Liputan6.com, Jakarta - Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Hosei Prof. Takeshi Yuzawa menekankan pentingnya penguatan kerja sama keamanan antara Jepang dan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).
Ia menyoroti kesiapsiagaan kedua pihak menghadapi ancaman baru seperti bencana dan keamanan non-tradisional.
Advertisement
Hal ini ia sampaikan dalam diskusi bertema "Japan's Security Cooperation with ASEAN: Evaluation, Challenges, and Implications for Indo-Pacific Regional Orde" yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Dalam penyampaiannya, Yuzawa yang juga didampingi oleh Duta Besar Jepang untuk ASEAN Kiya Masahiko, Soemadi Brotodiningrat, dan Nadjib Riphat Kesoema mengatakan, jika pendekatan Jepang terhadap keamanan regional tidak didorong oleh kepentingan militer.
Melainkan oleh keinginan kuat untuk menjaga stabilitas kawasan melalui diplomasi dan pembangunan kapasitas jangka panjang.
Pendekatan dari Konsep Inter-Partis
Strategi Jepang dalam membangun keamanan kawasan bersandar pada konsep inter-partis, yaitu pendekatan kolaboratif lintas negara dan sektor.
Beberapa program konkret yang telah dilakukan antara lain pelatihan keamanan maritim, penanggulangan bencana, serta pengembangan infrastruktur strategis di Asia Tenggara.
Upaya ini juga mencerminkan keselarasan antara strategi Jepang dan visi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), sebuah kerangka kerja sama kawasan yang menekankan keterbukaan dan inklusivitas.
Hal ini terbukti pada tahun 2020, Jepang dan ASEAN telah mendukung lebih dari 80 proyek konkret di bawah implementasi AOIP.
Proyek-proyek tersebut meliputi penguatan keamanan maritim, sistem komunikasi, pembangunan pelabuhan, hingga peningkatan konektivitas digital.
Hubungan Jepang dengan ASEAN juga dibangun berdasarkan stabilitas, perdamaian, dan penghormatan terhadap hukum internasional, di mana menjadi penopang bagi tatanan regional yang tangguh dan adaptif terhadap tantangan global.
Menatap Masa Depan Indo-Pasifik
Kolaborasi yang semakin kuat bersama ASEAN semakin memungkinkan perlindungan pada setiap sektor, dan membantu potensi konflik dalam lingkungan internasional.
Ia menilai kondisi geopolitik global saat ini menandai kembalinya pengaruh kekuatan besar (Return of Superior Influence), di mana Amerika Serikat dan Tiongkok menggunakan kekuatan ekonomi, militer, dan politik untuk memperluas pengaruhnya.
Sehingga membuat kawasan Indo-Pasifik menjadi arena kompetisi strategis, khususnya pada wilayah maritim seperti Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia.
Dalam konteks tersebut, Jepang dan ASEAN muncul sebagai penyeimbang yang menguatkan kekuatan diplomasi multilateral dalam menghadapi ketegangan global.
Kekuatan dari kemitraan ini juga memperkuat diplomasi maritim, pembangunan berkelanjutan, serta keamanan ekonomi di kawasan, seperti di Jepang, Indonesia, dan Vietnam.
Yuzawa menegaskan kembali bahwa masa depan keamanan kawasan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui kemitraan strategis dan pembangunan kapasitas bersama.