Liputan6.com, Jakarta Manchester United lagi-lagi harus puas dengan hasil imbang setelah bermain 2-2 melawan Tottenham di London, Sabtu (8/11/2025). Sempat unggul dan kemudian tertinggal, MU diselamatkan oleh sundulan Matthijs de Ligt di menit ke-96, sebuah momen dramatis yang sekaligus menutupi banyak kekurangan tim Ruben Amorim malam itu.
Gol De Ligt bukan sekadar penyelamat skor, tapi simbol ketangguhan di tengah situasi sulit. Dengan 10 pemain tersisa setelah Benjamin Sesko cedera dan semua pergantian pemain sudah dilakukan, United menunjukkan karakter untuk tetap menekan hingga akhir. Hasil ini memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi lima laga beruntun.
Advertisement
Namun di balik euforia gol telat itu, ada peringatan besar bagi Amorim, bahwa timnya masih terlalu rapuh saat menghadapi tekanan, terutama setelah kehilangan kontrol di lini tengah.
De Ligt, Mesin yang Tak Pernah Berhenti
Tidak ada pemain Manchester United yang lebih konsisten musim ini daripada Matthijs de Ligt. Bek asal Belanda itu menjadi satu-satunya pemain yang bermain penuh di seluruh menit Premier League 2025/26 sejauh ini, total 990 menit tanpa absen satu detik pun. Di usia 26 tahun, ia tampil sebagai jangkar pertahanan sekaligus simbol disiplin dan daya tahan tim.
Di Tottenham Hotspur Stadium, perannya terasa di dua ujung lapangan. Sebagai bek kanan dalam formasi tiga bek, De Ligt agresif menutup ruang, membaca arah bola, dan beberapa kali maju untuk memutus serangan di tengah lapangan. Ketika Harry Maguire cedera di menit ke-72, ia bergeser ke posisi bek tengah murni dan tetap menjaga ketenangan di situasi berisiko tinggi.
Namun, De Ligt tak sekadar bertahan. Ia ikut maju pada menit akhir, memanfaatkan sepak pojok Bruno Fernandes dengan tajuk tajam ke tiang jauh.
Gol itu bukan kebetulan, melainkan hasil perhitungan cermat. Ia sengaja menarik perhatian Brennan Johnson yang sebelumnya sudah mendapat kartu kuning, agar lebih berhati-hati, sebelum melakukan gerakan tipu dan lepas dari kawalan.
Simbol Ketangguhan di Tengah Kelelahan
Usai laga, De Ligt mengakui timnya kelelahan. “Kami sedikit kehilangan energi di babak kedua,” ujarnya kepada media. Tapi justru di saat-saat itulah dirinya memperlihatkan kepemimpinan sejati.