Pendeta Honduras Dikecam Usai Minta Jemaat Serahkan Tanah Miliknya dengan Alasan Permintaan dari Tuhan

Pendeta ini mengklaim telah diperintahkan Tuhan untuk menyampaikan pesan bahwa jemaat harus menyerahkan tanahnya jika ingin menerima berkat yang lebih besar.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 29 September 2025, 08:02 WIB
Ilustrasi gereja. (Photo by Andrew Seaman on Unsplash)

Liputan6.com, Tegucigalpa - Sebuah video viral dari Honduras memicu kontroversi luas di kalangan masyarakat Amerika Latin.

Rekaman tersebut memperlihatkan Jorge Pompa, seorang pendeta evangelis dari Tegucigalpa, yang tampak mendesak seorang jemaat untuk menyerahkan tanah miliknya kepada Gereja sebagai bentuk “ujian iman” dengan janji imbalan besar dari Tuhan.

Dalam video yang ramai dibagikan di media sosial selama berminggu-minggu itu, Pompa berdiri di hadapan jemaatnya dan mengatakan bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya pada malam sebelumnya.

Ia mengklaim diperintahkan untuk menyampaikan pesan bahwa sang jemaat harus menyerahkan tanahnya jika ingin menerima berkat yang lebih besar, dikutip dari laman Oddity Central, Senin (29/9/2025).

“Tuhan berkata kepadaku: ‘Aku memberinya kehidupan, anak-anaknya, dan Aku bisa memberinya lebih banyak lagi jika ia memberikan tanah itu.’ Jika dia menyimpannya, dia hanya akan punya 130 ribu dolar. Tapi jika dia memberikannya kepada-Ku, Aku akan memberinya 500 ribu dolar—jika dia cukup beriman untuk percaya,” ujar Pompa dalam video tersebut.

Pendeta itu bahkan menekan lebih jauh: “Apa yang kau inginkan, uang atau berkat Tuhan? Aku ingin surat tanahmu, aku ingin tanah itu sekarang. Bagaimana mungkin kau menjual sesuatu kepada Tuhan, jika Dia sudah memberimu segalanya?”

Reaksi Keras Publik

Video itu langsung menuai kecaman luas. Banyak warganet menuduh Pompa telah mengeksploitasi jemaatnya demi keuntungan pribadi, bahkan ada yang menilai tindakannya layak diproses secara hukum.

“Ini adalah bentuk penyerangan dalam arti sebenarnya. Pihak berwenang harus turun tangan,” tulis seorang pengguna media sosial.

Komentar senada juga muncul dari banyak pihak yang menilai pendeta itu “memanfaatkan iman orang lain.”

Namun, ada pula sebagian kecil yang membela Pompa, dengan alasan bahwa ia hanya menjalankan kehendak Tuhan. Meski begitu, pakar menilai klaim semacam itu akan sulit dibuktikan secara hukum.

 

Suara Teolog

Ilustrasi kristiani, gereja. (Photo by Aaron Burden on Unsplash)

Teolog Juan Carlos Soto mengingatkan bahwa tindakan seperti itu justru merusak kepercayaan umat terhadap pemimpin rohani.

“Pemimpin spiritual harus menjaga integritas dan kerendahan hati saat membimbing umatnya. Nama Tuhan tidak boleh dipakai untuk mengejar keuntungan materi,” tegasnya.

Kontroversi ini menyoroti kembali isu lama mengenai penyalahgunaan otoritas oleh sebagian pemimpin agama, terutama dalam konteks finansial, yang kerap meninggalkan jemaat dalam posisi rentan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya