17 Oktober 1814: Ledakan di Pabrik Bir Inggris Tewaskan 8 Orang

Bagaimana sebuah pabrik bir bisa meledak di kota London hingga menewaskan 8 orang?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 17 Oktober 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi minuman alkohol bir. (AP/Tony Talbot)

Liputan6.com, London Kecelakaan tragis di pabrik bir milik Henry Meux & Co. di Bainbridge Street, Inggris Raya, memicu banjir mematikan di permukiman pada 17 Oktober 1814 yang dikenal sebagai Banjir Bir London.

Pada Senin sore sekitar 16.30, George Crick, seorang petugas gudang berpengalaman selama 17 tahun, memeriksa salah satu tong porter berusia 10 bulan yang diikat dengan lingkaran besi seberat 700 pon.

Tong setinggi 22 kaki ini hampir penuh, dan tersisa 4 inci di bagian atas dengan tekanan fermentasi semakin meningkat drastis, dilansir dari History.com, Jumat (17/10/2025).

Meski khawatir, Crick diyakinkan oleh atasannya bahwa tidak akan ada kerusakan apa pun, dan ia diminta menulis surat kepada karyawan lain untuk memperbaiki lingkaran tersebut.

Tak lama setelah itu, sekitar pukul 17.30, tong yang rusak meledak dan menghancurkan katup tong-tong di sekitarnya.

Ledakan ini memicu reaksi berantai yang melepaskan sekitar 570 ton bir ke lingkungan St. Giles.

Kekuatan ledakannya menghancurkan dinding pabrik, menyapu jalan-jalan sempit, dan rumah-rumah, termasuk area di Great Russell Street serta Eleanor Cooper yang berada di dekat lokasi.

Akibat Banjir Bir

Semburan air porter mengalir deras ke jalan kota tanpa ada drainase. Banyak warga memanjat meja dan perabotan rumah untuk menyelamatkan diri.

Kekuatan dari bir ini menewaskan Anne Saville beserta orang-orang yang berada di dekatnya.

Sementara itu, warga yang tersisa berjuang menyelamatkan diri dari gelombang bir setinggi pinggang sambil berusaha mengevakuasi korban dari reruntuhan.

Kemalangan Para Korban

Sehari setelah John, putra Anne Saville meninggal di apartemen ruang bawah tanahnya. Bencana ini kemudian membawa Saville yang menjadi korban Banjir Bir London.

Para korbannya terdiri dari perempuan dan anak-anak yaitu Elizabeth Smith, Eleanor Cooper, Hannah Banfield, Sarah Bates yang berusia tiga tahun, Catherine Butler, Mary Mulvey, dan putranya yang berusia tiga tahun, Thomas Murray.

Dalam kemiskinan, warga London tetap memberikan penghormatan terakhir, dengan memasukkan uang logam kecil dan koin ke dalam piring untuk membiayai pemakaman mereka.

Bencana ini juga menarik perhatian London’s Morning Post, yang melaporkan kondisi kehancuran paling menyedihkan di London.

"Kehancuran di sekitarnya menyajikan pemandangan yang paling mengerikan dan dahsyat, setara dengan apa yang mungkin disebabkan oleh kebakaran dan gempa bumi," ujarnya.

 

Penyelidikan Setelah Bencana

Dua hari setelah bencana, juri berkumpul untuk menyelidiki kecelakaan tersebut. Namun, kesaksian Crick membuat juri menganggap kejadian ini sebagai perbuatan Tuhan.

Mereka bahkan mengatakan bahwa kematian para korban hanya sebuah kebetulan atau tidak disengaja.

Pabrik bir pun terhindar dari kewajiban membayar ganti rugi korban, dan justru menerima keringanan pajak dari Parlemen Inggris karena telah membayar ribuan barel bir yang hilang.

Bencana Banjir Bir di London dikenang sebagai salah satu kecelakaan industri paling aneh, dan meninggalkan pelajaran terhadap risiko fermentasi besar di permukiman padat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya