Polisi Sita Akun X Hacker Bjorka

Akun itu digunakan pemuda berinisial WFT (22) untuk memamerkan data hasil curian sekaligus untuk memeras sebuah bank swasta.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 04 Oktober 2025, 13:42 WIB
Hacker Bjorka Ditangkap (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta- Polisi menyita akun X alias Twitter dengan nama @Bjorkanesiaaa. Akun itu diduga digunakan pemuda berinisial WFT (22) untuk memamerkan data hasil curian sekaligus memeras sebuah bank swasta.

“Sudah kita sita akun X-nya,” kata Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, Sabtu (4/10/2025).

Penyidik Direktorat Siber Polda Metro Jaya menjadikan akun tersebut sebagai barang bukti. Menurut Fian, akun itu kini sudah ditangguhkan agar tak lagi bisa diakses publik.

Langkah ini diambil demi menjaga keaslian barang bukti, sekaligus menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Ditangguhkan di-suspend salah satu bukti bentuk penyitaan, tujuannya kan kita nggak merubah barang bukti. Di-suspend karena isinya melanggar hak pribadi seseorang. Sehingga kita lakukan suspend," ucap dia.

Dia menjelaskan, ada dua macam penangguhan akun. Pertama, suspend yang dilakukan langsung oleh pihak platform X. Kedua, suspend yang dilakukan atas permintaan penyidik. Dalam kasus ini, pihak kepolisian lah yang melakukan suspend.

"Ini bukan dilakukan X tapi dilakukan penyidik. Jadi suspend itu ada dua disuspen x secara provider maupun dilakukan penyidik sendiri," ucap dia.

Polisi Telusuri Sumber Data Dijual Bjorka

Polisi masih menyelidiki asal-usul data 4,9 juta nasabah bank swasta yang dijual WFT di dark web.

Fian menjelaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah data tersebut diperoleh WFT dengan membobol sistem bank atau diperoleh dari hacker lain untuk kemudian digunakan memeras bank swasta.

Dia mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil eksaminasi di Laboratorium Forensik Digital.

"Itu masih dicek dibukti digital, masih proses eksaminasi di Laboratorium Digital Forensik," kata Fian.

Dia menjelaskan bahwa jejak digital menjadi kunci utama dalam penyelidikan. Dari analisis tersebut, penyidik dapat mengetahui apakah WFT mengunduh data langsung dari sistem bank atau hanya menerima kiriman dari pihak lain.

"(Digital Forensik) nanti kelihatan dari jejak digital apakah data di download dari orang lain, dikirim atau dia ambil dari sebuah sistem," ucap dia.

Polisi Telusuri Keuntungan WFT dari Jual Data

Polisi masih menelusuri total keuntungan yang diperoleh WFT, pemuda yang diduga sebagai hacker Bjorka. Sejak 2020, WFT diketahui menjual data ilegal melalui forum-forum di dark web dengan sistem pembayaran menggunakan mata uang kripto.

Fian mengatakan, proses penelusuran aset masih berlangsung dan membutuhkan waktu.

"Iya masih kita hitung. Butuh waktu untuk membuka harta kekayaan," kata dia.

Menurutnya, penyidik telah mengantongi jejak transaksi penjualan data tersebut. Semua data yang dijual dibayar dengan mata uang kripto. Saat ini, tim tengah melakukan penelusuran lebih dalam untuk memastikan nilai keuntungan yang diperoleh WFT.

"Sudah ada di kita. Lagi di tracing (nilainya), cuman butuh waktu," ucap dia.

Dia juga menambahkan, penyidik akan mencocokkan data distribusi dengan pendapatan yang diterima WFT dari jalur kripto. Jika data dijual ke pihak lain, maka pendapatan tersebut bisa dilacak dari transaksi kripto yang masuk.

"Itu nanti render dengan pendapatan dia, render dengan itu. Karena ketika dia distribusi ke orang kan dapat uang. Nanti kita krocek dua arah," ucap dia.

Aktif di Dark Web Sejak 2020

Polisi berhasil menangkap pemuda berinisial WFT yang diduga hacker Bjorka pada Selasa, 23 September 2025. Pemuda bertubuh langsing itu ditangkap di Desa Totolan, Kecamatan Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara.

Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus mengungkapkan, WFT mulai beraksi di dark web sejak 2020. Dia awalnya menggunakan akun Bjorka dan @bjorkanesia.

Lewat akun itu, WFT mengunggah database nasabah salah satu bank swasta Indonesia. Dia juga mengambil tampilan database akun nasabah bank lain dari dark forum.

"Pelaku ini bermain di dark web, sudah mulai mengeksplore sejak tahun 2020," kata Fian kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (2/10/2025).

Gonta Ganti Nama Akun

Sejak akhir 2024, WFT mulai gonta ganti nama akun. Dari nama Bjorka berganti ke SkyWave. Pada Maret 2025, dia mengganti nama akun lagi menjadi Shint Hunter.

"Kemudian pada bulan Agustus 2025 berubah nama lagi menjadi Oposite 6890," imbuh Fian.

Fian membeberkan alasan WFT gonta ganti akun di forum dark web. Pelaku ingin menyamarkan identitas dirinya.

Penyamaran ini membuat polisi sulit melacak siapa di balik akun Bjorka, SkyWave, Shint Hunter, dan Oposite 6890.

Fian mengungkapkan, butuh waktu selama enam bulan untuk menangkap WFT. Polisi melacak hingga mengumpulkan bukti sebelum mencokok WFT.

"Kami membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk bisa melacak, mengumpulkan alat bukti, kemudian menangkap pelaku," kata Fian.

Infografis Klaim dan Ancaman Hacker Bjorka Bocorkan Data Bikin Gerah Kominfo hingga Istana. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya