Liputan6.com, Jakarta - Pelestarian budaya di Asia Tenggara bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana menjadikannya tetap hidup dan relevan di masa kini.
Pesan itu mengemuka dalam sesi bertema "How to Preserve and Empower Southeast Asia’s Rich Cultural Diversity and Heritage" di ASEAN for the Peoples Conference 2025, diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di The Sultan Hotel & Residence Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Advertisement
Empat tokoh budaya dari Indonesia, Kamboja, Malaysia, dan Brunei membagikan pandangan mereka tentang bagaimana budaya dapat terus bertahan di tengah modernisasi dan perubahan sosial yang cepat.
Hilmar Farid, sejarawan sekaligus pendiri Jalim Indonesia, membuka diskusi dengan menyoroti hubungan antara manusia dan alam dalam budaya Indonesia.
"Kalau kita memandang hutan sebagai makhluk hidup, bukan sebagai benda mati yang bisa dieksploitasi, maka cara kita memperlakukannya akan sangat berbeda," ujar Hilmar.
Ia menegaskan bahwa masyarakat modern perlu belajar dari kebijaksanaan masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan dengan alam, terutama di tengah krisis iklim saat ini.
Dari Kamboja, Sopheap Chea, Direktur Eksekutif Bophana Center, berbicara tentang pentingnya teknologi dalam menghubungkan generasi muda dengan sejarah bangsanya yang terluka akibat tragedi Khmer Rouge.
"Kami mengumpulkan kenangan audiovisual, film, foto, dan suara. Kami juga mengkurasi pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi," ujarnya.
Melalui Teknologi
Bophana Center, lanjutnya, juga mengembangkan aplikasi Khmer Rouge History yang telah diunduh lebih dari 100.000 kali.
"Kami membuat aplikasi bernama Khmer Rouge History Application. Tujuannya untuk membantu anak muda memahami sejarah Khmer Rouge… sekarang sudah sekitar seratus ribu unduhan di App Store dan Play Store," tambahnya.
Melalui arsip digital, film dokumenter, dan diskusi publik, ia berharap generasi muda dapat memahami sejarah versi publik, bukan sekadar narasi negara.
Sementara itu, Sarah Lois Dorai, sutradara dan penerbit asal Malaysia, berbagi kisah tentang pelestarian bahasa suku Kelabit yang kini terancam punah.
Bahasa kami juga terancam punah. Secara resmi sudah diklasifikasikan sebagai bahasa yang hampir hilang karena sangat sedikit orang yang masih menuturkannya," katanya.
Ia menjelaskan bahwa banyak anak muda Malaysia kini berusaha kembali belajar bahasa ibu mereka melalui karya kreatif.
"Kami juga mengubahnya menjadi buku audio animasi, supaya orang bisa mendengarkan sekaligus membacanya, lalu membagikannya kepada anak-anak dan kakek-nenek mereka," jelas Sarah.
Menurutnya, pelestarian budaya bukan berarti membekukannya, melainkan menghidupkannya kembali agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Dari Brunei, Nuur Aqilah Ali, Direktur Kitani Kreatif, mengaku perjalanannya di dunia seni berawal dari pencarian identitas budaya pribadinya.
"Itulah alasan saya mendirikan Humanic Creative. Saya selalu tertarik pada seni dan kreativitas, dan melalui itu saya mencoba terhubung kembali dengan budaya saya sendiri, sekaligus berbagi dengan warga Brunei lain yang juga masih mencari makna budaya mereka,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa banyak warga Brunei masih mencari makna budaya mereka sendiri, dan proyek-proyek kreatif bisa menjadi ruang untuk mengenal kembali akar tersebut.