Danantara Ingin Dua Ekspatriat Bisa Beri Pelajaran ke Direksi Muda Garuda Indonesia

Danantara menyebutkan, pengembangan talenta muda di jajaran direksi Garuda Indonesia juga perlu dilakukan.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 15 November 2025, 12:39 WIB
Pesawat Garuda terparkir di landasan pacu Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Banten, Rabu (17/11/2021). Maskapai Garuda Indonesia akan menutup 97 rute penerbangannya secara bertahap hingga 2022 mendatang bersamaan dengan proses restrukturisasi yang tengah dilakukan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tak hanya memberi peran transformasi ke dua ekspatriat dalam jajaran direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Namun, ada upaya untuk pengembangan talenta muda lainnya.

Managing Director Danantara, Febriany Eddy menyampaikan pengembangan talenta muda di jajaran direksi Garuda juga perlu dilakukan. Utamanya bagi orang-orang yang berkarir di dalam Garuda Indonesia.

"Pak Mukhtaris, Pak Dani Haikal, Rino dan juga Reza. Empat ini adalah talenta original organic dari dalam Garuda, dan empat ini masih muda. Muda-muda, talenta muda Garuda. Karena kita mau mengirimkan pesan bahwa kita juga commit mendevelop internal talent Garuda," ungkap Febriany dalam temu media di Wisma Danantara, dikutip Sabtu (15/11/2025).

Pesan pengembangan ini pula yang ditegaskan Danantara kepada dia ekspatriat, Balagopal Kunduvara dan Neil Raymond Mills. Harapannya, keduanya bisa memberikan contoh bagi direksi lain.

"Jadi Bala dan Niel sudah dikasih pesan bahwa Anda enggak di sini selamanya. Anda selain membantu transformasi Garuda adalah men-coaching, men-develop talenta-talenta ini untuk bisa naik," ujarnya.

"Harapan kita tentu ada anak-anak muda lagi dari Garuda Group yang akan menjadi pemimpin di dalam waktu yang cukup dekat. Jadi ini suatu contoh," Febriany menambahkan.

Tidak Ada Perbandingan

Febriany menyadari, pengembangan talenta, banyak orang yang menjajaki karier di satu lembaga saja. Dengan begitu, dinilai tidak ada benchmark 

"Karena satu symptoms yang kita lihat di dalam Garuda Group adalah Garuda terutamanya sebagian besar itu seumur hidupnya hanya pernah bekerja di Garuda top. Jadi tidak ada benchmark bagaimana di luarnya seperti apa, hanya ada satu referensi Garuda way," tutur dia.

Hal ini pula yang mendasari perombakan jajaran dewan direksi, lengkap dengan dua ekspatriat didalamnya. "Nah itu kenapa dibikin set pemimpin seperti ini. Jadi ini bukan asal comot, dipikirin baik-baik, di-planing, karena menurut kita transformasi dimulai dari pemimpinnya," tandas Febriany.

 

Misi Dua Ekspatriat

Pemandangan pesawat Garuda Indonesia yang bisa dilihat dari bourding lounge Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (24/04). Terminal ini mampu 25 juta calon penumpang per tahun. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah menempatkan dua ekspatriat dalam jajaran dewan direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Keduanya punya misi khusus dalam meningkatkan kinerja maskapai pelat merah tersebut.

Managing Director Danantara, Febriany Eddy mengungkapkan peran dua orang asing tersebut untuk membantu transformasi Garuda Indonesia. Keduanya dinilai bisa melengkapi untuk meningkatkan kinerja maskapai BUMN.

"Jadi yang satu fokus transformasi, yang satu sudah merasakan memimpin dan melihat bagaimana perusahaan airline yang di-recognize globally itu beroperasi," ungkap Febri dalam temu media di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (14/11/2025).

 

Kapasitas Manajemen

Pesawat Garuda Indonesia (Foto: Garuda Indonesia)

Pertama, dia mengisahkan tentang kapasitas Neil Raymond Mills sebagai Direktur Transformasi Garuda Indonesia. Neil Raymond Mills merupakan mantan bos Scandinavian Airlines. Dia juga disebut memiliki kapasitas pada proses transformasi bisnis aviasi. 

"Kalau Neil, Chief Transformation Officer, itu dia sudah melanglangbuana di 11 airline globally, 11 airline at least globally dan memimpin full transformasi airline 3 dari 11 itu," ujarnya.

Dia menuturkan, kapasitas Neil yang memimpin transformasi di 3 maskapai global itu menjadi modal penting untuk memperbaiki kondisi Garuda Indonesia. "Kita perlu orang yang sudah done that, seen that, been there. Itu poinnya. Jadi sudah melihat begitu banyak jenis airline dengan segala tantangannya," ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya