Angka Backlog Rumah di Indonesia Tertinggi se-ASEAN

Angka backlog atau kebutuhan akan rumah di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN atau sekitar 3,6 persen, apa solusinya?

oleh Septian DenyDiterbitkan 28 Oktober 2025, 18:45 WIB
Suasana Perumahan Griya Samaji, Cieseng, Bogor, Rabu (19/2/2020). Bank Tabungan Negara (BTN) pada 2019 telah merealisasikan 735.000 rumah dalam Program pemerintah satu juta rumah dengan kredit kepemilikan rumah bersubsidi sekitar Rp 111 trilyun. (merdeka.com/Arie Basuki)

 

Liputan6.com, Jakarta Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Setiyo Wibowo menyatakan, angka backlog atau kebutuhan akan rumah di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN atau sekitar 3,6 persen.

Selain itu, rasio kredit pemilikan rumah (KPR) terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih rendah, hanya sekitar 3,4%, sementara negara lain seperti Filipina sudah mencapai 7–8%.

“Artinya potensi bisnis di sektor ini sangat besar. Tidak heran Presiden Prabowo Subianto menempatkan program perumahan sebagai salah satu prioritas utama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” kata Setiyo, Selasa (28/10/2025).

Selain memiliki potensi besar, sektor perumahan juga memberikan multiplier effect yang luas. Pembangunan perumahan berpengaruh langsung ke 172 sektor industri, mulai dari toko bahan bangunan hingga tenaga kerja konstruksi.

“Yang menarik, 95% industri perumahan di Indonesia bersumber dari lokal, sehingga sektor ini benar-benar mendorong ekonomi dalam negeri,” jelas Setiyo.

 

 

 

 

Perkuat Ekosistem Perumahan

Jika mengacu pada target harga dari konsensus analis sebesar Rp 1.660, harga saham BBTN masih berpotensi naik tinggi ke depan. (merdeka.com/Imam Buhori)

Mencari solusi dari masalah backlog tersebut, BTN pun secara menggelar Kick Start BTN Housingpreneur 2025, sebuah ajang kompetisi inovasi di sektor perumahan yang bertujuan mencari bibit unggul wirausaha dan inovator untuk memperkuat ekosistem perumahan nasional.

Setiyo Wibowo menyampaikan BTN Housingpreneur merupakan gerakan akar rumput untuk menjaring ide-ide segar dan solusi inovatif dalam menjawab tantangan kepemilikan rumah di Indonesia.

“Masih banyak keluarga di Indonesia yang belum memiliki rumah. Sebagai negara terbesar di ASEAN, kontribusi sektor perumahan terhadap PDB kita justru paling rendah di kawasan. Melalui BTN Housingpreneur, kami ingin mendorong munculnya inovator yang bisa menawarkan solusi nyata untuk menjawab masalah perumahan dan menghasilkan bisnis dari inovasi tersebut,” ujar dia.

 

Cari Ide Inovatif

Foto udara drone perumahan subsidi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Desa Kubang 02, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Rabu (24/1/2024). (merdeka.com/Imam Buhori)

Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan melalui ajang ini, perseroan ingin para peserta menghadirkan ide-ide inovatif dan menggunakan bahan ramah lingkungan, hemat energi, serta mendukung prinsip keberlanjutan.

Ramon menambahkan BTN Housingpreneur 2025 bukan hanya ajang kompetisi bagi mahasiswa, tetapi juga terbuka bagi pengusaha yang sudah berjalan.

“Kami juga membentuk komunitas alumni dari tiap angkatan. Mereka saling berbagi pengalaman, berkolaborasi, bahkan menciptakan proyek bersama. Jadi, Housingpreneur bukan sekadar lomba, tapi sebuah movement untuk melahirkan wirausaha muda di ekosistem perumahan nasional,” tambahnya.

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya