Liputan6.com, Jakarta - Perlambatan ekonomi China semakin dalam pada Oktober 2025. Tekanan datang dari lemahnya permintaan konsumen, memburuknya krisis pasar properti, serta penyusutan investasi yang lebih besar dari perkiraan. Libur panjang awal bulan turut membuat aktivitas industri tersendat dan menekan laju pemulihan ekonomi negara tersebut.
Data dari Biro Statistik Nasional China (NBS) pada Jumat menunjukkan investasi aset tetap, termasuk real estat, terkontraksi 1,7% sepanjang Januari-Oktober. Angka ini memburuk dari penurunan 0,5% pada periode sembilan bulan pertama, sekaligus jauh lebih dalam dibanding perkiraan analis Reuters yang memproyeksikan minus 0,8%. Demikian mengutip CNBC, Minggu (16/11/2025).
Advertisement
Kontraksi ini menandai pelemahan investasi aset tetap pertama sejak 2020, ketika pandemi Covid-19 menekan aktivitas ekonomi secara luas.
Produksi Industri Melemah, Terdampak Libur Panjang
Sektor manufaktur China kembali kehilangan momentum. Produksi industri hanya tumbuh 4,9% pada Oktober dibanding tahun sebelumnya, melambat dari kenaikan 6,5% pada September dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 5,5%.
Aktivitas pabrik juga terpukul oleh libur panjang, yang membuat sebagian besar industri berhenti beroperasi. PMI manufaktur pun merosot ke level terendah dalam enam bulan, mencerminkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan.
Konsumsi Masih Lesu, Meski Penjualan Ritel Sedikit Melewati Ekspektasi
Di sektor konsumsi, penjualan ritel hanya tumbuh 2,9% secara tahunan pada Oktober. Meski sedikit mengalahkan konsensus 2,8%, performanya tetap lebih rendah dibanding kenaikan 3% pada September. Situasi ini menandakan pemulihan konsumsi yang masih rentan.
Sementara itu, tingkat pengangguran perkotaan turun tipis menjadi 5,1%, dari sebelumnya 5,2%.
Properti dan Infrastruktur Jadi Biang Koreksi Investasi
Menurut Presiden dan Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, penurunan tajam investasi tahun ini terutama disebabkan oleh minimnya aliran dana ke sektor properti dan pembangunan infrastruktur, dua pilar penting yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi China.
Di sisi lain, inflasi konsumen mulai menunjukkan perbaikan. CPI naik 0,2% secara tahunan pada Oktober pertumbuhan tertinggi sejak Januari dan menjadi pembacaan positif pertama dalam empat bulan.
Namun tekanan datang dari sektor perdagangan. Ekspor China secara tak terduga kembali turun pada Oktober, mencatat kontraksi pertama dalam hampir dua tahun. Pengiriman ke AS melemah tajam seiring meningkatnya ketegangan perdagangan jelang kesepakatan pengurangan tarif yang akhirnya tercapai pada akhir bulan.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk memangkas tarif balasan dan menangguhkan sejumlah pembatasan selama satu tahun, sebuah langkah yang diharapkan dapat meredakan tekanan perdagangan.
Stimulus Tambahan Diprediksi Tidak Akan Dirilis Tahun Ini
Meski ekonomi tengah melemah, Zhang memperkirakan pemerintah China tidak akan mengumumkan stimulus besar tambahan pada sisa tahun 2025. Pemerintah disebut masih percaya diri pertumbuhan tahunan dapat mendekati target 5%.
Pada kuartal ketiga, ekonomi China tumbuh 4,8%, melambat dari 5,2% pada kuartal kedua dan 5,4% pada kuartal pertama.