Indonesia Sudah Kantongi Investasi Rp 150,6 Triliun dari Program Hilirisasi, Nikel Juaranya

Nikel masih jadi buruan para investor lantaran itu jadi senjata utama Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok industri pembuatan baterai kendaraan listrik, atau ev battery.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 17 Oktober 2025, 13:00 WIB
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi berkelanjutan, mengumumkan hasil kinerja keuangan untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2024.

Liputan6.com, Jakarta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani melaporkan, program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah telah meraup pemasukan investasi sebesar Rp 150,6 triliun di kuartal III 2025.

Jumlah itu setara 30,6 persen dari total realisasi investasi di kuartal III 2025 sebesar Rp 491,4 triliun. Adapun investasi untuk hilirisasi tersebut juga melonjak 64,6 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan kuartal III 2024.

"Kalau kita lihat memang kontribusinya ini secara perlahan meningkat. Kalau dulu masih di level 25-26 persen dari total investasi yang masuk, sekarang dari sektor hilirisasi sudah mencapai 30,6 persen," ujar Rosan di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Adapun penyumbang terbesar berasal dari sektor mineral, dengan total nilai investasi Rp 97,8 triliun. Porsi penanaman modal terbesar masih dialokasikan untuk komoditas nikel, yakni Rp 42 triliun.

Rosan mengatakan, nikel masih jadi buruan para investor lantaran itu jadi senjata utama Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok industri pembuatan baterai kendaraan listrik, atau ev battery.

"Memang masih didominasi oleh mineral, dalam hal ini adalah nikel. Karena obviously kita juga memang reserve terbesar di dunia untuk nikel, kurang lebih 42 persen. Bagaimana kita mempergunakan reserve kita ini secara berkelanjutan, terutama adalah ev battery," bebernya.

 

Rincian Investasi di Sektor Mineral

Ilustrasi tambang nikel (dok: Foto AI)

Untuk sektor mineral, realisasi investasi kuartal III 2025 juga banyak diberikan untuk komoditas tembaga dengan Rp 21,2 triliun. Diikuti bauksit dengan pemasukan Rp 15,6 triliun, besi baja dengan Rp 9,5 triliun, timah Rp 1,5 triliun, dan lainnya Rp 8 triliun.

Selain mineral, investasi untuk program hilirisasi juga banyak disuntikan ke sektor perkebunan dan kehutanan, dengan nilai total mencapai Rp 35,9 triliun di kuartal III 2025.

Suntikan modal terbesar diberikan kepada komoditas kelapa sawit sebesar Rp 21 triliun. Disusul untuk kayu log Rp 11,7 triliun, karet Rp 1,6 triliun, dan lainnya Rp 1,6 triliun.

 

Investasi Migas

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Regional Kalimantan Subholding Upstream Pertamina, memulai rangkaian kegiatan pengeboran di Wilayah Kerja (WK) Mahakam tahun 2025 melalui tajak sumur (well spud) B-J-9 di Platform Bekapai, Kalimantan Timur, pada 5 April 2025. Dok PHM

Sementara untuk investasi hilirisasi di sektor minyak dan gas bumi (migas), total mencapai Rp 15,4 triliun di kuartal III 2025. Dengan alokasi Rp 10,4 triliun untuk minyak, dan Rp 5 triliun untuk gas bumi.

Di sisi lain, sektor perikanan dan kelautan juga menampung pemasukan Rp 1,5 triliun. Dengan komoditas utama seperti garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, hingga tilapia.

Adapun secara daerah, suntikan investasi hilirisasi terbesar diterima oleh Sulawesi Tengah sebesar Rp 28,7 triliun (19,1 persen). Disusul Jawa Barat Rp 15 triliun (10 persen), Maluku Utara Rp 14,3 triliun (9,5 persen), Nusa Tenggara Barat (NTB) Rp 14,1 triliun (9,3 persen), dan Jawa Timur Rp 9,8 triliun (6,5 persen).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya