MRT Jakarta-Tangerang Bakal Dorong Pengembangan Kawasan TOD

Rencana perluasan rute MRT Koridor Timur ke Barat dinilai angin segar untuk memperkuat konektivitas antar wilayah.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 10 September 2025, 13:00 WIB
Rencana perluasan rute MRT Koridor Timur ke Barat, yang akan menghubungkan Gading Serpong di Tangerang dengan Jakarta, dinilai angin segar untuk memperkuat konektivitas antar wilayah.

Liputan6.com, Jakarta - Rencana perluasan rute MRT Koridor Timur ke Barat, yang akan menghubungkan Gading Serpong di Tangerang dengan Jakarta, dinilai angin segar untuk memperkuat konektivitas antar wilayah.

Sebab, untuk kawasan padat penduduk tersebut, keberadaan KRL, Transjakarta dan moda transportasi lainnya, belum mencukupi kebutuhan mobilitas masyarakatnya.

"Ini juga sekaligus mendorong pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD)," kata Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat, Rabu (10/9/2025).

Menurutnya, di wilayah Barat Jakarta, ada kawasan Summarecon Serpong yang menjawab tantangan ini. Kawasan ini tidak hanya sekedar hunian, namun juga menghadirkan konsep kota terpadu yang sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini dan selanjutnya.

Syarifah menjelaskan konsep kota terpadu atau integrated township dinilai sebagai arah baru pembangunan urban di Indonesia. Model ini menghadirkan efisiensi ruang dan waktu sekaligus menjawab tantangan perkotaan modern.

Pengembangan kawasan dengan fasilitas lengkap, mulai dari pusat perbelanjaan, sekolah, kampus, hingga ruang terbuka hijau, mampu menghadirkan efisiensi ruang dan waktu bagi masyarakat perkotaan.

“Model kota terpadu memungkinkan warga tinggal, bekerja, hingga beraktivitas dalam satu kawasan. Efisiensi ini penting untuk menjawab dinamika urban modern yang semakin kompleks,” katanya.

 

Mixed-Use Development

Rangkaian kereta MRT melintas menuju stasiun di Jakarta, Kamis (20/10/2022). Setelah penaikan pada 3 September 2022, rata-rata pengguna MRT per hari mengalami kenaikan rata-rata sebesar 3,8 persen dari 61.014 orang per hari menjadi 63.339 orang per hari. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lebih jauh, Syarifah menjelaskan, integrasi antara hunian, bisnis, pendidikan, dan ruang terbuka hijau merupakan implementasi prinsip mixed-use development yang menjadi tren global dalam tata kota modern.

Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya mempersingkat jarak tempuh, tetapi juga menekan emisi karbon dari transportasi.

“Dengan hunian yang dekat dengan pusat kerja dan pendidikan, mobilitas jarak jauh dapat ditekan. Ruang terbuka hijau juga menjadi penyeimbang ekologis sekaligus menjaga kualitas udara. Semua itu mengarah pada kota yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

Berkelanjutan

Sementara, Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengungkapkan sejalan dengan tren kota terpadu, Summarecon Serpong menekankan prinsip quality over quantity dalam setiap pengembangan kawasan.

Semua proyek dirancang untuk keberlanjutan jangka panjang, baik di sektor hunian maupun komersial. 

"Lokasi strategis kawasan ini menjadikannya bukan sekadar neighborhood, melainkan pusat bisnis regional. Dengan infrastruktur modern, ini akan menopang pertumbuhan usaha dan kualitas hidup masyarakat," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya