Krisis Kemanusiaan Memburuk, UNICEF: Sejuta Anak Gaza Butuh Makanan dan Air Bersih

UNICEF melaporkan, meskipun gencatan senjata, krisis kemanusiaan masih terjadi di Gaza.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 04 November 2025, 19:35 WIB
Seorang anak laki-laki Palestina yang sedang bermain membawa sepanci makanan yang ia terima dari sebuah tempat penampungan tempat tinggal keluarga-keluarga di Nuseirat, pusat Jalur Gaza, pada 2 November 2025. PBB juga menyerukan agar semua titik perbatasan dibuka dan lebih banyak lembaga kemanusiaan diberi izin membawa bantuan ke Gaza. (EYAD BABA/AFP)

Liputan6.com, Gaza - Juru bicara Dana Anak-anak PBB (UNICEF) Tess Ingram mengungkapkan lebih dari satu juta anak di Jalur Gaza masih membutuhkan air bersih dan makanan.

Selain itu, ribuan anak tidur dalam keadaan lapar setiap malam, meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata. Selain itu, sekitar 650.000 anak perlu segera kembali bersekolah, dikutip dari laman Antara News, Selasa (4/11/2025).

Dalam wawancara dengan pers, Minggu (2/10), Ingram mengatakan bahwa gencatan senjata merupakan “kabar baik” karena menghentikan pengeboman harian yang menewaskan anak-anak.

Namun, ia menegaskan bahwa hal itu “belum cukup untuk mengakhiri kelaparan atau memastikan keluarga memiliki akses terhadap air minum yang aman.”

Ia menambahkan, keluarga-keluarga di Gaza masih berjuang setiap hari untuk bertahan hidup. Infrastruktur yang sebelumnya menyediakan air dan layanan kesehatan bagi anak-anak telah rusak parah, sehingga akses terhadap kebutuhan dasar menjadi sangat sulit.

Ingram menjelaskan bahwa jumlah bantuan yang masuk ke Jalur Gaza setelah gencatan senjata sempat sedikit meningkat dalam dua pekan pertama.

Namun, volume bantuan itu masih jauh dari cukup dan masih di bawah tingkat pasokan sebelum perang dimulai. Juru bicara UNICEF tersebut juga menyoroti bahwa ribuan anak masih tidur dalam keadaan lapar.

Sementara itu, banyak anak lain yang dirawat di rumah sakit menderita penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan, tetapi kekurangan dokter dan obat-obatan membuat mereka harus menanggung penderitaan tanpa perawatan memadai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya