Liputan6.com, Wellington - Beberapa sekolah di Selandia Baru ditutup sementara dan ratusan fasilitas pendidikan meminta saran kepada pejabat setelah ditemukan asbes pada sejumlah merek pasir mainan berwarna yang banyak digunakan anak-anak.
Pekan lalu, kementerian yang menangani urusan bisnis, inovasi, dan ketenagakerjaan mengonfirmasi bahwa penarikan sukarela sedang dilakukan terhadap dua merek pasir berwarna yang dijual di Selandia Baru. Langkah ini diambil setelah hasil pengujian di Australia menemukan adanya asbes pada produk serupa yang beredar di negara tersebut.
Advertisement
Penarikan produk tersebut kemudian diperluas pada Sabtu (15/11/2025). Lembaga independen yang menaungi para profesional di bidang manajemen asbes di Australia dan Selandia Baru, Faculty of Asbestos Management of Australia and New Zealand (FAMANZ), menemukan jenis asbes tremolit pada empat produk pasir tambahan—yakni set bangunan istana pasir berisi 14 bagian serta set Magic Sand berwarna biru, hijau, dan merah muda—yang semuanya dijual di jaringan ritel besar Kmart.
"Pengujian terhadap berbagai produk serupa sedang berlangsung, jadi pada titik ini kami tidak bisa memastikan apakah ini satu-satunya produk yang terkontaminasi," kata juru bicara kementerian untuk keselamatan produk, Ian Caplin, pada Sabtu seperti dikutip dari The Guardian.
Asbes tremolit adalah salah satu jenis asbes yang secara alami memang terdapat di alam. Komisi Persaingan dan Konsumen Australia menjelaskan bahwa dalam pengujian mereka, tidak ditemukan partikel asbes berukuran sangat halus yang dapat masuk ke paru-paru. Mereka juga menyatakan bahwa serat asbes tidak mudah terlepas ke udara kecuali pasir tersebut dihancurkan atau digerus.
"Risiko bahwa setiap asbes yang ditemukan kemungkinan menjadi udara atau cukup halus untuk terhirup adalah rendah," demikian pernyataan mereka.
Meski risikonya dinilai rendah, pejabat di Australia dan Selandia Baru tetap meminta penyedia layanan pendidikan dan individu yang telah membeli produk tersebut untuk segera berhenti menggunakan pasir itu dan mengikuti panduan resmi mengenai cara membuangnya dengan aman.
Kementerian Pendidikan Selandia Baru menyampaikan bahwa hingga Minggu (16/11), sudah ada 150 sekolah dan 90 pusat pendidikan anak usia dini yang menghubungi pejabat untuk meminta saran terkait penemuan asbes ini.
Langkah Pencegahan
Kementerian belum dapat memastikan berapa banyak sekolah dan prasekolah yang tutup pada Senin (17/11). Namun, sejumlah sekolah telah mengumumkan penutupan melalui situs web serta unggahan di media sosial mereka.
Clearview Primary di Rolleston, Pulau Selatan, memberi tahu para orang tua bahwa sekolah ditutup hingga tiga hari sebagai langkah pencegahan yang sangat hati-hati.
"Kelas-kelas akan diuji secara profesional untuk mendeteksi keberadaan asbes," ungkap sekolah tersebut.
Tuia Burnside Primary School di Christchurch pun mengumumkan penutupan pada Senin.
"Meskipun risiko bagi staf dan siswa kami dianggap sangat rendah, WorkSafe telah menyarankan kami untuk tutup besok sebagai tindakan pencegahan sehingga kami dapat menyelesaikan pengujian dan memastikan semua ruang belajar aman," demikian unggahan mereka di Facebook.
Juru bicara kementerian pendidikan, Sean Teddy, mengatakan bahwa kekhawatiran dari orang tua dan pengasuh sangat dapat dipahami mengingat temuan ini.
"Kami merekomendasikan mereka menghubungi Healthline jika memiliki kekhawatiran kesehatan tentang anak-anak mereka yang mungkin telah bersentuhan dengan produk ini," kata Teddy.
Selain di Selandia Baru, lebih dari 70 sekolah dan prasekolah negeri di Australian Capital Territory, Australia, juga ditutup setelah adanya peringatan serupa.