Liputan6.com, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menunjukkan komitmennya dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda. Melalui program Beasiswa Pemuda Tangguh, Pemkot telah menggelontorkan dana sebesar Rp71 miliar sejak pertama kali diluncurkan pada 2021.
Salah satu penerima beasiswa, Safira Hasna, mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya, menjadi bukti nyata bagaimana program ini mengubah hidup anak-anak muda Surabaya.
Advertisement
Safira kehilangan kedua orang tuanya di usia sangat muda, ibunya meninggal ketika ia duduk di kelas 4 SD, disusul sang ayah saat ia kelas 3 SMP. Sejak itu, ia hidup di panti asuhan dengan status yatim piatu.
Namun semangat belajarnya tak pernah padam. Kini, ia melanjutkan kuliah berkat dukungan Beasiswa Pemuda Tangguh.
“Dengan beasiswa ini Alhamdulillah terbantu pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal) semesteran, terbantu membeli alat-alat ataupun buku-buku yang diperlukan untuk kuliah,” ujar Safira beberapa waktu lalu.
Bagi Safira, bantuan ini lebih dari sekadar angka di rekening.
“Semoga saya dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk selalu belajar dan menggapai cita-cita dan berkontribusi untuk Kota Surabaya,” tuturnya.
Ribuan Mahasiswa Sudah Terbantu
Sejak bergulir empat tahun lalu, program ini telah membantu 5.908 mahasiswa mendapatkan biaya kuliah dan bantuan biaya hidup. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, beasiswa ini menjadi bentuk kehadiran negara di tengah warganya.
“Alhamdulillah, insyaallah dengan anggaran 2026 nanti, setelah disahkan, maka (Beasiswa Pemuda Tangguh) akan kita tambah untuk 24.000 anak Surabaya,” kata Eri.
Menurut Eri, Surabaya harus menjadi kota yang ramah bagi generasi muda agar mereka dapat tumbuh, belajar, dan berkontribusi untuk daerahnya.
“Terus belajar, berkarya, dan berprestasi. Karena Surabaya selalu hadir untuk menjaga semangat generasi tangguhnya,” pesannya.
Proses Ketat dan Tepat Sasaran
Pada semester ganjil September 2025, tercatat 2.766 mahasiswa lolos sebagai penerima beasiswa. Proses verifikasi dilakukan dengan ketat untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.
“Saya berharap yang sudah mampu, yang orang tuanya memiliki pendapatan tinggi, bisa tidak mengikuti beasiswa ini dulu. Mari kita bantu saudara kita,” ujar Eri.
Verifikasi faktual dilakukan karena banyak pendaftar yang mencantumkan pekerjaan orang tua sebagai wiraswasta.
“Setelah diverifikasi, ternyata ada yang memang bukan wiraswasta, dan ada wiraswasta yang gajinya sangat tinggi. Maka dari itu, kami mengutamakan yang orang tuanya berpenghasilan rendah,” tegasnya.
Tak jarang, tim Pemkot juga menemukan kasus khusus seperti mahasiswa disabilitas atau mereka yang baru kehilangan orang tua.
“Yang seperti ini, disabilitas, yang harus kita bantu. Pemerintah ini hadir. Sedangkan mahasiswa yang tinggal sendiri, kami minta untuk difasilitasi tinggal di RIAS (Rumah Ilmu Arek Suroboyo) agar bisa tinggal dengan teman-teman kuliah lainnya,” kata Eri.
Didesain untuk Adil dan Berkelanjutan
Terkait besaran bantuan, Pemkot Surabaya menyesuaikannya dengan kemampuan daerah dan kebutuhan mahasiswa.
“Kami memberikan bantuan maksimal. Kalau UKT-nya Rp10 juta, tidak mungkin kita berikan Rp10 juta. Sehingga kami berharap agar keluarga yang mampu tidak mengikuti ini dulu,” jelas Eri.
Namun, bagi mahasiswa yang masih membutuhkan dukungan parsial, tetap tersedia subsidi sebagian.
“Contohnya, jika UKT Rp10 juta, yang kita berikan hanya Rp2 juta. Tidak semua kita cover Rp10 juta,” tambahnya.
Program ini juga mencakup mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) yang telah bermitra dengan Pemkot.
“PTS juga kita ambil, PTN juga kita ambil. Semoga semakin banyak yang bisa masuk kuliah, sehingga dia bisa merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik,” ujar Eri.
Ada Regulasi Baru untuk Menjamin Kualitas
Kepala Bidang Kepemudaan Disbudporapar Kota Surabaya, Eringgo Perkasa, menjelaskan bahwa beasiswa kini diatur dalam Perwali Nomor 45 Tahun 2025 agar lebih terukur dan berkelanjutan.
“Regulasi ini bertujuan untuk memastikan kualitas dan kontribusi lulusan penerima beasiswa,” kata Eringgo.
Dalam aturan tersebut, durasi beasiswa maksimal ditetapkan delapan semester untuk jenjang S1/D4 dan 6 semester untuk D3.
“Beasiswa akan dicabut secara tegas jika penerima melanggar klausul, seperti menikah atau menerima beasiswa dari instansi lain,” ungkapnya.
Eringgo menambahkan, program ini tidak hanya menanggung biaya kuliah, tetapi juga mendukung kebutuhan hidup mahasiswa.
“Beasiswa ini disalurkan kepada anak-anak pintar dari keluarga miskin atau pra-miskin dan berprestasi, sehingga IPK minimal harus 3,00. Jika tidak tercapai, kami akan libatkan kampus untuk evaluasi,” tegasnya.
Kolaborasi dengan 15 Kampus, Target Naik jadi 24 Ribu Penerima
Hingga kini, program ini telah bekerja sama dengan 15 perguruan tinggi, sembilan di antaranya berada di Surabaya dan enam lainnya di luar kota. Proses pendaftaran bisa diakses secara daring melalui laman besmart.surabaya.go.id.
Eringgo mengatakan, kerja sama dengan kampus luar Surabaya merupakan arahan langsung Wali Kota Eri untuk membantu mahasiswa terdampak musibah.
“Kami ingin memastikan tidak ada anak Surabaya yang gagal kuliah karena alasan biaya,” tuturnya.
Dengan 5.908 penerima sepanjang 2025, Surabaya menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang menyalurkan beasiswa dua kali dalam setahun.
“Ini merupakan kebanggaan. Hanya Surabaya yang bisa melakukan itu dan membiayai mereka hingga lulus,” ungkap Eringgo.
Tahun depan, Pemkot menargetkan kuota beasiswa meningkat hingga 24.000 mahasiswa, mencakup PTN dan PTS.
“Jadi, pada tahun 2026, Pemkot Surabaya akan menyediakan kuota beasiswa untuk 24.000 mahasiswa, baik untuk PTN maupun PTS,” pungkas Eringgo.