Liputan6.com, Warsawa - Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, negaranya berada pada titik terdekat dengan konflik militer. Pernyataan itu dia sampaikan ketika Warsawa bersama sekutu NATO tengah menimbang respons atas pelanggaran wilayah udara Polandia oleh drone yang disebut milik Rusia.
Pada Rabu (10/9/2025) dini hari, Rusia melancarkan serangan drone ke Ukraina yang kemudian melanggar wilayah udara NATO. Polandia bersama pasukan NATO merespons dengan mengerahkan pertahanan udara dan berhasil menembak jatuh setidaknya tiga drone. Serangan Rusia yang mencapai wilayah NATO ini menjadi insiden paling signifikan sejak invasi besar-besaran dimulai lebih dari tiga tahun lalu.
Advertisement
Setelah kejadian itu, Polandia mengaku bahwa sekutu NATO telah membuat proposal konkret untuk memperkuat pertahanan udara negara tersebut. Inggris tengah mempertimbangkan pengerahan jet tempur Typhoon sebagai bagian dari misi patroli udara yang ditingkatkan guna melindungi sayap timur aliansi.
Tusk menuturkan setidaknya ada 19 pelanggaran wilayah udara Polandia pada malam kejadian dan beberapa di antaranya memasuki Polandia dari wilayah Belarus. Empat bandara Polandia, termasuk dua yang melayani Warsawa, ditutup untuk lalu lintas selama insiden itu. Perdana menteri Belanda Dick Schoof menyebutkan jet F-35 dari negaranya ikut serta dalam misi mencegat drone.
"Kita sedang berhadapan dengan provokasi berskala besar … Kita siap menghadapi provokasi semacam itu. Situasinya serius dan tidak ada yang meragukan bahwa kita harus bersiap menghadapi berbagai skenario," ujar Tusk, yang menggelar rapat darurat kabinet pada Rabu pagi waktu setempat seperti dikutip dari The Guardian.
Melalui unggahan di media sosial, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut berkomentar, "Apa-apaan ini, Rusia melanggar wilayah udara Polandia dengan drone? Ya ampun, dimulai lagi!"
Gedung Putih mengatakan Trump akan berbicara dengan presiden baru Polandia, Karol Nawrocki, sementara Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker menegaskan dukungan bagi Warsawa di tengah kekhawatiran Eropa atas bagaimana pemerintahan Trump akan merespons serangan Rusia terhadap NATO.
"Kami berdiri bersama sekutu NATO kami menghadapi pelanggaran wilayah udara ini dan akan membela setiap jengkal wilayah Nato," tulis Whitaker di X.
Desakan Zelenskyy
Menteri pertahanan Inggris John Healey mengatakan dia telah meminta angkatan bersenjata Inggris untuk melihat opsi memperkuat pertahanan udara NATO di atas Polandia. Dia berbicara setelah pertemuan E5, yakni forum lima negara Eropa yang terdiri atas Prancis, Jerman, Inggris, Italia, dan Polandia. Menteri pertahanan Polandia meninggalkan pertemuan itu lebih awal untuk pulang akibat insiden drone tersebut.
"Hari ini, sebagai lima negara, kami mengatakan kepada Presiden Putin: agresi Anda hanya membuat persatuan di antara negara-negara NATO semakin kuat; agresi Anda hanya menambah tekad kami untuk berdiri bersama Ukraina," tutur Healey.
Rusia hampir setiap malam menyerang Ukraina dengan drone kamikaze besar rancangan Iran, yang secara informal disebut Shahed. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada Rabu pagi bahwa 415 drone dan 40 rudal telah digunakan dalam serangan semalam, sebagian besar menargetkan wilayah barat negara itu. Satu orang tewas di wilayah Zhytomyr.
Zelenskyy mendesak negara-negara NATO untuk melancarkan respons tegas atas pelanggaran ke Polandia.
"Moskow selalu menguji batas kemungkinan dan jika tidak mendapat reaksi kuat, akan melangkah ke tingkat eskalasi berikutnya," tulis Zelenskyy di media sosial. "Hari ini adalah langkah eskalasi lainnya … Bukan satu 'Shahed', yang bisa disebut kecelakaan, namun setidaknya delapan drone serang yang menargetkan Polandia."
Kementerian Pertahanan Rusia merilis pernyataan pihaknya tidak berniat menyerang target apa pun di wilayah Polandia, tanpa mengonfirmasi atau menyangkal apakah drone mereka memasuki wilayah udara Polandia.
"Kami siap mengadakan konsultasi terkait masalah ini dengan Kementerian pertahanan Polandia," sebut pernyataan yang sama.
Rusia Sebut Tidak Ada Bukti
Kuasa usaha Rusia di Polandia Andrei Ordash menyebut tuduhan terhadap Moskow tidak berdasar, dengan mengatakan belum ada bukti yang diajukan yang membuktikan drone ini berasal dari Rusia.
Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengatakan Warsawa tidak ragu bahwa ini adalah serangan yang disengaja.
"Ketika satu atau dua drone melakukannya, mungkin saja itu kerusakan teknis, tapi … dalam kasus ini ada 19 pelanggaran dan sulit dibayangkan itu bisa terjadi secara kebetulan," kata dia.
Pejabat Polandia dan Eropa lainnya sependapat, mengatakan jumlah drone yang masuk ke wilayah udara Polandia membuat kecil kemungkinan itu sebuah kecelakaan. Salah satu drone merusak sebuah bangunan di wilayah timur Polandia, namun tidak ada laporan korban jiwa.
Tusk menegaskan tidak ada alasan untuk panik, namun mengatakan Polandia telah memanggil Pasal 4 NATO, meminta konsultasi resmi dengan aliansi. Pasal 4 baru digunakan tujuh kali sejak Nato berdiri pada 1949, terakhir pada 2022 segera setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha menyerukan negara tetangga untuk menembak jatuh rudal dan drone Rusia di atas wilayah udara Ukraina, khususnya di bagian barat negara itu dekat perbatasan dengan negara-negara NATO.
"Ukraina telah menyarankan langkah semacam itu sejak lama. Hal ini perlu dilakukan demi keamanan kolektif," ungkap Sybiha.
Sejauh ini negara-negara tetangga Ukraina menolak melakukannya karena khawatir berpotensi meningkatkan eskalasi dengan langsung terlibat melawan rudal dan drone Rusia.