Paus Leo XIV Pilih Turki dan Lebanon untuk Kunjungan Luar Negeri Pertamanya

Apa yang melatarbelakangi pilihan Paus Leo XIV? Berikut penjelasannya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 08 Oktober 2025, 08:46 WIB
Paus Leo XIV menyapa para peziarah dari Kroasia di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Selasa (7/10/2025). (Dok. AP/Andrew Medichini)

Liputan6.com, Kota Vatikan - Paus Leo XIV mengatakan pada hari Selasa (7/10/2025) bahwa perjalanan luar negeri pertamanya, ke Turki dan Lebanon bulan depan, akan menjadi kesempatan bersejarah untuk memperkuat persatuan umat Kristen sekaligus membawa pesan damai dan harapan bagi rakyat Lebanon yang telah lama menderita, serta bagi seluruh kawasan Timur Tengah.

Bapa Suci menyampaikan rencana perjalanannya saat berbicara dengan wartawan ketika meninggalkan kediaman musim panas kepausan di luar Roma.

Dia akan terlebih dahulu mengunjungi Turki pada 27–30 November, lalu melanjutkan ke Lebanon pada 30 November–2 Desember. Di Turki, Paus Leo XIV akan berziarah ke Kota Iznik — dahulu dikenal sebagai Nicea — untuk memperingati 1.700 tahun Konsili Nicea, yaitu pertemuan besar para pemimpin gereja pertama dalam sejarah kekristenan yang menjadi tonggak pembentukan ajaran iman bersama.

Peringatan tersebut memiliki arti penting bagi hubungan antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks karena Konsili Nicea yang berlangsung pada tahun 325 M diadakan jauh sebelum terjadinya perpecahan besar yang memisahkan Gereja Timur dan Gereja Barat. Konsili tersebut diakui sebagai bagian dari warisan iman bersama oleh kedua Gereja — Katolik dan Ortodoks.

Berbicara di Castel Gandolfo, Paus Leo XIV seperti dilansir AP mengatakan, "Peringatan ini adalah momen persatuan sejati dalam iman bersama umat Ortodoks, sebuah momen bersejarah, bukan untuk menengok ke masa lalu, namun untuk menatap ke depan."

Sebelumnya, Paus Fransiskus telah berencana memperingati peristiwa ini dengan melakukan kunjungan ke Turki pada bulan Mei, atas undangan Patriark Bartholomew I — pemimpin spiritual tertinggi umat Kristen Ortodoks di seluruh dunia. Setelah Paus Fransiskus wafat pada bulan April, Paus Leo XIV menegaskan sejak awal masa kepausannya bahwa dia akan meneruskan rencana itu.

Simbol Persatuan bagi Semua

Pemimpin Gereja Maronit Lebanon Patriark Bechara Boutros Rai mengatakan bahwa rakyat Lebanon menyambut kunjungan Paus Leo XIV ini dengan sukacita besar dan harapan baru.

"Kami berharap kunjungan apostolik ini membawa harapan baru, kedamaian, dan kestabilan bagi Lebanon, serta menjadi tanda persaudaraan dan persatuan bagi seluruh rakyat — Kristen maupun Muslim — di masa yang penuh tantangan ini," ujarnya.

Paus terakhir yang berkunjung ke Lebanon adalah Paus Benediktus XVI pada September 2012 — kunjungan luar negeri terakhir dalam masa kepausannya.

Sekitar sepertiga penduduk Lebanon diyakini beragama Kristen, meski tidak ada data resmi karena sensus terakhir dilakukan pada 1932. Umat Maronit merupakan kelompok Kristen terbesar dan paling berpengaruh di Lebanon. Berdasarkan kesepakatan politik yang berlaku, jabatan presiden negara itu selalu dipegang oleh seorang Maronit.

Sikap Hati-hati Vatikan terhadap Isu Timur Tengah

Pengumuman perjalanan paus ini bertepatan dengan peringatan serangan 7 Oktober di Israel dan muncul di tengah ketegangan diplomatik antara Israel-Vatikan setelah komentar yang dianggap bermasalah dari pejabat tinggi Takhta Suci.

Dalam wawancara dengan Vatican Media, Kardinal Pietro Parolin mengutuk "pembantaian tidak manusiawi" terhadap warga Israel oleh Hamas serta meningkatnya antisemitisme. Namun, dia juga menilai bahwa tindakan Israel menghancurkan Gaza merupakan pembantaian yang tidak sepadan dan menyerukan agar negara-negara berhenti memasok senjata yang digunakan untuk melanjutkan perang tersebut. 

Kedutaan Besar Israel untuk Takhta Suci menanggapi pernyataan itu di platform X pada hari Selasa, menyebut bahwa wawancara Parolin meskipun dimaksudkan dengan baik, berisiko melemahkan upaya untuk mengakhiri perang di Gaza dan melawan meningkatnya antisemitisme.

Kedutaan juga mengkritik "penggunaan kesejajaran moral yang bermasalah" dengan menyamakan pembantaian dari kedua pihak.

Paus Leo XIV menolak menanggapi polemik itu. Dia kembali menegaskan seruannya untuk perdamaian dan dialog di Timur Tengah, khususnya di tengah serangan Israel yang terus berlangsung di Gaza. Dia mengecam serangan 7 Oktober sebagai tindakan terorisme dan menegaskan bahwa kelompok teroris tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

Namun, Leo juga menyinggung 67.000 korban jiwa di pihak Palestina sebagai bukti betapa besar kebencian yang kini menguasai dunia.

"Itu membuat kita merenungkan betapa jauh kekerasan dan kejahatan yang bisa dilakukan manusia," tutur Bapa Suci. "Kita harus mengikis kebencian, memulihkan kemampuan untuk berdialog, dan mencari jalan menuju perdamaian."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya