Liputan6.com, Jakarta - Aktivis lingkungan Greta Thunberg disambut bak pahlawan setelah tiba di Yunani pasca dideportasi dari Israel. Saat itu, ia mengenakan kaus putih berpadu sweatpants abu-abu, dan hoodie serasi.
Melansir Daily Mail, Rabu (8/10/2025), Thunberg adalah salah satu dari lebih dari 70 aktivis, pengacara, dan jurnalis dari berbagai negara yang dideportasi setelah ditangkap di atas armada bantuan Gaza yang dicegat.
Advertisement
Ia mendarat di Bandara Internasional Athena, Yunani, di hadapan ratusan orang yang telah menunggu, yang semuanya bersorak dan meneriakkan, "Bebaskan Palestina," dan "Long live the flotilla" saat ia berjalan melewati mereka sambil memegang seikat bunga.
Aktivis itu tersenyum dan mengangkat tinjunya saat berjalan melewati kerumunan. Ia menyebut Global Sumud Flotilla sebagai "upaya terbesar yang pernah ada untuk mematahkan pengepungan ilegal dan tidak manusiawi Israel melalui laut."
"Adanya misi ini sebenarnya sungguh memalukan," tambahnya, seraya mendesak dunia untuk bertindak guna menghentikan genosida Israel terhadap Palestina. "Kita bahkan tidak melihat hal minimum dari pemerintah kita."
Greta Dijambak
Beberapa rekan aktivisnya yang ditahan di perairan internasional oleh pasukan Israel mengklaim mereka menderita serangkaian penganiayaan, mulai dari tidak diberi tidur dan obat-obatan hingga pemukulan, dan senapan otomatis yang diarahkan ke kepala mereka.
Mereka juga mengatakan bahwa mereka dikerumuni anjing, dipaksa tidur di lantai, dihina, dan dipaksa menonton rekaman serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Namun, sejumlah anggota armada lain mengatakan, mereka memperhatikan pasukan Israel tampaknya menargetkan Thunberg untuk perlakuan lebih keras.
Aktivis Turki Ersin Celik, yang ikut serta dalam Freedom Flotilla, mengatakan, "Mereka menyeret Greta (Thunberg) kecil dengan menjambak rambutnya di depan mata kami, memukulinya, dan memaksanya mencium bendera Israel. Mereka melakukan segala cara yang bisa dibayangkan padanya, sebagai peringatan bagi orang lain."
Kondisi Greta Thunberg
Lorenzo D'Agostino, seorang jurnalis Italia, menambahkan, "Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka mengibarkan bendera Israel di atasnya, sementara tentara berfoto selfie dengannya. Greta adalah wanita yang kuat dan berani, tapi selama penahanan, dia tampak sangat terguncang."
Sebuah surel yang dikirim oleh para pejabat, menurut The Guardian, berbunyi, "Kedutaan Besar telah berhasil bertemu Greta. Ia melaporkan adanya dehidrasi. Ia menerima pasokan air dan makanan yang tidak mencukupi."
Dia juga menyatakan bahwa dia mengalami ruam yang diduga disebabkan kutu busuk. Thunberg bercerita tentang perlakuan kasar dan mengatakan dia telah duduk terlalu lama di permukaan yang keras.
"Tahanan lain dilaporkan memberi tahu kedutaan lain bahwa mereka melihat dia (Thunberg) dipaksa memegang bendera saat foto diambil. Dia bertanya-tanya apakah foto-fotonya telah disebarluaskan," tambah pejabat kementerian Swedia.
Pengakuan Israel
Saverio Tommasi, seorang jurnalis Italia lainnya, menambahkan, "Saya dipukuli sejak kami memasuki pelabuhan hingga akhir. Pukulan di punggung, pukulan di kepala, dan mereka (tentara Israel) tertawa terbahak-bahak. Siapa pun yang gagal menundukkan pandangan dihukum dengan pukulan di kepala."
Kementerian luar negeri Israel sejak itu menepis semua tuduhan penganiayaan terhadap anggota armada itu sebagai "kebohongan terang-terangan," dengan mengunggah di X, akhir pekan lalu, menulis, "Hak hukum semua tahanan sepenuhnya ditegakkan."
Menteri keamanan nasional, Itamar Ben-Gvir, mengatakan dia "bangga" dengan cara staf berperilaku di Ketziot. Dia mengatakan, "Mereka (para aktivis) seharusnya merasakan dengan baik kondisi di penjara Ketziot dan berpikir dua kali sebelum mereka mendekati Israel lagi."
Para tahanan menggambarkan kondisi kurang tidur, kekurangan air dan makanan, serta beberapa yang mengaku dipukuli, ditendang, dan dikurung.