7,46 Juta Warga Indonesia Masih Jadi Pengangguran

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat pertambahan penduduk usia kerja sebanyak 1,89 juta orang.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 November 2025, 12:29 WIB
Pejalan kaki menyeberang di zebra cross di kawasan Jalan Mh Thamrin, Jakarta. Kawasan Jabodetabek memberlakukan PPKM Level 1 mulai 24 Mei selama dua pekan mendatang. Selama kebijakan berlaku, karyawan di perusahaan sektor non esensial diperbolehkan bekerja dari kantor atau work from office (WFO) dengan kapasitas 100 persen. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS)2 mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen, turun 0,06 persen poin dibanding Agustus 2024.

"Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja atau menjadi pengangguran sebesar 7,46 juta orang atau menurun sekitar 4.000 orang dibandingkan dengan Agustus 2024," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud, dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2025 BPS, Rabu (5/11/2025).

Edy menyampaikan, struktur ketenagakerjaan Indonesia. Terdapat 218,17 juta orang yang termasuk dalam kategori penduduk usia kerja di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 2,80 juta orang jika dibandingkan kondisi Agustus 2024.

Perkembangan penduduk usia kerja jika dibandingkan dengan Agustus tahun 2024. Pada 2025, tercatat 154 juta angkatan kerja atau bertambah sekitar 1,89 juta orang, bukan angkatan kerja (BAK) mencapai 64,17 juta orang atau meningkat 0,91 juta orang.

"Kemudian dari angkatan kerja tersebut sebanyak 146,54 juta di antaranya bekerja, jumlah penduduk yang bekerja ini tumbuh sekitar 1,90 juta orang dibandingkan bulan Agustus 2024," ujarnya.

Untuk rinciannya, penduduk yang bekerja terdirid ari pekerja penuh yang tercatat 98,65 juta orang atau bertambah sekitar 0,20 juta orang kemudian pekerja paruh waktu mencapai 36,29 juta orang atau bertambah 1,66 juta orang, selanjutnya setengah pengangguran sebanyak 11,60 juta orang atau bertambah 0,04 juta orang.

Partisipasi Angkatan Kerja

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat turun. TAPAK pada Agustus 2025 sebesar 70,59 persen atau lebih rendah jika dibandingkan bulan Agustus 2024 yang mencapai 70,63 persen.

"Jika dibedakan menurut jenis kelamin, TPAK laki-laki lebih tinggi dibandingkan TPAK perempuan. TPAK laki-laki mencapai 84,40 persen, sementara TPAK perempuan mencapai 56,63 persen," ujar dia.

Meskipun begitu, TPAK laki-laki menurun, sementara TPAK perempuan meningkat jika dibandingkan TPAK 2024.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2025

Suasana deretan gedung bertingkat dan rumah pemukiman warga terlihat dari gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2025 mencapai 5,04 persen secara year on year. Jika dibandingkan triwulan II-2025 atau secara quarter to quarter (Q to Q) tumbuh sebesar 1,43 persen.

Sementara, secara c to c perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,01 persen sepanjang periode Januari hingga September 2025.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2025 secara quarter to quarter (Q to Q) sejalan dengan pola musiman, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya yaitu pertubuhan Q to Q selalu lebih rendah daripada triwulan II-2025," ujarnya.

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2025, Diumumkan BPS Hari Ini

Pemandangan gedung-gedung tinggi di kawasan Jakarta, Rabu (23/4/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar

Sebelumnya, Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal III-2025 akan sedikit di atas 5 persen, yakni sekitar 5,04 persen, melambat dibandingkan 5,12 persen pada kuartal sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 pada Rabu (5/11).

“Kami memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan melemah dari 5,12 persen year on year (yoy) pada kuartal II menjadi 5,04 persen (yoy) pada kuartal III-2025,” kata Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa.

Meski demikian, laju pertumbuhan tetap berada sedikit di atas 5 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian pada kuartal I dan paruh pertama 2025, yang menandakan adanya perbaikan arah pertumbuhan ekonomi.

Faisal menjelaskan, perlambatan ini terutama disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga akibat ketidakpastian politik pada akhir Agustus 2025 yang menekan kepercayaan konsumen, serta normalisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) seiring melambatnya impor barang modal.

Pertumbuhan Ekspor

Aktivitas bongkar muat peti kemas di JICT Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/10). Penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor menyebabkan surplus neraca dagang pada September 2016 mencapai US$ 1,22 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pertumbuhan ekspor diperkirakan tetap solid, ditopang oleh permintaan Amerika Serikat yang meningkat hingga Agustus 2025 dan lonjakan wisatawan asing selama musim liburan musim panas.

Sementara itu, pertumbuhan impor diproyeksikan menurun seiring dengan melambatnya aktivitas PMTB serta penurunan impor jasa setelah berakhirnya musim liburan sekolah dan periode ibadah haji.

Untuk keseluruhan tahun, PIER memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia pada 2025 akan bertahan di kisaran rata-rata 10 tahun terakhir, yaitu sekitar 5 persen, ditopang oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

PIER menilai prospek pertumbuhan PDB Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, yang menegaskan pentingnya mempertahankan kebijakan ekonomi yang ekspansif, terutama melalui percepatan realisasi belanja pemerintah ke sektor-sektor produktif yang memiliki efek pengganda tinggi (high multiplier effects).

“Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia pada kisaran 5,0-5,1 persen untuk tahun 2025 (dibandingkan 5,03 persen pada 2024). Ini merupakan revisi ke atas dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan sedikit di bawah 5 persen,” kata Faisal.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya