Liputan6.com, Jakarta - Setiap potongan emas milik Farzana Ghani menyimpan cerita dan kenangan berharga. Perempuan berusia 56 tahun asal Miami, Florida, itu memiliki set perhiasan rumit dari ibu mertuanya yang diberikan saat pernikahannya di Pakistan, rantai emas dari sang ibu usai ia menunaikan ibadah haji, serta koin emas untuk merayakan kelahiran putrinya.
Dan kini, dengan harga emas yang menembus rekor tertinggi, Ghani tetap berkomitmen menambah koleksinya.
Advertisement
“Dibandingkan dengan obligasi dan menyimpan uang tunai, saya masih lebih memilih membeli koin emas,” ujarnya dikutip dari CNN, Jumat (10/10/2025).
Bagi para pengantin perempuan di Asia Selatan, emas bukan sekadar perhiasan — melainkan simbol status, tradisi, dan warisan keluarga. Para mempelai perempuan biasanya tampil berkilau dari kepala hingga kaki, mengenakan kalung, anting, cincin hidung, hiasan rambut, hingga jimat, yang bisa berupa hadiah atau warisan keluarga.
Koleksi itu bahkan sering dimulai sejak mereka belum lahir. Emas diwariskan lintas generasi, dijadikan penanda kelahiran, pencapaian hidup, dan perayaan keagamaan.
Emas telah lama dikenal sebagai aset perlindungan nilai paling aman selama ribuan tahun, namun di Asia Selatan, maknanya jauh lebih dalam. Tradisi ibu mewariskan emas kepada putrinya berlaku di seluruh India, baik di perkotaan maupun pedesaan, tanpa memandang kelas sosial ekonomi.
Bahkan, emas kerap tertanam dalam budaya secara harfiah — dalam bentuk sari berhias benang emas yang diwariskan antargenerasi. Bagi banyak perempuan, emas bukan sekadar investasi, tetapi aset pribadi yang benar-benar menjadi milik mereka.
Harga Emas Tembus Rekor
Harga emas kini mencapai USD 4.000 per troy ons (1 troy ons setara 31,1 gram) untuk pertama kalinya, setelah melonjak 54 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut didorong oleh kebijakan tarif perdagangan Presiden AS, Donald Trump, serangannya terhadap pimpinan The Fed, serta ekspektasi penurunan suku bunga.
Kenaikan ini membuat para perempuan Asia Selatan yang sejak lama menabung dalam bentuk emas menjadi “pemenang” besar dalam reli harga tersebut.
“Semua yang saya miliki adalah emas,” ujar seorang ibu asal Asia Selatan dalam unggahan TikTok, memperlihatkan kalung emas 24 karat yang ia beli 28 tahun lalu. “Dulu satu gram cuma USD 12. Sekarang sudah USD 100.”
Menurut World Gold Council, India menjadi pasar perhiasan emas terbesar kedua di dunia pada 2023, hanya kalah dari Tiongkok. Pada 2021, India membeli 611 ton perhiasan emas, jauh di atas Timur Tengah yang hanya 241 ton.
Permintaan emas di India sebagian besar datang dari sektor perhiasan, dengan 11 hingga 13 juta pernikahan setiap tahun, di mana perhiasan pengantin menyumbang lebih dari 50 persen pangsa pasar emas.
Bahkan dari pemasok emas Inggris, Solomon Global, terdapat sekitar 10 persen klien pemasok emas tersebut yang berasal dari komunitas Asia Selatan, dan perusahaan tersebut mencatat kenaikan pembelian emas oleh perempuan keturunan Asia Selatan selama setahun terakhir.
“Perhiasan adalah sesuatu yang memiliki tempat yang baik dalam kehidupan manusia. Perhiasan bisa sangat berorientasi pada konsumen, tetapi juga merupakan mekanisme yang sangat baik untuk menyimpan dan mewariskan kekayaan dari generasi ke generasi,” ujar Senior Market Strategist untuk Amerika di World Gold Council, Joseph Cavatoni.
Emas Sebagai Bentuk Perlindungan Finansial
Menurut CEO World Gold Council India, Sachin Jain, masyarakat di negaranya tidak menganggap emas sebagai barang mewah, melainkan aset keluarga yang nilainya terus meningkat.
Perhiasan emas juga berfungsi sebagai perlindungan finansial nyata, terutama bagi jutaan orang — khususnya perempuan — yang tidak memiliki akses ke rekening bank atau instrumen investasi formal. Survei YouGov pada Maret lalu mencatat kurang dari 50 persen perempuan India mengelola keuangan mereka secara mandiri.
Ghani tumbuh dengan pemikiran seperti itu. Di Pakistan, ibunya mengajarinya untuk menabung uang saku dan membeli koin emas 24 karat saat jumlahnya cukup. “Kami, perempuan Timur, selalu dikenal pandai menyiapkan uang untuk hari sulit. Kami tidak hidup hanya untuk hari ini lalu lupa hari esok,” katanya.
Namun pada 2025, bukan hanya perempuan Asia Selatan yang beralih ke emas. Perang dagang Trump telah mengacaukan status quo perdagangan global, membuat investor memindahkan aset mereka dari mata uang kertas yang lebih fluktuatif.
Emas mencatat kuartal terbaik sejak 1986 di tiga bulan pertama 2025, dan lonjakan permintaan juga merembet ke logam mulia lain seperti perak dan platinum.
“Emas adalah benteng keamanan dan nilai,” ujar Manajer Kekayaan di Savvy Advisors, Joshua Barone.
Meski sesekali mengalami penurunan, harga emas telah melonjak lebih dari 2.700 persen dalam 50 tahun terakhir, menurut BullionByPost, dealer emas daring terbesar di Inggris. Sementara itu, harga perak naik lebih dari 1.000 persen di periode yang sama.
Bank Sentral Memborong
Bank sentral di India dan Tiongkok pun meningkatkan cadangan emas mereka, dengan Reserve Bank of India menambah kepemilikan sebesar 35 persen dalam lima tahun terakhir.
Masyarakat Asia Selatan sudah lama dikenal menyimpan emas di rumah mereka. Jain memperkirakan lebih dari 25.000 ton emas tersimpan di rumah-rumah di India.
Namun, mereka enggan menjual meski harga sedang tinggi. “Kali ini, orang India tidak terburu-buru menjual. Mereka melihat emas sebagai aset jangka panjang,” ujar Jain.
Sementara itu, pasar Barat cenderung membeli emas saat krisis, kata Cavatoni, “tetapi keluarga Asia Selatan sudah memegang emas selama beberapa generasi. Mereka percaya emas tumbuh seiring ekspansi ekonomi dan berkaitan dengan PDB.”
Gaya Baru, Nilai Lama
Dalam setahun terakhir, Jain, mencatat tren baru di kalangan konsumen muda India: mereka membawa perhiasan lama untuk didesain ulang menjadi gaya modern yang bisa dipakai sehari-hari, bukan hanya untuk pernikahan.
“Saya pikir konsumen muda ingin memiliki, mencintai, dan menggunakan perhiasan mereka. Mereka ingin menjadikannya bagian dari hidup mereka,” ujarnya.
Ketika putri Ghani menikah Desember lalu di Miami, ia mengubah banyak koin dan perhiasan lamanya menjadi koleksi modern untuk sang mempelai. Beberapa koin emas juga ia sisihkan untuk putranya.
“Dia ingin memakai perhiasan imitasi,” ucap Ghani sambil tersenyum. “Tapi emas itu yang paling sopan, paling elegan. Saya bilang padanya, ‘Jangan pakai apa pun selain emas.’”