasa. Dokter sangat khawatir soal infeksi karena luka di wajah bisa menyebar langsung ke otak.”

 

Kembali Menyelam dan Tetap Membela Hiu

Ilustrasi hiu. (Pixabay)

Dengan senyum lebar, Hoyos mengaku sudah memesan perjalanan menyelam pada 14 November. Pengalaman traumatis itu justru membuatnya makin menghargai hewan yang selama ini ia teliti.

“Banyak orang berpikir lautan akan lebih baik tanpa hiu. Mereka hanya berkata begitu karena tidak paham peran penting hiu menjaga keseimbangan ekosistem.”

Sambil menunjuk luka besar di pipinya, ia berkata, “Luka ini buktinya. Hiu betina itu, dalam cara yang aneh, justru menyelamatkan hidup saya. Luka ini membantu saya tetap bisa berbicara tentang pentingnya konservasi hiu.”

Sementara itu, hiu Galapagos yang menggigitnya kembali menjalani hidup di kedalaman laut. Dan karena Hoyos sempat menandainya sebelum diserang, ia yakin peluang bertemu lagi tetap ada.

“Bulan Januari nanti saya kembali ke Pulau Cocos, dari tanggal 20 sampai 27. Dan tentu saja saya akan menyelam lagi di Roca Sucia—tempat serangan terjadi,” katanya, tanpa gentar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya