3 Ilmuwan Perancang Kerangka Molekuler Raih Nobel Kimia 2025

Bagaimana tiga ilmuwan ciptakan kerangka molekuler menangkap karbon dan limbah berbahaya?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 09 Oktober 2025, 18:35 WIB
Susumu Kitagawa (Jepang), Richard Robson (Australia), dan Omar M. Yaghi (Yordania/AS) memenangkan Hadiah Nobel Kimia 2025 (Dok. The Royal Swedish Academy of Sciences).

Liputan6.com, Stockholm Melihat ancaman nyata dari pencemaran lingkungan, tiga ilmuwan -- Susumu Kitagawa, Richard Robson, dan Omar M Yaghi -- menciptakan kerangka logam-organik.

Atas karya mereka, penemuan ini dianugerahkan Hadiah Nobel Kimia 2025, yang berhasil mengatasi polusi plastik dan karbon dioksida (CO2).

Dalam konferensi pers, Professor Kitagawa menyampaikan rasa terkejutnya saat menerima kabar melalui sambungan telepon terhadap karya ini.

"Saya merasa sangat terhormat dan senang atas penghargaan ini, terima kasih banyak," ujarnya, dikutip dari BBC, Kamis (9/10/2025).

Tetapi percakapan tersebut berlangsung singkat karena dirinya harus segera menghadiri rapat.

"Berapa lama saya harus tinggal di sini? Karena saya harus pergi menghadiri rapat," tambahnya.

 

Cara Kerja Molekul

Ilustrasi molekul. (Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay)

Melalui observasi terhadap perubahan iklim dan karbon dioksida yang bebas berkeliaran.

Karya mereka membahas bagaimana molekul dapat dibangun bersama menjadi kerangka logam-organik (MOF).

Cara kerja kerangka ini didasarkan pada konstruksi dengan ruang besar di antara molekul-molekulnya, di mana memungkinkan gas dan bahan kimia lainnya mengalir.

Karena strukturnya yang unik, Komite Nobel menyebutnya sebagai "arsitektur molekuler."

Salah satu fitur utama kerangka adalah adanya "ruang-ruang."

Karena dapat menahan dan menyimpan bahan kimia, termasuk karbon dioksida di atmosfer yang disebut sebagai bahan kimia abadi (PFAS).

 

Perjalanan Penemuan Kimia

Karbon dioksida (CO2) (Sumber: Pixabay)

Pada tahun 1970 dan 1980-an, mereka bertiga mulai bekerja secara independen.

Profesor Robson bahkan meminta universitasnya mengebor lubang di meja laboratorium, agar bola kayu yang mewakili atom dapat ditempelkan pada batang kayu

Sejauh ini MOF baru digunakan dalam skala kecil, tetapi perusahaan-perusahaan sedang menjajaki kemungkinan produksi massalnya.

Pengembangan lebih lanjut terhadap MOF banyak dilakukan oleh perusahaan.

MOF sendiri semakin dikembangkan karena dapat digunakan untuk menangkap gas karbon dioksida, yang bertujuan menghangatkan planet dari pembangkit listrik dan pabrik.

Mengenal Ketiga Ilmuwan

  1. Susumu Kitagawa bekerja dan menjadi profesor di Universitas Kyoto di Jepang.
  2. Richard Robson lahir di North Yorkshire, yang berkerja sejak 1966 di Universitas Melbourne, Australia.
  3. Omar M. Yaghi lahir di Amman, Yordania, dan berasal dari Universitas California, Amerika Serikat.

 

Reaksi dan Pandangan Ilmuwan

Ilustrasi riset, penelitian, peneliti, ilmuwan. Kredit: Michal Jarmoluk via Pixabay

Profesor Robson merasa berita ini hanya suatu hal yang biasa, ia menyampaikannya kepada BBC Newshour terkait hasil bersama kedua rekannya.

"Berita ini tidak terlalu mengejutkan bagi saya, karena saya sering mendengar berita serupa selama bertahun-tahun," ungkapnya.

Ketika ditanya tentang potensi aplikasi karyanya, ia menekankan agar berhati-hati.

"Ada pembicaraan tentang pengikatan CO2 dan pemecahan masalah atmosfer dunia terdengar tidak realistis bagi saya, tetapi senyawa ini dapat melakukan pekerjaan semacam itu dalam skala kecil," jelasnya.

Profesor berusia 88 tahun itu mengakui bahwa hadiah uang menjadi perhatian utama baginya.

Ia menyikapi penghargaan ini secara realitas sesuai tahap kehidupannya, sehingga hadiah dari penemuan ini terasa berarti.

Selain itu, Dr. Annette Doherty, presiden Royal Society of Chemistry di Inggris ikut berkomentar terhadap berita yang merujuk pada solusi untuk masalah bumi..

"Setiap tahun kita menyaksikan Hadiah Nobel diberikan kepada ahli kimia yang menyambut tantangan untuk menemukan solusi kepada dunia, seperti memberikan layanan kesehatan yang lebih baik, perlindungan lingkungan, energi bersih, serta pangan dan air yang aman bagi semua orang,"

Inspirasi dan Hadiah Penemuan Molekul

Perajin Niklas Qvarnstrom menyelesaikan pembuatan medali hadiah Nobel di Eskilstuna, Swedia, 29 Oktober 2019. Niklas Qvarnstrom merupakan perajin yang bertanggung jawab atas medali hadiah Nobel. (Jonathan NACKSTRAND/AFP)

Menurut Komite Nobel, profesor Kitagawa memiliki prinsip yang memotivasinya, yaitu "kegunaan dari hal yang tidak berguna."

Prinsip ini mencerminkan filosofi seorang filsuf Tiongkok kuno, Zhuangzi, yang artinya meskipun sesuatu tidak memberikan manfaat langsung, hal itu tetap dapat menjadi berharga.

Sementara Profesor Yaghi yang dibesarkan bersama saudara-saudaranya hidup tanpa listrik atau air bersih.

Inspirasinya dari ketertarikan terhadap struktur molekul di sekolah, dan ia pergi ke Amerika Serikat untuk mempelajari ilmu kimia lebih dalam pada usia 15 tahun.

Ketiga pemenang mendapatkan hadiah sebesar 11 juta krona Swedia (sekitar 19 miliar Rupiah), dibagi rata kepada mereka.

Pengumuman tersebut juga disampaikan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia dalam sebuah konferensi pers di Stockholm, Swedia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya