Menteri Agama Bertolak ke Vatikan: Mengenang Paus Fransiskus

Kunjungan Menag Nasaruddin Umar ke Vatikan menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat dialog lintas agama dan kerja sama internasional untuk perdamaian dunia.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 26 Oktober 2025, 19:15 WIB
Kementerian Agama (Kemenag) mengelar nikah massal yang diikuti 100 pasangan di Masjid Istiqlal pada Kamis (4/8/2025). (Foto: Liputan6.com/Winda Nelfira).

Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar bertolak ke Vatikan, Roma, untuk menghadiri Pertemuan Internasional untuk Perdamaian. Pertemuan ini diselenggarakan oleh Komunitas Sant' Egidio di Koloseum.

Nasaruddin bertolak dari Jakarta pada Sabtu 25 Oktober 2025. Tiba di Roma, dia menghadiri undangan KBRI di Vatikan untuk bertemu ratusan diaspora Indonesia yang ada di sana.

Hadir dalam pertemuan ini, Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono yang juga selaku tuan rumah.

Tampak hadir, Duta Besar Jepang untuk Takhta Suci CHIBA Akira, Duta Besar Lituania untuk Takhta Suci Sigita Maslauskaite Mazyliene, Duta Besar Liga Negara-negara Arab dan Misi ke Roma Enas Mekkawy,  Kuasa Usaha Kedutaan Besar Haiti untuk Takhta Suci Marie Guerlyne Janvier, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Peru untuk Takhta Suci Manuel Carrasco, serta para Imam dan Biarawati Indonesia

"Kunjungan saya ke Roma dan Vatikan adalah untuk berbicara tentang "Mengenang Paus Fransiskus" pada Pertemuan Internasional untuk Perdamaian yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant' Egidio di Koloseum," kata Nasaruddin dalam keterangannya, Minggu (26/10/2025). 

 

Bawa Semangat Kemanusiaan

Pertemuan ini akan berlangsung pada Senin 27 Oktober 2025.  Selain sebagai Menteri Agama, Nasaruddin Umar adalah Imam Besar Masjid Istiqlal di Jakarta, Indonesia, di mana pada September 2024, Indonesia dan Masjid Istiqlal mendapat kehormatan dikunjungi mendiang Paus Fransiskus.

"Selama kunjungan Yang Mulia, saya memiliki pertemuan yang sangat berkesan dengan beliau saat kami menandatangani Deklarasi Istiqlal—yang bertujuan untuk mengadvokasi kemanusiaan, dialog, dan perlindungan lingkungan. Semangat kemanusiaan itu, dan bahwa kemanusiaan hanya memiliki satu warna, tetap hidup setelah wafatnya Paus Fransiskus," jelas Nasaruddin.

"Semangat kemanusiaan dan keberagaman agama serta budaya ini telah menjadi warisan Indonesia sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya