Liputan6.com, Jakarta Menyusul tingginya harga beras di ritel modern, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait perbedaan kategori beras.
Ketua YLKI, Niti Emiliana, menyebut banyak konsumen keliru menganggap beras yang beredar sebagai beras premium, padahal sebenarnya beras tersebut masuk kategori khusus.
Advertisement
“Banyak konsumen mengira harga beras premium melonjak. Padahal yang saat ini mendominasi di ritel modern adalah beras khusus, bukan premium,” kata Niti di Jakarta, Rabu (3/9/2025).
Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya menyebutkan bahwa beras yang dijual di ritel modern sebagian besar adalah beras khusus. Berbeda dengan beras medium dan premium, harga beras khusus tidak diatur dalam kebijakan pemerintah.
Saat ini, beras khusus dijual dengan harga Rp90.000–130.000 per 5 kilogram, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) beras premium yang ditetapkan Rp74.500.
Jenis Beras
Jenis beras khusus yang paling banyak beredar adalah beras fortifikasi, yakni beras yang diperkaya zat gizi mikro seperti zat besi, asam folat, dan vitamin lain untuk mencegah stunting serta kekurangan gizi. Secara sederhana, meski tampilan fisiknya bisa menyerupai beras medium atau premium, tambahan gizi buatan membuatnya berbeda kategori.
YLKI menilai edukasi publik menjadi kunci agar konsumen memahami informasi tersebut dan tidak salah persepsi.
“Transparansi harga, label, dan distribusi harus jelas. Konsumen berhak tahu apa yang mereka beli,” tegas Niti.
YLKI juga mendorong pemerintah untuk memastikan pasokan beras medium dan premium tetap lancar di pasaran, sehingga masyarakat memiliki alternatif pilihan dengan harga sesuai aturan.
Stok Beras Aman, Persoalan Ada di Distribusi
Niti menambahkan, ketersediaan beras di pasar tradisional relatif aman dengan harga stabil. Menurutnya, persoalan utama bukan pada produksi, melainkan distribusi beras di jalur ritel modern.
“Bulog sudah menyalurkan beras SPHP, hanya distribusinya belum merata. Begitu juga beras premium yang semakin jarang terlihat di ritel. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.
(*)