Liputan6.com, Jakarta Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status Gunung Api Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Level IV (awas) menjadi Level III (siaga) terhitung tanggal 16 September 2025 pukul 15.00 WITA.
Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, sebelumnya pada tanggal 6 September 2025 Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan kenaikan aktivitasnya sehingga dinaikkan dari Level III (siaga) ke Level IV (awas).
Advertisement
"Setelah dinaikkan ke Level IV (awas) Gunung Lewotobi Laki-laki mengalami beberapa kali erupsi. Dan, saat ini Gunung Lewotobi Laki-laki mulai terlihat mengalami penurunan aktivitas," jelas Wafid dalam keterangan tertulisnya, Bandung, Selasa (16/09/2025).
Wafid mengatakan pengamatan secara visual periode 9 sampai 16 September 2025 pukul 08.00 WITA, menunjukkan gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan intensitas sedang.
Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50 -700 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke utara, timur laut, barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara 18-33.5 derajat Celcius.
"Terjadi guguran, namun secara visual, jarak dan arah luncuran tidak teramati," ungkap Wafid.
Pengamatan serupa juga menunjukkan tinggi asap fluktuatif dan cenderung menurun, dengan tekanan lemah hingga sedang. Asap yang keluar melalui rekahan di sisi barat laut dan di sisi timur laut terlihat tipis.
Asap yang keluar di area rekahan tersebut merupakan zona lemah yang dapat berpotensi sebagai titik lokasi erupsi yang bersifat directed blast (erupsi langsung searah) yang dapat mengarah ke barat laut, utara, timur laut dan barat dari Gunung Lewotobi Laki-laki.
"Jenis gempa yang terekam selama periode 9 - 16 September 2025 pukul 08.00 WITA yaitu 8 kali gempa guguran, 19 kali gempa embusan, 4 kali gempa tremor harmonik, 181 kali gempa tremor non-harmonik, 7 kali gempa low frequency, 49 kali gempa vulkanik dalam, 12 kali tektonik lokal, dan 41 kali gempa tektonik jauh," kata Wafid.
Wafid menuturkan data kegempaan menunjukkan pola fluktuasi dengan dominasi gempa tremor non harmonik setiap hari.
Untuk gempa vulkanik dalam, embusan guguran, dan gempa tektonik lokal masih muncul namun dalam jumlah lebih sedikit bila dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya.
"Pola kegempaan secara umum memperlihatkan fluktuasi aktivitas kegempaan yang masih cukup tinggi, menunjukkan dinamika pergerakan magma dan fluida di bawah permukaan yang belum stabil, serta dapat dipengaruhi oleh faktor tektonik di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki," tutur Wafid.
Sementara data perubahan bentuk fisik gunung (deformasi) dengan instrumen tiltmeter periode ini menunjukkan pola fluktuasi namun relatif stabil, menandakan suplai magma ke bagian dangkal yang belum signifikan.
Data Global Navigation Satellite System (GNSS) merekam dalam lima hari terakhir menunjukkan pola deflasi yang tidak memperlihatkan adanya suplai magma yang signifikan, bergerak ke bagian dangkal.
Rekomendasi
Keputusan Badan Geologi Kementerian ESDM menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-laki diikuti dengan sejumlah rekomendasi.
"Masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki dan pengunjung atau wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi," sebut Wafid.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, dan tidak mempercayai informasi dari sumber yang tidak jelas.
Untuk masyarakat di wilayah rawan bencana perlu mewaspadai potensi banjir lahar jika terjadi hujan lebat, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak, seperti Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
"Warga yang terdampak hujan abu disarankan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk melindungi saluran pernapasan," ucap Wafid.
Abu vulkanik dari erupsi berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan, terutama jika sebarannya mengarah ke area bandara atau jalur lintasan pesawat.
Badan Geologi mengimbau pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, serta dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi.