Liputan6.com, Doha - Qatar, dengan dukungan Amerika Serikat, tengah berupaya agar Marwan Barghouti, tokoh senior Fatah yang telah lama ditahan Israel, dimasukkan dalam kesepakatan pertukaran tahanan bersejarah di Gaza.
Upaya ini dilakukan setelah negosiator Israel menarik kembali sinyal persetujuan sebelumnya terhadap pembebasannya, dikutip dari laman The New Arab, Jumat (10/10/2025).
Advertisement
Menurut laporan The New Arab, delegasi keamanan Israel semula memberi indikasi akan menerima nama Barghouti yang diajukan Hamas dalam daftar tahanan yang diusulkan. Namun, sikap tersebut kemudian berubah, dan Israel menghapus namanya dari daftar pembebasan.
Sumber diplomatik yang dikutip oleh Al-Araby Al-Jadeed menyebutkan bahwa Qatar kini memusatkan mediasi untuk memastikan Barghouti kembali dimasukkan dalam perjanjian akhir, dengan alasan bahwa kehadirannya sangat penting bagi kredibilitas dan makna politik dari kesepakatan Gaza.
Daftar tahanan Palestina yang diajukan juga mencakup tokoh-tokoh terkemuka lainnya, di antaranya Ahmad Sa’adat — Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) — serta dua pemimpin senior Hamas, Hassan Salameh dan Ibrahim Hamed.
Namun, negosiasi disebut berlangsung sengit terutama terkait nama Abbas al-Sayyid dan Abdullah al-Barghouti, dua komandan Brigade Qassam yang ditolak keras oleh Israel untuk dibebaskan.
Selain itu, perundingan juga membahas pembebasan anggota elit Brigade Qassam, sayap militer Hamas, yang ditangkap saat serangan 7 Oktober 2023.
Kesepakatan Sejumlah Pihak
Sebelumnya, Presiden AS mengumumkan bahwa Hamas dan Israel telah menyetujui tahap pertama rencana perdamaian Gaza, sebuah langkah besar menuju akhir perang di wilayah yang telah hancur akibat dua tahun pemboman tanpa henti. Warga Gaza merayakan kabar tersebut dengan suka cita, menandai harapan baru setelah konflik berkepanjangan yang menewaskan lebih dari 67.000 orang dan melukai hampir 170.000 lainnya, sebagian besar warga sipil.
Meski begitu, pejabat Hamas menyatakan bahwa mereka masih menunggu kesepakatan final terkait daftar tahanan sebelum mengumumkannya secara resmi.
Marwan Barghouti sendiri dikenal sebagai tokoh karismatik dan simbol perlawanan Palestina. Lahir di Kobar, Tepi Barat, pada 6 Juni 1959, ia menjadi pemimpin muda berpengaruh sejak Intifada Pertama dan kemudian menjabat sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina pada 1996. Pada Intifada Kedua, ia memimpin sayap Fatah bernama Tanzim, sebelum ditangkap oleh Israel pada 2002 dan dijatuhi hukuman lima kali penjara seumur hidup pada 2004.
Meski telah lebih dari dua dekade mendekam di penjara, Barghouti tetap dianggap sebagai figur pemersatu dan calon kuat pengganti Mahmoud Abbas — sosok yang diyakini banyak pihak masih memiliki pengaruh besar dalam politik Palestina hingga kini.