Kisah Wak Daeng, Nelayan Ketapang yang Menantang Takdir Ombak

Wak Daeng terjebak badai saat melaut. Cuaca yang biasanya bersahabat, berubah menjadi arena pertarungan hidup dan mati.

oleh Aceng MukaramDiperbarui 24 September 2025, 14:43 WIB
Nelayan Wak Daeng

Liputan6.com, Jakarta Langit Ketapang sore itu memerah seperti luka lama. Di tepi Jalan Gajah Mada, Kelurahan Sampit, seorang lelaki duduk menunduk. Anto, atau Wak Daeng, nama yang akrab di bibir para tetangga, menatap kosong seolah masih mendengar raungan laut.

Usianya 42 tahun, tapi guratan di wajahnya seolah menulis cerita yang jauh lebih tua. Matanya basah, senyum kecil berulang kali pecah, seperti perahu yang diguncang arus.

Laut adalah rumah sekaligus arena pertaruhan. Bukan panggung romantis berpantai putih seperti di brosur wisata, tapi hamparan ganas yang menelan mimpi dan nyawa. Wak Daeng paham benar risikonya. Namun ekonomi tak mengenal kata “nanti.”

Di balik setiap langkahnya, terhampar alasan: perut keluarga yang harus kenyang, biaya hidup yang tak mau menunggu.

Tanggal 19 September 2025, fajar masih menggigil ketika ia mendorong kapal motor biru tuanya, berbekal keberanian dan sedikit logistik. Tujuannya Pulau Meledang, perairan Kayong Utara Kalimantan Barat. Hanya dua hari rencana awalnya. Tapi dua hari itu mekar menjadi ketakutan yang tak terukur.

Di rumah, teleponnya senyap, radio komunikasi pun membisu. Waktu berjalan seperti pasir jatuh tanpa bunyi. Hingga 23 September, tak ada kabar. Sementara di darat, gelisah menular seperti penyakit.

SAR Pontianak menerima laporan hilangnya nelayan tangguh itu. Kepala Kantor SAR, I Made Junetra, menggerakkan tim gabungan.

"Wak Daeng itu berlindung dari badai saat melaut, sehingga lewat dari waktunya untuk pulang," kata Made Junetra kepada Liputan6.com, Rabu (24/09/2025).

Mereka menelusuri jalur perahu, dari Muara Ketapang sampai Pulau Meledang, menantang gelombang, menyisir radius enam nautical mile. Empat jam pencarian yang terasa seperti seabad.

Pulang dari Rahang Laut

Lalu kabar pecah, membawa napas panjang. Wak Daeng ditemukan. Sepuluh nautical mile dari Muara Ketapang, lelaki itu terapung bersama kapalnya. Tubuhnya lelah, tapi mata masih memegang bara hidup.

Ia pulang bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai bukti bahwa harapan keras kepala bisa menunda maut.

Proses evakuasi selesai, tubuhnya dibawa kembali ke rumah. Warga berkerumun, menyambut dengan campuran lega dan rasa bersalah. Bagaimana mungkin seorang ayah harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk memenuhi dapur?

Di sudut rumahnya yang sederhana, Wak Daeng tak banyak bicara. Kata-kata tak cukup menggambarkan pertemuannya dengan gelapnya laut. Ia hanya sesekali menghela napas panjang, seakan menakar kembali keputusan-keputusannya.

Namun kisahnya bukan sekadar cerita keberanian. Ini juga potret getir yang terlalu akrab bagi banyak nelayan pesisir Kalimantan Barat. Harga ikan yang tak menentu, bahan bakar melambung, dan kebijakan yang sering hanya indah di atas kertas membuat mereka berdiri di tepi jurang setiap kali melaut.

Laut adalah ladang sekaligus lotre maut. Setiap keberangkatan adalah taruhan, setiap kepulangan adalah anugerah. Wak Daeng mungkin selamat kali ini, tapi berapa banyak nama lain yang hilang di balik ombak tanpa sempat diceritakan?

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya