China Relaksasi Sejumlah Pembatasan Ekspor Mineral ke AS

Relaksasi ekspor yang dilakukan China setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 November 2025, 20:22 WIB
Ilustrasi Peti Kemas, Perdagangan, Ekonomi, Internasional, Ekspor, Impor. Photo by Taro Ohtani on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - China telah mencabut sejumlah pembatasan ekspor mineral penting dan material tanah jarang ke Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC, Senin (10/11/2025), Kementerian Perdagangan China mengatakan akan menangguhkan beberapa kontrol ekspor mineral penting yang dipakai dalam perangkat keras militer, semikonduktor dan industri teknologi lainnya selama satu tahun.

Pembatasan yang ditangguhkan tersebut, yang pertama kali diberlakukan pada 9 Oktober, mencakup pembatasan ekspor beberapa elemen tanah jarang, material baterai litium, dan teknologi pemrosesan.

Relaksasi ekspor ini menyusul pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, pada 30 Oktober.

China juga mencabut pembatasan balasan atas ekspor galium, germanium, antimon, dan material superkeras lainnya seperti berlian sintetis dan boron nitrida. Langkah-langkah tersebut, yang diperkenalkan pada Desember 2024, secara luas dipandang sebagai pembalasan atas perluasan pembatasan ekspor semikonduktor yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap China.

China mengklasifikasikan material tersebut sebagai "barang dengan penggunaan ganda", yang berarti material tersebut dapat digunakan untuk keperluan sipil dan militer.

Selain aplikasi militer, mineral-mineral penting ini digunakan di seluruh industri semikonduktor dan sektor teknologi tinggi lainnya,  sektor-sektor yang menjadi pusat ketegangan perdagangan AS-China.

China juga telah menangguhkan pemeriksaan verifikasi pengguna akhir dan penggunaan akhir yang lebih ketat untuk ekspor grafit dengan penggunaan ganda ke AS, yang diberlakukan pada Desember 2024 bersamaan dengan larangan ekspor yang lebih luas.

China mendominasi produksi global sebagian besar mineral penting dan unsur tanah jarang dan semakin sering menggunakan kebijakan ekspornya sebagai daya ungkit dalam sengketa perdagangan.

Sebagai bagian dari perjanjian terbaru China-AS, Dalam kesepakatan perdagangan tersebut, AS telah menyetujui beberapa konsesi, termasuk penurunan tarif impor China  sebesar 10 persen, dan penangguhan "tarif timbal balik" Trump yang lebih tinggi atas impor China hingga 10 November 2026.

AS juga akan menunda aturan yang diumumkan pada 29 September yang akan memasukkan anak perusahaan China yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan China ke dalam daftar hitam entitasnya.

 

 

 

China Perketat Ekspor Tanah Jarang, Batasi untuk Militer dan Chip Canggih

Ilustrasi logam tanah jarang (LTJ) atau unsur logam langka adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan itrium. (By AI)

Sebelumnya, Pemerintah China kembali memperketat aturan ekspor tanah jarang pada Kamis (9/10/2025). Kebijakan baru ini menargetkan teknologi yang digunakan dalam produksi mineral penting tersebut, serta penggunaannya di luar negeri — terutama untuk keperluan militer dan semikonduktor.

Dikutip dari CNN, Kamis (9/10/2025), China saat ini menguasai sebagian besar proses pengolahan tanah jarang dunia, yang menjadi bahan utama dalam pembuatan berbagai produk, mulai dari perangkat elektronik hingga jet tempur.

Langkah terbaru ini diumumkan di tengah negosiasi perdagangan antara Beijing dan Washington, menjelang rencana pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di sela KTT APEC di Korea Selatan akhir bulan ini.

Menurut aturan baru, setiap ekspor teknologi terkait penambangan, peleburan, dan pemrosesan tanah jarang, serta pembuatan magnet, kini wajib memiliki izin khusus. Perusahaan asing yang menggunakan tanah jarang hasil produksi atau teknologi asal Tiongkok juga harus mengantongi lisensi ekspor dari Kementerian Perdagangan setempat.

Pemerintah menegaskan, kebijakan ini bertujuan menjaga keamanan dan kepentingan nasional dengan mencegah bahan-bahan tersebut digunakan, baik langsung maupun tidak langsung, untuk keperluan militer dan sektor sensitif lainnya.

 

Dilarang Bantu Aktivitas Penambangan

Ilustrasi logam tanah jarang (LTJ) atau unsur logam langka adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan itrium. (By AI) 

Kementerian Perdagangan China menyatakan akan menolak izin ekspor untuk proyek atau entitas yang berkaitan dengan pertahanan. Sementara itu, permohonan yang melibatkan pengembangan teknologi komputasi canggih, chip memori, atau kecerdasan buatan (AI) dengan potensi aplikasi militer akan ditinjau secara ketat, kasus per kasus.

Selain itu, warga dan perusahaan China juga dilarang membantu aktivitas penambangan, pemrosesan, atau pembuatan magnet tanah jarang di luar negeri tanpa izin pemerintah. Sebagian besar aturan baru ini berlaku efektif mulai Kamis.

Langkah ini datang di tengah hubungan China–Amerika Serikat yang sempat menunjukkan perbaikan, namun masih dibayangi ketegangan. Baru pekan lalu, Washington memperluas pembatasan terhadap perusahaan teknologi Tiongkok, termasuk anak usahanya, yang memicu reaksi keras dari Beijing.

Dalam pengumuman terpisah, Kementerian Perdagangan China juga menambahkan 14 entitas asing — termasuk perusahaan militer dan teknologi dari AS dan negara lain — ke dalam daftar hitam “entitas tidak dapat diandalkan.” Artinya, mereka dilarang beroperasi, berdagang, atau berinvestasi di Tiongkok.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya