DHL dan UOB Indonesia Sepakat Kurangi 80% Emisi Gas Rumah Kaca

DHL menyatakan kemitraan ini membantu UOB mengurangi hingga 80% emisi karbon dari pengiriman internasional.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 25 Oktober 2025, 20:20 WIB
DHL Express memperkenalkan rute baru langsung dari Hong Kong ke Jakarta, dengan pesawat kargo Boeing 737-800. (Dok DHL)

Liputan6.com, Jakarta - DHL Express Indonesia dan UOB Indonesia menjalin kemitraan strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca dari pengiriman udara internasional, melalui pemanfaatan layanan GoGreen Plus. 

Dengan GoGreen Plus, sektor logistik global memungkinkan pelanggan menggunakan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan (SAF) untuk mengurangi emisi terkait pengiriman mereka.

Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia Ahmad Mohamad mengatakan, kemitraan ini membantu UOB mengurangi hingga 80 persen emisi karbon dari pengiriman internasional.

"Melalui GoGreen Plus, kami menawarkan solusi terukur dan terverifikasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor logistik. Kemitraan ini mencerminkan komitmen bersama kami dalam mendukung target iklim nasional Indonesia serta target net zero DHL Group pada 2050," ujarnya, Sabtu (25/10/2025).

President Director UOB Indonesia Hendra Gunawan  menambahkan, pihaknya berkomitmen mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon. 

"Dengan mengadopsi GoGreen Plus, kami turut mendukung agenda berkelanjutan Indonesia untuk mencapai net zero pada 2060, sekaligus selaras dengan komitmen UOB Group untuk mencapai net zero pada 2050," ungkapnya. 

Anggaran Ketahanan Energi pada 2026 Sebesar Rp 402,4 Triliun

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menjadikan ketahanan energi sebagai salah satu program unggulan di tahun depan. Lewat kucuran anggaran Rp 402,4 triliun pada RAPBN 2026 untuk ketahanan energi. 

RI 1 menekankan, masyarakat dari kota hingga desa wajib menikmati energi yang terjangkau dan berkelanjutan. Berbagai dukungan APBN untuk penguatan ketahanan energi, ditempuh melalui subsidi energi, insentif perpajakan, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), serta penyediaan listrik desa. 

"Secara keseluruhan di 2026 dukungan fiskal pemerintah yaitu Rp 402,4 triliun untuk ketahanan energi," kata Prabowo dalam Penyampaian RUU APBN 2025 dan Nota Keuangan, beberapa waktu lalu. 

 

Pemanfaatan Energi Fosil Tetap Didongkrak

Meskipun mulai berorientasi pada EBT, pemanfaatan energi fosil lewat produksi minyak dan gas bumi bakal terus ditingkatkan. Guna menjaga harga komoditas energi, sambil mempercepat pemakaian energi bersih. 

"Subsidi energi harus adil, tepat sasaran bukan lagi dinikmati oleh mereka yang mampu, energi baru terbarukan adalah masa depan. Kita harus genjot pembangunan pembangkit dari surya, dari hydro, dari panas bumi dan dari bioenergi," tuturnya. 

Oleh karenanya, pemerintah bakal serius melakukan transformasi menuju energi hijau, demi mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. 

"Indonesia harus menjadi pelopor energi bersih dunia. Kita harus capai 100% pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan dalam waktu 10 tahun atau lebih cepat. Saya yakin hal ini bisa dicapai dari target dunia 2060, kita bisa mencapainya jauh lebih cepat," serunya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya