Liputan6.com, Jakarta - Pabrikan drone ternama, DJI, terancam dilarang di AS menyusul mandeknya audit penilaian risiko yang diamanatkan pada National Defense Authorization Act (NDAA). Berita ini menuai perhatian para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Selasa (11/11/2025) kemarin.
Informasi lain yang juga populer datang dari Apple yang mengumunkan pendaftaran Swift Student Challenge 2026.
Advertisement
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.
1. DJI Terancam Dilarang di AS pada Desember 2025
Raksasa drone global, DJI, menghadapi ancaman larangan total di Amerika Serikat (AS) menyusul mandeknya audit penilaian risiko yang diamanatkan pada National Defense Authorization Act (NDAA).
Meskipun hampir setahun berlalu, pemerintah AS belum memulai proses audit tersebut. Bahkan jika audit dimulai sekarang, nasib DJI tetap berada di ujung tanduk karena tenggat waktunya berakhir pada Desember 2025.
DJI sempat bernapas lega pada Desember 2024 ketika Countering CCP Drones Act tidak dimasukkan dalam NDAA Tahun Fiskal 2025 yang disahkan Kongres AS.
Alih-alih larangan secara langsung, NDAA mengamanatkan dilakukannya "penilaian risiko" dalam waktu satu tahun sebelum keputusan akhir akan dibuat. Jika DJI gagal dalam penilaian tersebut, larangan akan diberlakukan. Demikian seperti dikutip dari PetaPixel, Selasa (11/11/2025).
Sejak awal, DJI menyambut baik audit ini. Namun, selama hampir satu tahun, perusahaan tersebut tidak melihat adanya pergerakan dari pemerintah AS untuk memulai penilaian risiko.
Pada April 2025, DJI telah memperingatkan jika penilaian tidak segera dimulai, prosesnya mungkin tidak akan berjalan adil karena auditor akan merasa terdesak waktu.
"Kami menyambut baik pengawasan dan yakin produk kami dapat bertahan dari pengawasan paling ketat mereka," ujar juru bicara DJI kepada PetaPixel.
2. Apple Umumkan Pendaftaran Swift Student Challenge 2026 Dibuka, Kisah Peserta Indonesia Jadi Inspirasi
Apple telah membuka pendaftaran Swift Student Challenge tahun 2026, dan mengajak pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperlihatkan sisi kreativitas mereka membuat aplikasi atau game menggunakan Swift dan Xcode.
Mengutip Apple Newsroom, Selasa (11/11/2025), pendaftaran Swift Student Challenge 2026 rencananya akan dibuka selama tiga pekan mulai dari 6 Februari tahun depan.
BACA JUGA:Siri bakal Pakai Teknologi Gemini AI Milik Google, Apple Siapkan Dana Rp 16 Triliun per TahunPada Swift Student Challenge 2025, Sherly Pangestu dan Indri Ramadhanti, dua pelajar dari Indonesia terpilih sebagai Distinguished Winner lewat aplikasi buatan mereka masing-masing yaitu Plant Heroes dan Memoire.
Dalam pengembangan aplikasi tersebut, Sherly dan Indira terinspirasi dari pengalaman pribadi mereka dan kebutuhan nyata di sekitar mereka.
3. Microsoft Bangun Super AI Humanis, Fokus Bantu Manusia Bukan Gantikan
Microsoft memastikan pengembangan kecerdasan buatan superintelligent (super AI) tetap berfokus untuk mendukung manusia.
Kepala Divisi Microsoft AI, Mustafa Suleyman, menyebut perusahaan sedang membangun sistem superintelligent AI berfungsi sebagai pendamping dan alat bantu prduktivitas, bukang pengganti manusia.
Mengutip keterangan di situs Microsoft via The Verge, Selasa (11/11/2025), Microsoft sudah membentuk tim khusus untuk mengembangkan “humanist superintelligence”. Sistem ini dirancang dengan prinsip kemanusian dan tetap berada dalam kontrol manusia.
“Teknologi ini akan dirancang secara hati-hati, memiliki konteks, dan bekerja dalam batas-batas tertentu,” tulis Suleyman.
Suleyman sendiri memimpin pengembangan model AI internal Microsoft untuk pembuatan teks, suara, dan gambar sejak bergabung tahun lalu. Ia menegaskan, proyek superintelligent AI ini tidak difokuskan pada kompetisi menuju Artificial General Intelligence (AGI).