Emas Perhiasan Inflasi 26 Bulan Berturut-Turut, Tertinggi Sentuh Segini

Komoditas emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi nasional pada Oktober 2025.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 03 November 2025, 13:10 WIB
Petugas menunjukkan emas perhiasan yang dijual di Galeri 24, Jakarta, Selasa (15/12/2020). Harga emas hasil produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau emas Antam kini turun Rp 1.000 per gram menjadi Rp 951 per gram pada perdagangan, Selasa (15/12). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi nasional pada Oktober 2025.

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya merupakan kelompok dengan andil inflasi terbesar pada periode tersebut, yakni mencapai 3,05 persen dengan andil inflasi 0,21 persen.

"Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok utama penyumbang inflasi pada Oktober 2025 dengan tingkat inflasi dengan andil inflasi masing-masing sebesar 3,05 persen dan 0,21 persen," kata Pudji dalam konferensi pers BPS, Senin (3/11/2025).

BPS mencatat, lonjakan harga emas perhiasan ini sekaligus mencatatkan rekor inflasi tertinggi selama lebih dari dua tahun terakhir. Komoditas emas perhiasan telah mengalami inflasi selama 26 bulan berturut-turut.

"Inflasi emas perhiasan Oktober 2025 sebesar 11,97 persen dan andil inflasi 0,21 persen merupakan inflasi tertinggi sejak 26 bulan berturut-turut terjadinya inflasi," ujarnya.

Adapun pada Oktober 2025 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 108,74 pada September 2025 menjadi 109,04 pada September 2025.

 

Kelompok Penyumbang Inflasi

Pedagang melayani pembeli di pasar, Jakarta, Jumat (6/10). Dari data BPS inflasi pada September 2017 sebesar 0,13 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan karena sebelumnya di Agustus 2017 deflasi 0,07 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara tahunan terjadi inflasi sebesar 2,86 persen, sedangkan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 2,10 persen.

Pudji menjelaskan, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 3,05 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen," ujarnya.

 

Provinsi yang Inflasi

Pedagang tengah menata dagangannya di salah satu pasar di Jakarta, Selasa (3/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan harga bahan kebutuhan pokok relatif terkendali seperti beras dan daging ayam. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 26 provinsi mengalami inflasi dan 12 provinsi lainnya mengalami deflasi. Secara tahunan pada Oktober 2025 tercatat inflasi sebesar 2,86 persen, secara bulanan 0,28 persen.

"Secara bulanan terdapat 26 provinsi mengalami inflasi dan 12 provinsi mengalami deflasi," ujarnya.

Inflasi tertinggi terjadi di Banten sebesar 0,57 persen, dan deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan yaitu sebesar 0,92 persen. Untuk rinciannya, yang mengalami inflasi diantaraya Kalimantan Tengah sebesar 0,52 persen, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,49 persen.

Kemudian, Jawa Barat juga mengalami inflasi sebesar 0,45 persen, DI Yogyakarta mengalami inflasi sebesar 0,42 persen, Sumatera Barat inflasinya 0,40 persen, Jawa Tengah juga inflasinya 0,40 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat, tingkat inflasi bulanan di Ibu Kota pada Juni 2025 mencapai 0,13 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya