Liputan6.com, Jakarta - Saat Thailand memasuki masa berkabung untuk menghormati mendiang Ibu Suri Sirikit, sebuah fenomena ekonomi unik muncul. Pemerintah negara kerajaan itu menghimbau masyarakat dan pegawai negeri mengenakan pakaian berwarna netral sebagai tanda penghormatan pada mendiang mantan Ratu.
Imbauan ini secara langsung menciptakan lonjakan permintaan luar biasa terhadap pakaian berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Dalam sekejap, para pedagang pakaian, mulai dari toko besar di pusat perbelanjaan hingga pedagang kaki lima di pasar-pasar, diserbu pembeli.
Advertisement
Ini bukan kali pertama. Sebelumnya, saat Raja Bhumibol Adulyadej wafat pada 2016, permintaan serupa mengubah lanskap ritel Thailand selama berbulan-bulan. Kini, para pelaku bisnis kembali melihat peluang di tengah suasana duka nasional.
"Kami menjual dengan harga (diskon) ini agar semua warga Thailand dapat mengenakan pakaian hitam untuk memberi penghormatan pada ibu suri," kata salah satu pebisnis, Thanachote Siripadungdech, yang meluncurkan promosi barang jualannya setelah Ibu Suri dikabarkan meninggal, pada AP, melansir The Strait Times, Sabtu, 1 November 2025, .
Para pedagang pakaian dengan cepat beradaptasi, mengubah etalase toko mereka jadi lautan warna hitam dan putih, serta memastikan stok pakaian berkabung selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin menunjukkan rasa belasungkawa mereka.
Momen ini jadi bukti bagaimana tradisi dan rasa hormat dapat menggerakkan roda perekonomian dengan cara yang tidak terduga. "Mereka sudah bekerja keras untuk Thailand. Sekarang saatnya saya membalasnya," ujarnya.
Seruan Berkabung dan Ledakan Permintaan
Setelah pengumuman wafatnya Ibu Suri, banyak warga yang tidak memiliki cukup pakaian hitam segera berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan dan pasar. Para pedagang yang sudah berpengalaman dari masa berkabung sebelumnya segera mengantisipasi hal ini.
Mereka dengan sigap mengisi kembali rak-rak toko dengan kaus, kemeja, dan gaun serba hitam. Pemandangan antrean panjang dan stok yang cepat habis jadi hal biasa dalam beberapa hari pertama sejak kabar kepergian Ibu Suri, pekan lalu.
Lonjakan permintaan pakaian hitam secara otomatis membuat industri tekstil dan garmen di seantero negeri bekerja ekstra keras. Pabrik-pabrik pencelupan kain yang biasanya memproduksi berbagai warna cerah kini harus mengubah fokus produksi mereka.
Roda Industri Tekstil Berputar Cepat
Mereka menerima pesanan dalam jumlah besar untuk mencelup kain jadi warna hitam pekat. Para pekerja harus lembur untuk memenuhi target produksi yang mendadak meningkat. Produsen pakaian jadi juga bergegas mengubah pola produksi mereka, memprioritaskan pembuatan model-model sederhana berwarna hitam yang paling banyak dicari.
Seluruh rantai pasok, mulai dari benang, kain, hingga produk jadi, bergerak cepat memastikan ketersediaan barang di pasar. Bagi banyak pabrik kecil dan menengah, momen ini adalah kesempatan bisnis yang sangat menguntungkan.
Mereka dapat memaksimalkan kapasitas produksi dan meraih pendapatan signifikan dalam waktu singkat. Dinamika ini memperlihatkan betapa responsif dan adaptifnya sektor industri Thailand dalam menghadapi perubahan pasar berskala besar dalam waktu singkat.
Pedagang Kaki Lima Meraup Untung
Di tengah fenomena ini, para pedagang kecil dan pedagang kaki lima jadi salah satu pihak yang paling diuntungkan. Mereka tidak memerlukan modal besar untuk mengubah jenis barang dagangan mereka.
Dengan cepat, lapak-lapak di pinggir jalan dan di pasar-pasar tradisional dipenuhi tumpukan kaus dan kemeja hitam dengan harga terjangkau. Bagi warga yang memiliki anggaran terbatas, para pedagang ini menjadi solusi utama.
Seorang pedagang bahkan mengaku bisa menjual ratusan potong pakaian hitam hanya dalam satu hari, sebuah pencapaian yang jarang terjadi di hari-hari biasa. Keuntungan yang mereka dapatkan bisa berkali-kali lipat dari pendapatan normal.
Fleksibilitas dan kemampuan mereka membaca peluang pasar secara cepat jadi kunci sukses. Momen berkabung nasional ini, sekali lagi, membuka pintu rezeki bagi para pelaku ekonomi di tingkat akar rumput, memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan tambahan yang signifikan di tengah suasana duka yang melingkupi negara.