Pertama dalam Sejarah, Gereja Inggris Akan Dipimpin Perempuan

Siapa sosok perempuan yang dimaksud? Berikut penjelasan selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 Oktober 2025, 11:58 WIB
Sarah Mullally, yang diumumkan sebagai Uskup Agung Canterbury berpose di hadapan media di dalam Katedral Canterbury, Inggris, pada Jumat (3/10/2025). (Dok. AP/Alberto Pezzali)  

Liputan6.com, London - Uskup London Sarah Mullally (63) pada hari Jumat (3/10/2025) diumumkan sebagai Uskup Agung Canterbury berikutnya. Hal ini menandai untuk pertama kalinya seorang perempuan dipilih sebagai pemimpin spiritual Gereja Inggris.

Mullally, mantan perawat kanker yang menjadi Kepala Perawat Nasional termuda di Inggris sebelum masuk ke dunia imamat, menghadapi tantangan serius di gereja yang mencakup perpecahan terkait perlakuan terhadap perempuan dan kaum LGBTQ. Dia juga harus menghadapi kekhawatiran bahwa para pemimpin gereja belum cukup tegas memberantas skandal pelecehan seksual yang membayangi gereja lebih dari satu dekade terakhir.

Penunjukan Mullally sebagai Uskup Agung Canterbury menandai sebuah tonggak sejarah besar bagi gereja yang baru menahbiskan imam perempuan pertama pada 1994 dan uskup perempuan pertama pada 2015. Dia mengikuti jejak 105 laki-laki yang telah memegang jabatan tersebut sejak Santo Agustinus menjadi Uskup Agung Canterbury pertama pada tahun 597.

"Dulu pernah ada masa di mana imam perempuan — gagasan itu — terasa mustahil," kata George Gross, pakar monarki dan pemikiran keagamaan modern di King’s College London seperti dikutip AP. "Namun, kita sudah berjalan jauh sejak itu. Dan jika Anda bisa punya perdana menteri perempuan, punya ratu, maka kenapa tidak punya uskup agung perempuan di Canterbury?"

Mullally akan menggantikan Justin Welby, yang mengumumkan pengunduran dirinya pada November setelah sebuah investigasi independen menemukan bahwa dia gagal memberi tahu polisi tentang kekerasan fisik dan pelecehan seksual berulang yang dilakukan oleh seorang relawan di perkemahan musim panas Kristen, segera setelah dia mengetahuinya.

"Uskup agung yang baru akan menghadapi penurunan jumlah jemaat, struktur manajemen yang gemuk, serta pertengkaran di kalangan rohaniwan mengenai isu-isu seputar seksualitas," tutur Andrew Graystone, seorang advokat bagi para penyintas pelecehan di gereja. "Namun, tantangan terbesar bagi uskup agung baru adalah memulihkan kembali kepercayaan setelah satu dekade skandal pelecehan."

Pesan Pertama Mullally Pasca Penunjukan

Mullally untuk pertama kalinya berbicara kepada jemaat dalam perannya yang baru dari mimbar di Katedral Canterbury. Dia membuka dengan doa, lalu menyampaikan harapan yang dia lihat di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian serta pergumulan dalam gereja. Dalam pesannya, dia menyinggung adanya warisan luka mendalam dan ketidakpercayaan akibat kegagalan gereja melindungi jemaat dari pelecehan.

Dia turut menyinggung sejumlah isu penting yang dihadapi bangsa. Di antaranya adalah migrasi yang telah menimbulkan perpecahan politik, serta perdebatan di Parlemen mengenai rancangan undang-undang untuk melegalkan kematian dengan bantuan (assisted dying), yang mana dia tolak. Selain itu, dia menyinggung pula "kekerasan mengerikan" dalam serangan terhadap sinagoge di Manchester saat Yom Kippur, hari paling suci dalam tahun Yahudi, yang jatuh pada Kamis (2/10).

"Kita sedang menyaksikan kebencian yang muncul melalui retakan di tengah komunitas kita," beber Mullally. "Saya tahu bahwa Tuhan yang menyertai kita juga hadir dekat dengan mereka yang menderita. Karena itu, sebagai gereja, kita memiliki tanggung jawab untuk berdiri bersama komunitas Yahudi dalam melawan antisemitisme dalam segala bentuknya. Segala bentuk kebencian dan rasisme tidak boleh dibiarkan memecah belah kita."

Komuni Anglikan memiliki lebih dari 85 juta anggota yang tersebar di 165 negara, termasuk Gereja Episkopal di Amerika Serikat. Setiap gereja nasional memang memiliki pemimpin masing-masing, namun Uskup Agung Canterbury tetap dipandang sebagai yang pertama di antara para pemimpin itu.

Mullally menegaskan bahwa ini adalah momen bersejarah bagi gereja, sekaligus momen penuh sukacita baginya secara pribadi maupun bagi banyak orang. Namun, dia mengakui adanya perpecahan dalam Komuni Anglikan dan menyadari bahwa pencalonannya tidak akan disambut baik di semua kalangan.

Dia menyampaikan terima kasih kepada para perempuan yang telah mendahuluinya dan menegaskan niatnya untuk menjadi seorang gembala dalam gereja agar pelayanan dan panggilan iman orang lain dapat tumbuh dan berkembang.

"Saya tidak akan selalu melakukan segala sesuatu dengan benar," kata dia. "Namun, saya dikuatkan oleh pemazmur yang mengatakan, 'Meskipun engkau tersandung, engkau tidak akan jatuh terjerembab, sebab Tuhan memegang tanganmu erat-erat.' Saya percaya pada kebenaran kata-kata itu — bagi saya, bagi Anda, bagi Gereja Inggris, dan bagi bangsa ini."

Sementara itu, Konferensi Masa Depan Anglikan Global (Gafcon) — yang beranggotakan uskup agung Nigeria, Rwanda, dan Uganda, serta sering mengkritik pemberkatan pernikahan sesama jenis oleh gereja — menyatakan bahwa penunjukan Mullally merupakan hal yang menyedihkan dan justru akan semakin memecah gereja. Mereka menilai Mullally telah "mempromosikan ajaran yang tidak alkitabiah dan bersifat revisionis mengenai pernikahan dan moralitas seksual."

Pendeta Laurent Mbanda, mewakili kelompok tersebut, menyatakan, "Meski ada sebagian yang akan menyambut keputusan mengangkat Uskup Mullally sebagai Uskup Agung Canterbury perempuan pertama, mayoritas Komuni Anglikan masih percaya bahwa Alkitab mensyaratkan episkopasi hanya untuk laki-laki. Karena itu, penunjukan ini akan membuat Uskup Agung Canterbury mustahil menjadi pusat persatuan dalam komuni."

Reaksi Vatikan dan Raja Charles III atas Penunjukan Mullally

Vatikan menyampaikan selamat kepada Mullally dan mendoakan yang terbaik saat dia menghadapi tantangan besar di depan.

Kardinal Kurt Koch, prefek kantor Vatikan untuk hubungan dengan umat Kristen lainnya, mengatakan, "Saya berdoa agar Tuhan memberkati Anda dengan semua karunia yang Anda perlukan untuk pelayanan yang berat dan penuh tanggung jawab, yang kini menjadi panggilan Anda. Kiranya Tuhan memberikan kepada Anda segala yang Anda butuhkan untuk menjadi alat persekutuan dan kesatuan bagi umat beriman di tengah mereka yang akan Anda layani."

Gereja Katolik dan Gereja Anglikan berpisah pada tahun 1534, setelah Raja Inggris Henry VIII gagal memperoleh pembatalan pernikahannya. Lebih dari lima abad kemudian, kedua gereja memang telah menjalin dialog teologis resmi selama beberapa dekade. Meski begitu, perbedaan tetap besar dalam banyak hal, termasuk soal keberadaan uskup perempuan dan sikap terhadap komunitas LGBTQ+. 

Mullally secara resmi akan dilantik sebagai Uskup Agung Canterbury dalam sebuah upacara di Katedral Canterbury pada Januari 2026. Setelah itu, dia akan ditahbiskan dalam upacara formal yang kemungkinan besar dihadiri anggota keluarga Kerajaan Inggris.

Raja Charles III, yang menyetujui pencalonannya, menyampaikan selamat kepada Mullally dan menekankan pentingnya peran barunya, yang akan membawa dampak di seluruh dunia.

Proses penunjukan Mullally sendiri berlangsung hampir setahun. Komite yang menentukannya terdiri dari sekitar 20 orang dan dipimpin oleh mantan direktur jenderal MI5, badan intelijen dalam negeri Inggris.

Proses ini tidak berlangsung transparan. Tidak ada daftar calon yang dipublikasikan maupun pemungutan suara terbuka. Mekanismenya lebih berupa proses panjang dengan mendengarkan berbagai kelompok kepentingan untuk mencari tahu uskup mana di antara yang ada saat ini yang dianggap mampu memimpin gereja ke depan.

Disebutkan sudah ada antisipasi bahwa untuk pertama kalinya seorang perempuan bisa dipilih, meskipun Mullally bukan termasuk di antara mereka yang semula dipandang sebagai kandidat terdepan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya