Indonesia Kecam Serangan Israel ke Doha, Tegaskan Solidaritas bagi Qatar

Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB bertindak segera merespons serangan Israel ke Qatar.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 10 September 2025, 09:34 WIB
Asap membumbung dari sebuah ledakan, yang diduga akibat serangan Israel, di Doha, Qatar, pada Selasa, (9/9/2025). (Dok. UGC via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia mengecam serangan Israel yang menargetkan pimpinan Hamas di Doha, Qatar, pada Selasa (9/9/2025).

"Serangan Israel ke Doha, Qatar, pada 9 September 2025 merupakan pelanggaran keras terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB, pelanggaran terhadap kedaulatan Qatar, dan ancaman besar terhadap keamanan dan perdamaian kawasan," tegas Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) via platform media sosial X, Selasa.

"Serangan ini berisiko mengeskalasi dan memperluas konflik di kawasan. Indonesia mengecam agresi ini dan kembali mengulangi seruannya kepada Dewan Keamanan PBB untuk memenuhi mandatnya dengan mengambil langkah segera dan secara tegas menghentikan tindakan Israel dan menjamin akuntabilitas."

Lebih lanjut, Kemlu RI menyatakan, "Indonesia menegaskan kembali solidaritasnya terhadap pemerintah dan rakyat Qatar dan menekankan komitmennya untuk mendukung semua upaya diplomatis untuk mencapai penyelesaian adil, komprehensif, dan perdamaian berkelanjutan di Timur Tengah di bawah solusi dua negara."

Reaksi Hamas

Pimpinan Hamas sendiri selamat dari serangan Israel di ibu kota Qatar, Doha, namun sedikitnya enam orang tewas dalam peristiwa itu. Demikian menurut pernyataan resmi kelompok Palestina tersebut pada Selasa malam.

Menurut Hamas, serangan Israel dimaksudkan untuk menggagalkan pembicaraan pertukaran tahanan dan perundingan gencatan senjata atas perang di Gaza yang oleh kelompok itu disebut sebagai genosida. Serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 64.000 warga Palestina di Gaza.

"Hal ini sekali lagi mengungkapkan sifat kriminal pendudukan (Israel) dan keinginannya untuk merusak setiap peluang tercapainya kesepakatan," kata Hamas seperti dilansir Al Jazeera.

Hamas menggambarkan serangan Israel sebagai kejahatan keji, agresi terang-terangan, dan pelanggaran mencolok terhadap semua norma dan hukum internasional.

Kelompok itu mengonfirmasi bahwa sedikitnya enam orang, termasuk putra dan salah satu ajudan pemimpin Hamas Khalil al-Hayya, tewas dalam serangan Israel. Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan seorang petugas keamanan termasuk di antara korban tewas.

Anggota biro politik Hamas Suhail al-Hindi menyebut pemerintahan Amerika Serikat (AS) bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurut al-Hindi, para pemimpin Hamas sedang mengadakan pertemuan dengan pandangan positif terhadap proposal gencatan senjata terbaru dari AS untuk mengakhiri perang di Gaza.

Qatar Akan Merespons Serangan Israel

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump, mengecam serangan kriminal yang sembrono oleh Israel di Doha. Dalam pernyataannya pada Selasa, dia menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan keamanan negaranya.

Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyebut serangan Israel sebagai bentuk terorisme negara. Dia menekankan bahwa serangan itu tidak boleh diabaikan dan Qatar akan mengerahkan seluruh instrumen untuk meresponsnya, melampaui sekadar pernyataan dan kecaman. Langkah tersebut termasuk pembentukan tim hukum untuk menuntut Israel bertanggung jawab.

Sheikh Mohammed juga menyerukan persatuan negara-negara di Timur Tengah untuk mengekang Israel.

"Hari ini, kita telah mencapai titik balik agar ada respons dari seluruh kawasan terhadap perilaku barbar semacam ini," tegasnya.

Kantor Hamas didirikan di Qatar atas permintaan AS untuk memfasilitasi perundingan damai.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya