Liputan6.com, Jakarta Liverpool tengah menghadapi periode sulit di Premier League musim ini. Tim asuhan Arne Slot itu menelan empat kekalahan beruntun di liga, hasil yang membuat posisi mereka di klasemen terus melorot. Para pendukung mulai mempertanyakan strategi sang pelatih, terutama setelah performa Florian Wirtz dan rekrutan anyar lainnya belum memenuhi ekspektasi.
Situasi ini terasa kontras dengan awal musim yang menjanjikan. Liverpool sempat tampil agresif dan tangguh, namun kini terlihat kehilangan arah di lapangan. Kelemahan dalam transisi dan koordinasi antarlini kian terlihat jelas dari pekan ke pekan.
Advertisement
Hasil buruk itu menimbulkan banyak analisis dari para pengamat sepak bola Inggris. Salah satu yang paling vokal adalah eks bek Manchester City, Micah Richards, yang menyoroti akar persoalan Liverpool bukan hanya di depan atau belakang, melainkan di jantung permainan mereka sendiri.
Richards menilai, masalah terbesar Liverpool terletak pada lini tengah yang tidak lagi stabil. Perubahan komposisi pemain di sektor ini dianggap membuat The Reds kehilangan ciri khasnya: intensitas dan energi tinggi yang selama ini menjadi identitas mereka.
Lini Tengah Jadi Titik Lemah Liverpool
Menurut Richards, lini tengah Liverpool saat ini tidak memiliki keseimbangan yang cukup untuk menopang permainan agresif ala Slot. Ia menilai rotasi dan perubahan komposisi gelandang membuat aliran permainan The Reds tidak stabil.
"Jika dilihat dari sudut pandang taktis, masalahnya ada di area lini tengah," ujar Richards dalam siniar Rest is Football via Liverpool Echo. "MacAllister adalah pelindung bagi mereka [pertahanan], Gravenberch adalah pelindung, dan Szoboszlai punya kaki (tenaga), sekarang semuanya benar-benar berbeda."
Richards juga menyoroti pemilihan pemain yang kurang tepat dalam beberapa laga terakhir. Ia menyebut Curtis Jones sebagai pemain berbakat, tetapi tidak memiliki kualitas bertahan seperti gelandang bertipe jangkar yang dibutuhkan Liverpool.
"Mereka mencoba menggunakan Curtis Jones, pemain yang sangat bagus, tetapi ia tidak memiliki kualitas bertahan seperti gelandang lainnya,” lanjut Richards. “Energi di lini tengah itulah yang membuat Liverpool begitu konsisten.”
Kehilangan kontrol di tengah lapangan membuat Liverpool sering terekspos saat menghadapi tim yang punya serangan balik super cepat. Dampaknya terasa dalam empat kekalahan terakhir, termasuk saat mereka ditundukkan Brentford dengan skor 2-3.
Wirtz Belum Temukan Posisi Ideal
Selain struktur lini tengah, Richards juga menyoroti penampilan Florian Wirtz yang masih mencari tempat terbaiknya di sistem permainan Liverpool. Gelandang asal Jerman itu baru mencatat satu assist di Premier League sejak awal musim, jauh dari ekspektasi besar saat direkrut dari Bundesliga.
“Begitu pula Wirtz. Kita tahu ia akan menjadi pemain yang bagus, tetapi ia perlu menemukan tempat di mana ia bisa berkembang," kata Richards.
Liverpool memang masih punya waktu untuk membenahi diri, namun komentar Richards mempertegas bahwa masalah mereka lebih dalam dari sekadar hasil akhir. Tanpa menemukan keseimbangan di lini tengah dan posisi ideal bagi pemain seperti Wirtz, kebangkitan The Reds bisa jadi akan tertunda lebih lama.
(Liverpool Echo)