IHSG Sepekan Tinggalkan Posisi 8.000, Kapitalisasi Pasar Susut 5,23%

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada perdagangan 13-17 Oktober 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 Oktober 2025, 12:00 WIB
Pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9% ke level 5.996,14. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada perdagangan 13-17 Oktober 2025. IHSG meninggalkan posisi 8.000 pada pekan ini.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (18/10/2025), IHSG sepekan ditutup turun 4,14% menjadi 7.915,65 selama sepekan. Pada pekan lalu, IHSG naik 1,72% ke posisi 8.257,85.

Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI anjlok 5,23% menjadi Rp 14.746 triliun dari pekan lalu Rp 15.560 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,37% menjadi 2,71 juta kali transaksi dari 2,93 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Rata-rata volume transaksi harian bursa terperosok 10,33% menjadi 32,95 miliar saham dari pekan lalu 42,32 miliar saham. Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian BEI tergelincir 2,44% menjadi Rp 27,46 triliun dari Rp 28,15 triliun pada pekan lalu.

Berdasarkan data BEI, investor asing juga membeli saham senilai Rp 1,94 triliun pada pekan ini. Pada pekan lalu, investor asing beli saham Rp 3,21 triliun.

Pada pekan ini, meskipun tidak ada rilis data resmi, suku bunga hipotek AS mengalami sedikit penurunan menjadi 6,42% dan mempertahankan tren penurunan secara keseluruhan sejak titik tertingginya tahun ini di 7,09% pada Januari.

Di sisi lain, indeks manufaktur oleh Philadelphia Fed menunjukkan pelemahan di sektor ini ke level terendah dalam enam bulan, jauh di bawah konsensus pasar untuk kawasan tersebut. Demikian mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia.

Di Kawasan Eropa, sentimen ekonomi secara keseluruhan tidak memenuhi ekspektasi karena perselisihan anggaran yang sedang berlangsung di Prancis.

Produksi industri bulanan turun dibandingkan bulan sebelumnya tetapi kontraksinya lebih kecil dari yang diperkirakan dan merupakan kontraksi bulanan tertajam sejak April.

Surplus perdagangan turun jauh di bawah ekspektasi pasar dengan ketidakpastian tarif yang berkelanjutan yang menyebabkan surplus dengan AS turun menjadi 5,8 miliar euro dari 14,2 miliar euro karena ekspor turun 22,3% sementara impor relatif stabil di 0,6%.

Sentimen Ekonomi Sepekan

Komuter yang memakai masker berjalan melintasi persimpangan di kawasan pusat bisnis pada hari dengan tingkat polusi udara yang tinggi di Beijing, China, Senin (6/3/2023). Pejabat ekonomi China menyatakan keyakinannya bahwa mereka dapat memenuhi target pertumbuhan tahun ini sekitar 5 persen dengan menghasilkan 12 juta pekerjaan baru dan mendorong pengeluaran konsumen setelah berakhirnya kontrol antivirus yang membuat jutaan orang tetap di rumah. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Di sisi lain, sentimen ekonomi Jerman mengalami sedikit peningkatan meskipun tidak memenuhi ekspektasi. Harga grosir mengalami kenaikan terkuat sejak Maret dan menandai kenaikan selama 10 bulan berturut-turut.

Pengangguran di Inggris secara tak terduga meningkat ke level tertinggi sejak Juni 2021, sementara pertumbuhan PDB bulanan sejalan dengan konsensus.

Surplus perdagangan China lebih rendah dari perkiraan, tetapi masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya dengan ekspor tumbuh lebih cepat dari perkiraan, meskipun impor juga meningkat. Namun, inflasi tahunan kembali negatif dengan harga pangan mengalami kontraksi terkuat sejak Januari 2024.

Indonesia mengalami penurunan FDI yang lebih besar dari perkiraan secara tahunan, dan merupakan penurunan tertajam sejak kuartal pertama 2020 akibat kebijakan perdagangan AS dan daya beli domestik yang melemah.

Kinerja IHSG Pekan Lalu

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan 6-10 Oktober 2025. Pekan ini, IHSG juga mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (11/10/2025), IHSG sepekan melompat 1,72% menjadi 8.257,85 pada pekan ini. IHSG melanjutkan kenaikan dari pekan lalu yang menguat 0,23% dari posisi 8.118,30.

"IHSG pada penutupan pekan ini juga merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Burahmad seperti dikutip Sabtu pekan ini.

Di sisi lain, kapitalisasi pasar BEI melonjak 3,19% selama sepekan. Kapitalisasi pasar BEI mencatat rekor tertinggi yang menyentuh Rp 15.560 triliun dari pekan lalu Rp 15.079 triliun.

Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 12,48% menjadi Rp 28,15 triliun dari pekan lalu Rp 25,02 triliun.

Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian melonjak 11,83% menjadi 2,93 juta kali transaksi dari 2,62 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, rata-rata volume transaksi harian bursa merosot 14,88% menjadi 42,31 miliar saham dari 49,71 miliar saham. Investor asing membukukan aksi beli saham Rp 3,21 triliun selama sepekan. Pekan lalu, investor asing melepas saham sebesar Rp 3,1 triliun.

 

Pencatatan Obligasi

Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, BEI mencatat pada Jumat, 10 Oktober 2025, Obligasi Berkelanjutan I Dian Swastatika Sentosa Tahap IV dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Dian Swastatika Sentosa Tahap IV Tahun 2025 oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk mulai dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai nominal obligasi sebesar Rp 256,7 miliar dan sukuk dengan nilai nominal sebesar Rp 1,24 triliun.

Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk Obligasi Berkelanjutan I Dian Swastatika Sentosa Tahap IV dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Dian Swastatika Sentosa Tahap IV Tahun 2025 adalah idAA (Double A) dan idAA(sy) (Double A Syariah) dengan Wali Amanat PT Bank KB Indonesia Tbk.

Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2025 adalah 142 emisi dari 75 emiten senilai Rp 166,24 triliun.

Dengan pencatatan tersebut, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 644 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 526,35 triliun dan USD129,79 juta, yang diterbitkan oleh 137 emiten.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 191 seri dengan nilai nominal Rp6.423,84 triliun dan USD 352,10 juta. Selain itu, di BEI telah tercatat sebanyak 7 emisi EBA dengan nilai Rp 2,13 triliun.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya