Boleh Pede! Ini Sederet Alasan Borussia Dortmund Bisa Kalahkan Manchester City

Borussia Dortmund dalam tren positif bersama Niko Kovac. Pertahanan solid, rotasi efektif, dan mental kuat jadi modal menghadapi Manchester City di Liga Champions.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 05 November 2025, 17:01 WIB
Penyerang Juventus asal Kanada #30, Jonathan David (tengah), berebut bola dengan kiper Dortmund asal Swiss #01, ,Gregor Kobel dalam pertandingan putaran pertama Liga Champions UEFA antara Juventus dan Borussia Dortmund di Stadion Allianz di Turin, Italia utara, Rabu (17-6-2025) dini hari WIB. (Marco BERTORELLO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Borussia Dortmund siap menghadapi Manchester City di Liga Champions dengan modal yang berbeda dari musim-musim sebelumnya. Mereka bukan sekadar tim kuda hitam, mereka adalah tim yang bermain dengan identitas yang jelas di bawah Niko Kovac.

Tidak ada yang menjamin hasil di Etihad Stadium, tetapi Dortmund memiliki argumen kuat mengapa mereka bisa membuat laga ini berjalan ketat, bahkan memenangkannya.

Pertandingan ini juga memberikan sisi lain yang menarik, yaitu kembalinya Erling Haaland menghadapi mantan klubnya. Namun, Dortmund siap memberikan lebih dari itu. Mereka membawa struktur yang stabil dan mentalitas kompetitif yang terbangun dalam beberapa bulan terakhir.

Kemenangan 1-0 atas Augsburg akhir pekan lalu menegaskan ritme positif yang tengah dibangun Dortmund, yaitu disiplin, solid, dan efisien. Dan semua ini berawal dari Kovac, pelatih yang masuk di saat klub dalam masa sulit, lalu perlahan menata ulang fondasinya.


Efek Kovac: Struktur, Ketegasan, dan Konsistensi

Duel Kenan Yildiz dan Julian Ryerson dalam laga Juventus vs Borussia Dortmund di Liga Champions 2025/2026, Rabu (17/9/2025). (La Presse via AP Photo/Marco Alpozzi)

Sejak kedatangannya pada Januari 2025, Kovac membawa Dortmund keluar dari posisi ke-11 menuju peringkat empat.

Stabilitas itu berlanjut ke musim ini. Mereka baru kalah sekali dari 17 laga Bundesliga terakhir, sekaligus mengumpulkan poin lebih banyak dibanding periode yang sama musim sebelumnya.

Sebastian Kehl, direktur olahraga Dortmund, menjelaskan bagaimana perubahan itu terjadi. Ia menyebut bahwa Kovac datang pada situasi yang sulit, tapi memberi ketenangan dan prinsip kerja yang jelas. Perubahan ini dilakukan dengan membentuk ulang standar profesionalisme di dalam skuad.

Hasilnya terlihat di Liga Champions. Dortmund berada sejajar dengan Manchester City dalam perolehan poin, bahkan unggul satu peringkat. Kemenangan atas Athletic Bilbao dan Copenhagen, plus laga 4-4 dramatis melawan Juventus, menunjukkan bahwa ritme permainan mereka matang di berbagai konteks pertandingan.

Mantan gelandang sekaligus analis, Dietmar Hamann, menilai dampaknya signifikan. Ia menyebut Kovac “mendorong, mendukung, dan memiliki ekspektasi yang jelas terhadap pemain.”

Ketika satu pemain tidak memenuhi peran, pemain lain siap menggantikan tanpa mengganggu struktur tim.


Pertahanan yang Siap Menghadapi Haaland

Pemain Borussia Dortmund, Yan Couto (kiri), berebut bola dengan pemain Copenhagen, Birger Meling, dalam pertandingan Liga Champions antara FC Copenhagen dan Borussia Dortmund di Parken, Kopenhagen, Selasa, 21 Oktober 2025. (Liselotte Sabroe/Ritzau Scanpix via AP)

Menjaga Haaland bukan tugas sederhana. Dortmund mengenalnya lebih baik daripada kebanyakan tim lain. Namun, kali ini Dortmund juga memiliki pertahanan yang sedang berada pada level tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Lanjut Baca:

Mereka baru kebobolan enam gol dalam sembilan laga Bundesliga, catatan terbaik dalam 23 tahun. Dua figur penting tidak tergantikan musim ini, adalah Waldemar Anton di jantung pertahanan dan Gregor Kobel di bawah mistar. Kovac menyebut Anton sebagai pemain dengan stamina dan fokus yang luar biasa, menyebutnya 'Ironman' setelah kemenangan di DFB Pokal. Anton tidak hanya bertahan, ia mengatur garis pertahanan, memandu ritme blok pertahanan, dan menjaga area antar lini tetap terhubung. Jika Haaland atau Omar Marmoush berhasil melewati Anton, mereka masih harus menghadapi Kobel. Kiper Swiss itu menunjukkan refleks dan keberanian eksekusi, seperti ketika ia menepis penalti Fares Chaibi dalam laga piala. Ia tidak hanya menjaga gawang,ia menjaga ritme emosi tim. “Kami sudah membangun sesuatu dalam hal atmosfer,” kata Kobel. Dan atmosfer yang dimaksud jelas, yaitu fokus, kompak, dan saling percaya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya