Rupiah Masih Bakal Melemah, Siap-Siap Tenggelam ke Level Segini

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan melanjutkan tren pelemahan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 24 September 2025, 11:30 WIB
Petugas menghitung uang pecahan US$100 di pusat penukaran uang, Jakarta, , Rabu (12/8/2015). Reshuffle kabinet pemerintahan Jokowi-JK, nilai Rupiah terahadap Dollar AS hingga siang ini menembus Rp 13.849. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan melanjutkan tren pelemahan.

Menurut Ibrahim, nilai tukar rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 16.720 hingga Rp 16.870 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meskipun terdapat sejumlah sentimen positif, seperti revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF.

"Untuk Rupiah sendiri kemungkinan besar di perdagangan besok (hari ini Selasa 23 September 2025) masih akan melemah, ada kemungkinan besar di Rp 16.720 sampai Rp 16.870," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (24/9/2025).

Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi oleh faktor global dan domestik yang belum stabil membuat rupiah sulit untuk menguat signifikan.

Salah satu faktor yang menahan penguatan rupiah adalah proses penyesuaian pasar terhadap pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut Ibrahim, euforia pasar terhadap kepemimpinan Sri Mulyani belum sepenuhnya beralih ke Purbaya.

"Indikasi tentang ekonomi di Indonesia terutama adalah pasca pergantian antara Sri Mulyani ke Purbaya, ini memang membuat satu penyesuaian dari pelaku pasar yang dulu sempat begitu antusias dengan kebijakan-kebijakan dari Sri Mulyani saat ini sedang sedikit mengalami penurunan," ujarnya.

 

Kebijakan Menkeu Baru Pengaruhnya ke Pasar Keuangan

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ia menambahkan, kebijakan Purbaya sejauh ini belum memberikan sinyal kuat yang bisa menenangkan pasar. Kondisi ini menciptakan keraguan, sehingga rupiah cenderung lebih rentan terhadap guncangan eksternal.

Investor kini menunggu arah kebijakan fiskal yang lebih jelas agar keyakinan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia kembali meningkat. Tanpa itu, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.

"Kemudian di sisi lain pun juga kita melihat bahwa kebijakan-kebijakan saat ini pun juga masih belum diterima oleh pasar, ya apa yang dilakukan oleh Purbaya," ujarnya.

 

Tekanan Global Masih Jadi Ancaman

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memastikan keseimbangan supply dan demand di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari dinamika global. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melemah memang membuka peluang penurunan suku bunga The Fed pada Oktober, namun pasar global belum bereaksi positif terhadap hal tersebut.

Sementara itu, konflik geopolitik di Eropa dan Timur Tengah semakin memperburuk kondisi. Rusia yang terus menyerang Ukraina serta agresi Israel di Gaza membuat ketidakpastian global kian memanas.

"Di Timur Tengah sendiri kita melihat bahwa pasca PBB diumumkan Israel terus menggempur wilayah-wilayah Jalur Gaza dan ingin menguasai 100% wilayah tersebut," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya