Rupiah Loyo terhadap Dolar AS Hari Ini 8 Oktober 2025 Tersengat Komentar Pejabat The Fed

Berikut sejumlah sentimen yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, (8/10/2025).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 08 Oktober 2025, 10:45 WIB
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada perdagangan Rabu (8/10/2025). Rupiah melemah 57 poin atau 0,34% menjadi 16.618 per dolar AS dari sebelumnya 16.561.

Koreksi rupiah terhadap dolar AS ini dipicu pernyataan hawkish dari pejabat the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS.

"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang masih melanjutkan penguatan oleh pernyataan hawkish dari pejabat the Fed Jeff Schmid dan Nel Kashkari,” kata dia seperti dikutip dari Antara.

President of the Federal Reserve Bank of Kansas City menuturkan, Bank Sentral AS perlu terus menekan inflasi yang tetap tinggi. Adapun President of the Federal Reserve (the Fed) Bank of Minneapolis Nel Kashkari mengungkapkan setiap pemotongan suku bunga yang drastis, akan berisiko memicu inflasi.

Walaupun prospek pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis point (bps) mencapai 99 persen pada akhir Oktober ini, menurut CME Fedwatch, tetapi pernyataan-pernyataan hawkish dinilai senantiasa menurunkan peluang tersebut.

“Angka-angka inflasi di AS memang kembali naik akhir-akhir ini oleh tarif, walau Kepala Biro Statistik dan Pekerjaan (AS) sudah diganti dengan orang pilihan Trump (Presiden AS, namun tidak mengubah hal itu,” ujar  Lukman.

 

 

 

Sentimen Domestik

Teller tengah menghitung mata uang rupiah dan dolar di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (10/1). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah berada di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sedangkan dari sentimen dari domestik, penurunan cadangan devisa (cadev) Indonesia menurun ke level terendah sejak Juli 2024.

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadev pada September 2025 sebesar USD 148,7 miliar, lebih rendah dari posisi pada akhir Agustus 2025 sebesar USD 150,7 miliar. Dengan demikian, cadangan devisa turun sebesar 2 miliar dolar AS pada September 2025. "Hal ini tentunya memberikan sentimen negatif bagi rupiah,” ujar dia.

Rupiah Melemah ke Level 16.583 per USD, Ini Gara-garanya

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 20 point sebelumnya sempat melemah 45 point di level Rp 16.583 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.555.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.580 - Rp 16.530," kata Ibrahim dalam keteragannya, Senin (6/10/2025).

Adapun sejumlah faktor yang mendorong nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan sore ini, yakni faktor eksternal diantaranya poltiisi konservatif Sanae Takaichi terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal yang berkuasa di Jepang, yang akan menjadikannya perdana menteri berikutnya.

 

Sentimen Rupiah Lainnya

Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Takaichi dipandang sebagai sosok yang dovish dalam hal fiskal, dan diperkirakan akan menentang pengetatan moneter lebih lanjut oleh Bank of Japan.

"Di AS, pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga pada bulan Oktober. Para pedagang terlihat memperkirakan peluang lebih dari 99% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin di akhir Oktober, menurut CME Fedwatch," ujarnya.

Di sisi lain, para Senator Amerika Serikat gagal meloloskan proposal pengeluaran untuk membuka kembali pemerintah federal untuk keempat kalinya, memperpanjang penutupan yang sedang berlangsung hingga minggu depan. Ketidakpastian seputar penutupan pemerintah AS dan penundaan rilis data penting.

 

Ketegangan Geopolitik

Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ketegangan geopolitik juga tetap menjadi fokus. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa "diskusi yang sangat positif" telah berlangsung dengan Hamas, dan menambahkan tim teknis akan bertemu di Mesir pada hari Senin untuk mendorong perundingan damai Gaza.

Delegasi dari Israel dan Hamas diperkirakan akan tiba di Sharm el-Sheikh untuk negosiasi tidak langsung yang berfokus pada penyanderaan, penarikan pasukan, dan tata kelola pemerintahan di masa mendatang.

Sementara itu, Ukraina terus mengintensifkan serangannya terhadap fasilitas energi Rusia, menargetkan kilang Kirishi, salah satu kilang terbesar Rusia, dengan kapasitas pemrosesan tahunan melebihi 20 juta ton. Setelah, para menteri keuangan negara-negara G7 mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya