Jakpro Bakal Bangun Skydeck Penghubung Empat Titik Transportasi di TOD Dukuh Atas

PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ikut berperan dalam pengembangan proyek Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 11 Oktober 2025, 13:05 WIB
Bus Transjakarta melintasi proyek pembangunan halte Dukuh Atas 1 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (5/1/2023). Direktur Teknik dan Digital Transjakarta Mohamad Indrayana mengungkapkan pada 2023 PT TransJakarta menargetkan dapat menyelesaikan 54 halte yang sudah siap beroperasi untuk kepentingan mobilitas warga. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ikut berperan dalam pengembangan proyek Transit Oriented Development atau TOD Dukuh Atas.

Jakpro bakal berfokus pada pembangunan fasilitas umum (fasum), berupa skydeck yang menghubungkan empat titik strategis di kawasan tersebut.

Menurut Direktur Utama (Dirut) Jakpro Iwan Takwin, skydeck tersebut dirancang sebagai area konektivitas antarmoda agar masyarakat dapat berpindah tempat dengan lebih mudah dan efisien.

Iwan mengatakan, pembangunan skydeck menjadi salah satu prioritas yang disepakati Pemprov DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta dalam pengembangan kawasan TOD.

"Kami harus menghadirkan satu fasilitas umum. Dalam hal ini nanti contohnya di TOD Dukuh Atas akan ada skydeck yang menghubungkan empat wilayah di sana, sehingga orang bisa berpindah dengan mudah," kata Iwan dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/10/2025).

Dia menyampaikan, pengembangan TOD tidak hanya berfokus pada satu bangunan atau infrastruktur tunggal, melainkan mencakup pembangunan kawasan yang terintegrasi.

Jakpro, lanjutnya, bertanggungjawab memastikan rancangan fasilitas publik di area itu benar-benar mendukung mobilitas warga dan menciptakan pengalaman transit yang nyaman.

"TOD itu bukan hanya soal membangun satu fasilitas, tapi membangun kawasan. Ada fasilitas umumnya, ada juga yang dibangun oleh pihak swasta," papar Iwan.

Iwan menyatakan, desain skydeck akan menjadi elemen penting dalam menciptakan konektivitas fisik di kawasan TOD Dukuh Atas, yang nantinya menampung berbagai moda transportasi seperti MRT, KRL, TransJakarta, dan LRT.

"Oleh sebab itu, penyusunan desain dan anggaran akan dilakukan secara hati-hati bersama seluruh pihak terkait. Sekarang kami lagi susun anggarannya karena ini melibatkan sinergi antar-BUMD dan pihak lain yang berkepentingan di sana," papar Iwan.

 

Penyusunan Anggaran

Bus Metrotrans saat menurunkan penumpang di dekat Halte MRT Dukuh Atas. Penilaian tersebut dilihat dari Wayfinding, inovasi bus listrik, integrasi antarmoda transportasi, fasilitas sepeda, dan Mikrotrans AC. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Iwan mengatakan, penyusunan anggaran proyek TOD Dukuh Atas tidak bisa disamakan dengan proyek tunggal seperti stadion. Pasalnya, TOD terdiri atas beberapa komponen yang saling terkoneksi.

"Kalau anggaran TOD itu bukan seperti membangun JIS, karena di sini ada beberapa fasilitas yang terintegrasi," tandas Iwan.

Sebelumnya, MRT Jakarta tak habisnya memberi terobosan untuk ibu kota dengan beragam konsep yang mengoneksikan para pengguna transportasi publik.

Menurut Direktur MRT Jakarta Tuhiyat, rencana teranyar, pihaknya akan membangun transit oriented development (TOD) bar di kawasan Dukuh Atas agar terinterasi dengan kawasan Sudirman.

Seperti diketahui, kedua kawasan tersebut saat ini masih berjalan masing-masing. Peninjauan Gubernur Jakarta Pramono Anung beberapa waktu lalu ke kawasan tersebut meminta MRT Jakarta mengeluarkan ide bagaimana agar kawasan tersebut dapat terkoneksi.

"Ketika Pak Gubernur Jakarta Pramono Anung melakukan susur Sungai Ciliwung pada Agustus lalu bertanya mengenai empat kuadran yang ada di Dukuh Atas yang belum tersambung seluruhnya," kata Tuhiyat saat menjadi pembicara utama dalam MRT Fellowship Program 2025 di Jakarta, Kamis 9 Oktober 2025.

"Yang terkonek adalah Transporthub dan UOB, karena ada terowongan Kendal, selain itu sudah tidak. Bagaimana, MRT punya ide nggak? tanya pak gubernur. Lalu kami tawarkan ide cincin donat yang kita lakukan pada saat itu branchmarking ke Yokohama," sambung dia.

 

MRT Jakarta Cerita Lahirnya Usulan Konsep Cincin Donat, TOD Penghubung Dukuh Atas-Sudirman

Penumpang tampak pada pintu tunggu masuk bus Transjakarta menuju Ragunan di Halte Dukuh Atas 2, Jakarta, Jumat (1/1/2016). Ratusan penumpang menumpuk menunggu bus TransJakarta tujuan Ragunan untuk menikmati libur panjang 2016. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Tuhiyat menggambarkan, cincin donat akan dibangun di atas jalan Sudirman-Dukuh Atas dengan memiliki lebar 12 meter, kemudian 5 meter di antaranya akan digunakan untuk kegiatan komersial dan sisanya sebagai ruang pejalan kaki.

"Nantinya (cincin donat) bakal menghubungkan transportasi umum lainnya seperti LRT Jabodebek, KRL, dan juga kereta bandara. Itu kurang lebih lebarnya sekitar 12 (meter)," papar dia.

"Kalau Anda tahu dari PIM (Pondok Indah Mal) 2, PIM 1, kalau itu kan paling berapa ya lebarnya, tapi kita akan coba bangun 12 (meter), 7 (meter)-nya untuk traffic public, kemudian 5 (meter)-nya untuk bisnis. Kita bangun yang akan menghubungkan 4 mode, ada KCI, ada LRT Jabodebek, ada MRT, kemudian ada kereta bandara," sambung Tuhiyat.

Tuhiyat optimistis, cincin donat bakal menjadi area mobilitas baru bagi pergerakan manusia yang melakukan commuting setiap harinya. Termasuk, mengubah konsep berkendara menggunakan kendaraan pribadi menjadi transportasi umum.

"Jadi kita lakukan itu untuk bisa menghubungkan 4 kuadran sehingga ini bisa memecahkan kemacetan yang ada di Dukuh Atas. Mudah-mudahan ini bisa mempermudah publik melakukan mobilitas sehingga tujuan akhirnya adalah meninggalkan kendaraan pribadi," dia menandasi.

Infografis Keunggulan dan Strategi MRT Jakarta. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya