China Masih Jadi Mitra Dagang Utama Indonesia

Nilai ekspor ke China naik 8,9 persen menjadi 30,5 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juni 2025

oleh Septian DenyDiterbitkan 13 Oktober 2025, 19:45 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta China masih menjadi mitra dagang dan mitra investasi strategis bagi Indonesia. China tak hanya sebagai tujuan ekspor utama, juga menjadi negara dengan investasi besar di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor ke China naik 8,9 persen menjadi 30,5 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juni 2025. Kenaikan ini didorong terutama oleh ekspor produk nikel dan turunannya, besi dan baja, serta sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan.

Di sisi lain, nilai ekspor sejumlah produk pertanian dan perkebunan juga meningkat, di antaranya karet yang melonjak 182 persen, kopi hingga 90 persen, kakao 88 persen, serta buah-buahan 10 persen.

Sementara itu, pembelian barang-barang asal China juga meningkat. Total impor dari China tumbuh 21 persen menjadi 40,2 miliar dolar AS, utamanya berupa kendaraan, peralatan elektronik, serta mesin dan peralatan mekanis. Secara khusus, impor kendaraan dan bagiannya melonjak 85 persen.

Sejalan dengan itu, dunia usaha pun mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk Irene sebagai Wakil Dubes RI untuk Republik Rakyat Tiongkok. Menurut kalangan pebisnis, figur Irene dipandang ideal untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan China.

Ketua Kadin Komite Indonesia Tiongkok (KKIT) Garibaldi Thohir meyakini Irene mampu menjembatani hubungan antara kedua negara, terutama dalam bidang perdagangan dan investasi.

"Dilantiknya dr Irene akan menjadikan hubungan ekonomi Indonesia dan China semakin erat, terutama dalam sektor investasi dan perdagangan," kata Boy Thohir, Senin (13/10/2025).

Boy menambahkan, kalangan pelaku usaha siap memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk meningkatkan hubungan dengan China.

Salah satunya adalah mempererat kerja sama di berbagai bidang mulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM), kemitraan dagang, dan kerja sama sosial ekonomi lainnya.

"Kami menyambut baik keputusan Presiden ini dan siap mendukung program pemerintah termasuk meningkatkan kemitraan dengan China," ujarnya.

 

Hubungan Ekonomi dan Perdagangan

Sejumlah truk peti kemas di area JICT Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/10). BPS mencatat, nilai ekspor September 2016 sebesar US$ 12,51 miliar, turun 1,84% dibanding bulan sebelumnya dan turun 0,59% (yoy). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI) juga menyambut baik atas penunjukan Irene sebagai Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok.

Ketua China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI) Sun Shangbin mengatakan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat, dengan kolaborasi erat dalam rantai industri, investasi dua arah, perdagangan, serta berbagai bidang lainnya yang memiliki potensi pertumbuhan besar.

“Kami yakin, dengan pengalaman dan dedikasi dr Irene, kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara akan semakin berkembang. CCCI juga akan terus berperan sebagai fasilitator dan penghubung strategis, serta berkerja sama untuk memperkuat hubungan bilateral China dan Indonesia,” kata Sun.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan pengangkatan Wakil Dubes RI di China dilaksanalan lantaran pemerintah berencana membuka Konsulat Jenderal baru di negara tersebut. Dengan demikian, secara organisasi KBRI China butuh penguatan.

 

Geografis Wilayah China

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi mengatakan surplus neraca dagang didapatkan dari nilai ekspor yang mencpai US$23,5 miliar miliar dan impor mencapai US$20,59 miliar. (merdeka.com/Imam Buhori)

Terlebih, secara geografis wilayah China sangat luas dan ada banyak warga negara Indonesia (WNI) tinggal di negara tersebut.

"Banyak juga beban-beban pekerjaan yang kami kira perlu mendapatkan jabatan tambahan penguatan," katanya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono dalam kesempatan berbeda mengatakan, Kepala Negara memiliki alasan kuat menunjuk Irene sebagai Wakil Dubes RI di China.

Pasalnya, China, merupakan mitra strategis Indonesia dengan intensitas kerja sama yang sangat tinggi di berbagai sektor, seperti perdagangan, investasi, dan pendidikan.

"Kompleksitas hubungan ini menuntut kapasitas diplomatik yang lebih kuat dan responsif," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya