Bitcoin Tembus USD 120.000 di Tengah Shutdown Pemerintah AS

Kenaikan Bitcoin juga berimbas ke aset kripto lain seperti Ethereum, Solana, dan XRP yang sama-sama mencatat penguatan signifikan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Oktober 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin melesat menembus level USD 120.000 atau kurang lebih Rp 2 miliar) setelah penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) menghentikan rilis data ekonomi resmi. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa The Federal Reserve dapat menurunkan suku bunga lebih cepat, sehingga mendorong investor masuk ke aset berisiko seperti kripto.

Dikutip dari coinmarketcap, Sabtu (4/10/2025), lonjakan harga ini sekaligus memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Kenaikan Bitcoin juga berimbas ke aset kripto lain seperti Ethereum, Solana, dan XRP yang sama-sama mencatat penguatan signifikan.

Menurut Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, penutupan pemerintah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan pekerja. Meski begitu, belum ada pernyataan resmi dari Ketua The Fed Jerome Powell maupun tokoh kripto utama terkait lonjakan ini.

Selain itu, meningkatnya minat terbuka (open interest) pada kontrak berjangka dan opsi BTC menambah volatilitas pasar. Sejarah menunjukkan, setiap kali penutupan pemerintah AS terjadi, aset berisiko biasanya mengalami gejolak.

Namun kali ini, momentum justru dimanfaatkan pasar kripto untuk menguat, sejalan dengan narasi bahwa aset terdesentralisasi bisa menjadi alternatif di tengah jeda regulasi dan ketidakpastian ekonomi global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya