Liputan6.com, Jakarta: Terpidana Hutomo Mandala Putra pantas diberi gelar buronan kelas wahid. Pasalnya sampai Rabu (10/1) ini, polisi belum juga dapat mengendus tempat persembunyian terpidana kasus tukar guling PT Goro Batara Sakti dan Badan Urusan Logistik itu. Akhirnya polisi merasa perlu mencari strategi lain. Akhirnya mereka menggunakan georadar milik Pusat Laboratorium Forensik Polri, untuk melacak ruang bawah tanah di kediaman keluarga Soeharto di kawasan Jalan Cendana, Jakarta Pusat.
Menurut Kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Harry Montolalu, alat tersebut tak akan digunakan di seluruh titik pencarian. Namun, hanya pada tempat-tempat tertentu yang diduga memiliki bunker. Ia menjelaskan, bentuk alat itu menyerupai pendeteksi bom dan biasa digunakan untuk mencari sumber minyak bumi.
Merujuk data Polri, di Jakarta terdapat sebanyak 58 lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Tommy. Sebanyak 16 lokasi di antaranya berada di kawasan Cendana. Untuk itu, menurut Harry, polisi perlu menggunakan georadar untuk memastikan adanya bunker yang menghubungkan tiap rumah keluarga Soeharto di Cendana.(ICH/Apriliana dan Prihandoyo)
Menurut Kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Harry Montolalu, alat tersebut tak akan digunakan di seluruh titik pencarian. Namun, hanya pada tempat-tempat tertentu yang diduga memiliki bunker. Ia menjelaskan, bentuk alat itu menyerupai pendeteksi bom dan biasa digunakan untuk mencari sumber minyak bumi.
Merujuk data Polri, di Jakarta terdapat sebanyak 58 lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Tommy. Sebanyak 16 lokasi di antaranya berada di kawasan Cendana. Untuk itu, menurut Harry, polisi perlu menggunakan georadar untuk memastikan adanya bunker yang menghubungkan tiap rumah keluarga Soeharto di Cendana.(ICH/Apriliana dan Prihandoyo)