Liputan6.com, Jakarta - Produsen mobil asal Jepang, Mazda, tengah menggarap ide futuristik yang bisa mengubah cara pandang terhadap kendaraan berbahan bakar bensin.
Melalui kombinasi biofuel berbasis alga dan sistem pembuangan khusus, Mazda berupaya menciptakan mobil yang tidak hanya rendah emisi, tetapi bahkan berpotensi menjadi negatif karbon.
Advertisement
Artinya, mobil tersebut menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO₂) daripada yang dihasilkannya.
Knalpot yang dikembangkan Mazda ini berfungsi layaknya “popok penyerap karbon”, yang mampu menangkap CO₂ saat gas buang keluar dari mesin.
Tidak hanya itu, sistem ini juga dapat membersihkan emisi yang dihasilkan selama proses produksi biofuel itu sendiri.
Menurut laporan Carbon Capture Journal yang dikutip oleh The Drive (6/11/2025), proses produksi biofuel memang masih memerlukan energi yang memancarkan CO₂.
Namun jumlahnya hanya sekitar 10 persen dibandingkan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil. Artinya, penggunaan biofuel dapat mengurangi total emisi hingga 90 persen.
Lebih menariknya lagi, jika sistem penangkap CO₂ ini berhasil menyerap lebih dari 10 persen emisi yang dihasilkan saat pembakaran biofuel, maka secara teori mobil tersebut dapat menjadi negatif karbon, bukan hanya netral, tapi justru membantu mengurangi karbon di atmosfer.
Dengan kata lain, jika sebuah mobil menggunakan biofuel alga dan sistem pembuangan penangkap CO₂, maka keseimbangan antara emisi yang dihasilkan dan yang diserap dapat tercapai.
Hal ini membuka jalan bagi kendaraan yang tidak sekadar ramah lingkungan, tetapi juga berkontribusi aktif terhadap pengurangan emisi global.
Namun, Mazda menyadari bahwa konsep ini tidak mudah diwujudkan. Tantangan utamanya adalah ukuran dan bobot sistem penyimpanan CO₂, serta bagaimana sistem ini dapat diintegrasikan tanpa mengorbankan efisiensi atau kenyamanan berkendara.
Meski begitu, ide tersebut tetap menjadi langkah revolusioner menuju masa depan mobil yang benar-benar bersih.
CEO Mazda Tegaskan Komitmen terhadap Keberlanjutan
Mazda belum memberikan janji konkret mengenai realisasi teknologi ini, tetapi Masahiro Moro, Direktur Perwakilan sekaligus CEO Mazda, menegaskan komitmen perusahaan terhadap inovasi berkelanjutan.
“Kegembiraan berkendara mendorong masa depan yang berkelanjutan. Ini bukan hanya semangat fundamental Mazda, tetapi juga inti dari tantangan masa depan kami. Mazda percaya bahwa kegembiraan berkendara dapat menjadi kekuatan perubahan positif bagi masyarakat dan planet ini,” ujarnya.
Langkah Mazda ini menunjukkan bahwa masa depan kendaraan ramah lingkungan tidak selalu harus meninggalkan mesin pembakaran internal sepenuhnya.
Dengan inovasi seperti biofuel alga dan teknologi penangkap karbon, Mazda mencoba membuka peluang baru, di mana mobil tidak lagi menjadi penyebab polusi, melainkan bagian dari solusi iklim global.