Liputan6.com, Washington, DC - Donald Trump kembali menggemparkan dunia pers Amerika Serikat (AS). Kali ini, dia menyeret The New York Times ke pengadilan.
Dalam gugatannya, Trump menuntut ganti rugi fantastis: USD 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp246 triliun. Targetnya bukan hanya korporasi, namun juga empat jurnalis yang dia tuding mencemarkan nama baiknya melalui sebuah buku dan tiga artikel yang keluar hanya dalam kurun waktu dua bulan menjelang pemilu terakhir.
Advertisement
Pada Selasa (16/9/2025) pagi, melalui akun Truth Social, Trump mengumumkan langkah barunya ini. Dia menuding The Times sebagai "salah satu surat kabar terburuk dan paling bejat dalam sejarah bangsa" serta menyebutnya corong bagi Partai Demokrat. Gugatan itu resmi diajukan di Pengadilan Distrik AS di Florida.
The Times menolak tudingan tersebut. Melalui juru bicara Charlie Stadtlander, mereka menyebut gugatan itu tidak lebih dari upaya intimidasi.
"The New York Times tidak akan goyah menghadapi taktik semacam itu," tegas Stadtlander seperti dilansir AP.
Trump memang punya rekam jejak serupa. Sebelumnya, Dia menggugat ABC News dan program "60 Minutes" di CBS. Kedua kasus itu berakhir dengan penyelesaian di luar pengadilan. Bulan Juli lalu, giliran The Wall Street Journal dan Rupert Murdoch yang menjadi sasaran setelah surat kabar itu menulis soal kaitannya dengan Jeffrey Epstein, finansier kaya sekaligus pelaku kejahatan seksual.
Kali ini, Trump menuding karya jurnalis Russ Buettner dan Susanne Craig sebagai pemicu. Mereka menulis artikel dan buku yang membongkar keuangan Trump, serta menyinggung kiprahnya di televisi lewat acara "The Apprentice". Bagi Trump, tuduhan bahwa produser televisi Mark Burnett-lah yang mengubahnya menjadi selebritas adalah kebohongan.
"Saat itu saya sudah mega-selebritas, sudah sangat sukses dalam bisnis," tulisnya dalam gugatan setebal 85 halaman.
Trump menyerang pula tulisan yang mengungkit bisnis awalnya bersama sang ayah, Fred Trump.
Tidak berhenti di situ. Dalam gugatannya, Trump turut menyoroti artikel karya Peter Baker berjudul "For Trump, a Lifetime of Scandals Heads Toward a Moment of Judgment" dan tulisan Michael S. Schmidt berjudul "As Election Nears, Kelly Warns Trump Would Rule Like a Dictator". Menurutnya, The Times tidak pernah bisa menerima kemenangan dirinya pada 2016 dan tidak sanggup membayangkan kemungkinan dia menang besar lagi. Bahkan, meski tidak masuk dalam gugatan, dia juga menyindir dukungan editorial The Times kepada Kamala Harris tahun lalu, yang dia cap "ngawur".
Di Truth Social, Trump menulis dengan gaya khasnya, "The Times telah berpuluh-puluh tahun berbohong tentang Presiden Favorit Anda (SAYA!), keluarga saya, bisnis saya, gerakan America First, MAGA, dan bangsa kita. Saya BANGGA menuntut pertanggungjawaban mereka atas kebohongan ini."
Meski selama ini tidak satu pun gugatannya melaju hingga meja persidangan, Trump menyebut penyelesaian kasus dengan ABC News dan CBS News sebagai bukti keberhasilannya dalam memulihkan integritas jurnalisme.
Gugatan Trump Dinilai Sarat Gertakan, Minim Fakta
Meski selama ini tidak satu pun gugatannya melaju hingga meja persidangan, Trump menyebut penyelesaian kasus dengan ABC News dan CBS News sebagai bukti keberhasilannya dalam memulihkan integritas jurnalisme.
Kasus ini pun dipandang oleh pakar hukum sebagai langkah politis. Katie Fallow dari Knight First Amendment Institute menilai gugatan Trump tidak masuk akal.
"Banyak gertakan, sedikit fakta. Tidak ada tuduhan spesifik yang bisa memenuhi standar ketat pencemaran nama baik bagi figur publik," ujarnya.
Menurutnya, tujuan Trump bukan pemulihan nama baik, melainkan membebani media dengan biaya hukum dan menciptakan efek gentar agar liputan kritis berkurang.
Meski begitu, The Times bersikeras tetap menjalankan misi jurnalistik.
"Kami akan terus mengejar fakta tanpa rasa takut atau pilih kasih, serta membela hak Amandemen Pertama jurnalis," tutur Stadtlander.
Penerbit Penguin Random House juga angkat bicara, menyatakan mereka tetap mendukung karya Buettner dan Craig, yakni buku "Lucky Loser: How Donald Trump Squandered His Father’s Fortune and Created the Illusion of Success."